Kamis, 17 April 2014

Memberitahumu


Saya akan memberitahumu cara mencintai diam-diam.
Yang tidak perlu semua orang tahu, dan tidak perlu kamu tahu.
Namun setia membacamu yang sibuk mencari ke sana-sini, mana yang paling kamu sukai.

Saya akan memberitahumu cara mendoakan dari jauh.
Ditemani gelap malam-malam terakhir lalu meminta agar nasib berbaik hati padamu.
Hingga kamu bisa hidup lebih bahagia, merayakan berkali-kali kemudian hari ulang tahunmu dengan keheningan, tanpa pesta pora, tetapi penuh syahdu.

Seperti dirimu.

Jumat, 04 April 2014

Saya Ingin Banyak Bertanya


Seharusnya, kehilangan tidak perlu menjadi hal yang menakutkan. Banyak orang mengakui, dari setiap kehilangan, bukan dia-yang-bersangkutan yang membuat perbedaan menjadi terasa. Tetapi, kebiasaan yang sebelumnya dilakukan bersama, kini hilang dengan kepergian orang tersebut. Yang benar, dan jika mampu, kehilangan tidak perlu ditakutkan karena tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi setelahnya.

Kali ini, saya belajar banyak – juga berkali-kali dari kamu. Kehilangan yang sementara sebelum akhirnya kamu kembali dengan wajah sumringah seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah saya tidak pernah mencari barang sedetik saja dalam hidupmu. Lalu kehilangan yang tiba-tiba meski sebenarnya kedatanganmu persis sama dengan cara kamu menghilang. Tiba-tiba.

Tetapi, sekali lagi, bukan kepergianmu, melainkan kekosongan yang hadir karena kamu tidak lagi ada. Yang membuat hilang menjadi semakin dekat dan menawarkan diri untuk dibenci. Hal yang terlanjur terjadi, kebiasaan-kebiasaan yang menjadikanmu ada, yang membuat saya terenggut seolah kamu benar-benar menjadi bagian keseluruhan hidup ini.

Tentu ada marah dan benci, tetapi hanya untuk bait-bait kesunyian yang tercipta setelah kamu pergi. Bait yang membuat saya menjadi asing nyaris tidak dapat diterima. Karena yang terjadi di dalam hati, ialah tidak akan pernah ada ikhlas sebab saya tidak pernah sekalipun belajar bagaimana melepaskan. Dan tidak pernah pula saya temukan cara yang benar-benar baik untuk melepaskan orang lain pergi jika bukan dengan dipaksa kemudian melupakannya.

Saya tidak ingin menyebutkan namamu di sini. Tetapi gantinya, saya ingin banyak bertanya. Apakah kamu mengerti, bagaimana saya berusaha untuk tidak mencari? Apakah kamu mengerti, bahwa setelah kehilangan, ternyata banyak tempat yang jadi membosankan dan membuat saya mengeluh? Apakah kamu mengerti, bahwa saya khawatir karena tidak satupun nasib mampu memberi kepastian bahwa kamu dalam keadaan baik-baik saja, tidak sedang muram, dan masih dapat sedikit saja tertawa? Meskipun jawaban-jawabannya hanyalah hal mustahil yang akhirnya harus saya pahami sendirian.



Untuk, B.

Minggu, 02 Maret 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 30


Setelah tiga puluh hari menjajak dalam pikiran. Akhirnya saya kelelahan sendiri, akhirnya saya menjadi hanya-mengetahui-namamu dari jauh. Padahal sampai hari ini, sebenarnya, kamu seperti sudah membangun taman di dalam hati.

Seperti taman, kamu seolah memiliki kubik-kubik kecil yang berisi bermacam-macam jenis tanaman karaktermu. Berbeda satu kubik dengan kubik lainnya. Kamu tanamkan juga rerumputan yang terhampar luas di taman, menyusun banyak keindahan namun penuh kekosongan. Tamanmu terlalu luas untuk ditempati hanya oleh satu pribadi yang mungkin mengagumimu.

Mungkin kamu sendiri yang menuntun saya bermain di hamparan tamanmu yang luas. Sungguh sangat menyenangkan rasanya, menikmati berbagai aroma bunga dari tubuhmu yang ramping kekurusan, pemandangan yang kamu sajikan dalam senyum dan canda, kata-kata sejukmu yang membasuh lelah, juga langit malam yang kamu antarkan untuk saya di taman. Kalau saja, hal itu bisa terjadi setiap hari, mungkin saya tidak perlu bermimpi lagi.

Bila suatu hari, entah pagi, entah siang, entah senja atau malam, kita bertemu lagi, jangan ragu untuk mengajak saya bicara dan membuat saya tertawa. Bila suatu hari kita bertautan lagi, saya akan membuatkanmu kopi panas di taman milikmu sendiri dan kita nikmati hingga pagi datang, hingga tanpa sadar kita terkejut karena matahari terbit dan fajar menghilang tiba-tiba.



Akhirnya, surat ini saya tutup dari ujung tamanmu. Karena pagi yang sebenarnya sudah datang meski kamu tidak ada. Meski sebenarnya kehadiranmu selalu menjadi kemauan saya.