Sabtu, 08 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 8


Ternyata Ayah itu benar, dunia kerja media itu tidak hanya berisi kegaduhan orang-orang yang memburu berita saja, atau editor yang berkejaran dengan waktu, redaktur dan pemimpin redaksi yang selalu pusing dengan edisi-edisi yang harus siap terbit. Ternyata kehidupan pelakunya juga riuh rendah dengan kehidupan pribadi yang nggak pernah habis.

Soal kamu, sampai sekarang belum beres juga. Begitu kemarin ramai-ramai di Path berisi cerita tentang orang tua yang kehilangan anaknya yang berusia 1 tahun 10 bulan karena menderita radang paru-paru akut akibat sisa-sisa nikotin yang melekat di baju Ayahnya, saya jadi ingat kamu yang waktu itu bilang ingin berhenti merokok, tapi susah. Saya ingat kamu yang tiba-tiba nyeletuk sedang mengurangi rokok. Malah saya tidak ingin melihat kamu merokok lagi sejak itu. Dan, akhirnya, saya lebih mengkhawatirkanmu soal ini, walaupun cuma sebatang, ketimbang persoalan kamu menghilang karena sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

Balik lagi soal kamu yang hilang, untuk pertama kalinya saya merasa sangat sulit bicara dengan kamu. “Are you hiding something?” Berkali-kali saya cari tahu, saya semakin tidak mengerti kenapa kamu hilang. Setelah senin sore itu, saya merasa itu adalah komunikasi terakhir saya dengan kamu. Saya sebenarnya murung, tapi tidak mungkin bertanya kenapa kamu tidak pernah lagi menyapa saya. Curiga saya, kamu sedang sibuk dengan pertandingan basketmu di Kanwil, juga berbagai persiapanmu untuk resign. Tapi saya tidak mau bersangka-sangka dulu. Semoga kamu menghilang tidak lama.

Oh ya, baru kali ini, saya merasa benar-benar tidak punya tenaga di depan orang lain. “Apa yang sedang terjadi di diri saya?” Saya nggak ngerti. Saya merasa separuh pikiran saya ikut hilang. Beberapa waktu yang lalu, saya merasa sangat dekat dengan kamu, tapi setelah itu kamu kelihatan penuh rahasia dan penuh strategi. Mungkin keyakinan saya benar, kamu tidak akan bisa membiarkan dirimu dibagikan sepenuhnya ke orang lain. Akan ada beberapa titik di dalam diri kamu yang nggak bisa disentuh oleh siapapun.

Mungkin ini pertanyaan bodoh dari saya, sebenarnya bagaimana sih kita tahu orang yang tepat untuk kita itu yang mana? Apakah berdasarkan getar hati setiap kali ketemu? Atau berdasarkan pertemuan yang begitu kerap?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar