Selasa, 30 Oktober 2012

Untuk M. Irfan Ramly


Hai, laki-laki penikmat kopi hitam. Terima kasih untuk sajak pada halaman ‘Sajak Sepeda Malam’ yang kamu tujukan pada saya. Saya kutip seluruh kata-kata, kemudian hening karena tidak tahu harus bicara apa. Dan inilah, dari Mas Ipang, begitu saya biasa memanggilnya.


aku menyukai kebersamaan-kebersamaan kita

aku menyukai lampu-lampu jalan
juga suara gaduh yang datang dari pengendara motor yang kebut-kebutan
aku menyukai saat tukang sate padang datang menghatarkan pesananku
waktu itu kamu duduk di sampingku.

aku menyukai banyak hal
apa-apa yang kita obrolkan
perkara-perkara yang membuat dahimu berkerut
kadang aku ingin memintamu untuk tidak banyak berfikir, tapi aku urung.

bila aku bisa mendengar detak langkahmu
sedang detak langkahku sendiri tidak mampu aku dengar
percayalah aku sedang melebur dalam lamunan
melamunkan kamu yang terlalu cerewet dan tiada henti bertanya. rupa-rupa.

aku menyukai saat kita diam
saat kamu sibuk mematut-matutkan wajahmu ke layar ponsel
dan aku pura-pura serius menghitung jumlah puntung rokok yang tersebar
aku menyukai saat itu. saat aku bisa diam-diam mencuri pandang pada ujung rambutmu yang ikal.

aku menyukai saat kamu panik ketika ada segerombolan pengamen waria yang datang
lekas-lekas kamu memintaku mengeluarkan berapapun uang yang aku punya supaya mereka lekas pergi
ketika kita diam, aku diam-diam mendoakan waria-waria itu datang lagi
saat itu aku akan pura-pura tak melihat, tak menggubris sampai kamu gemas dan menarik ujung kemejaku. saat itu aku pasti tertawa–memasktikan kamu bingung dan tertawa kemudian. kita.


Mas Ipang, saya hampir larut membaca puasimu. Berkaca-kaca karena kamu banyak berdoa diam-diam. Terlebih karena kamu menyukai tiap-tipa kebersamaan kita. Maaf, hari itu aku datang terlambat dan membuatmu menunggu terlalu lama. Oh iya, jika setelah membaca ini, kamu menganggap bahwa ini merupakan balasan, saya saya tidak setuju. Sebab tidak akan ada balasan yang pantas dari seorang saya yang tidak jago membuat puisi untuk membalas kata-katamu.

Malam itu, sebenarnya, waktu sudah berteriak-teriak meminta saya berhenti menghadap layar sekian belas inchi. Bagian dari tubuh saya juga begitu. Meminta saya merebahkan seluruh badan. Pinggang malam itu rasanya sudah panas, seperti disiram air yang baru saja mendidih. Jari-jari tangan apalagi, rasanya sudah tidak karuan. Jangankan untuk mengetik beberapa bait kata, untuk say hello di linimasa pun rasanya sudah tak bisa. Apalagi? Mata? Hati? Sudah-sudah. Semuanya sudah pada puncak kelelahannya.

Saya matikan kotak hitam yang menjadi jendela dunia di kamar saya. Saya gerakkan pointer menuju start-shut down lalu melipatnya. Rapi, di tempatnya. Benda ini sudah mati, sekarang, saatnya saya yang mematikan sementara proses kehidupan ini. Merebahkan badan. Harapannya, bisa langsung tidur pas tengah malam itu juga. Tidak lagi tergoda bunyi kentrang-kentring Backberry, atau bunyi cetak-cetuk mention yang masuk.
Tetapi, kamu meminta lain. Saya yang sudah siap tidur, diminta untuk kembali menyalakan laptop yang sudah mati dari tadi. “Coba dilihat, barusan aku share link sesuatu di twitter.” Pertanyaan pertama yang muncul adalah, apakah ini perintah, atau …

“Laptop baru saja mati, Mas. Aku sudah mau tidur,” saya membalas dalam pesan blackberry malam itu. Kamu, lagi-lagi mengeluarkan khasmu yang hanya sepatah-patah kata. Hah-hih! Hah-hih! di blackberry messenger.

Kali ini sudah tanpa terpaksa, tetapi penasaran. Kamu, yang seisi kepalamu penuh dengan hal-hal yang tidak banyak saya tahu, biasanya memberikan kejutan-kejutan informasi yang membuat saya berusaha menghabiskan satu buku-minimal untuk sekedar menyamai pengetahuanku denganmu. Walaupun selalu gagal, malam itu saya penasaran. Link tentang novel yang bagus atau KUHAP dan KUHP, dalam hati saya.

Ternyata bukan. Sesuatu yang manisdari Mas Ipang itu sedang saya baca, ternyata. Butuh waktu beberapa menit untuk menyadari bahwa ‘kamu’ yang ada di dalam tulisan itu adalah saya. Saya membacanya sekali lagi. Berusaha menyelami kata demi kata yang tampaknya cetek, tapi ternyata dalam.

Mas Ipang, malam itu, saya menikmati, apa-apa yang kamu sajikan. Cerita yang hangat, lengkap dan penuh teka-teki. Yang membuat saya bolak-balik mencari kebenaran atas apa-apa yang kamu ceritakan. Isi kepalamu, serupa buku tanpa sampul dan tanpa halaman. Hanya berisi kata-kata yang begitu ingin saya baca.

Saya juga menikmati minuman-minuman yang kamu pesan malam itu, yang pada akhirnya saya minum juga. Dua minum yang berbeda untuk menemanimu bercerita. Dan buku-buku yang kamu bawa. Yang kamu bacakan, yang kamu rekomendasikan. Seperti biasa. Saya juga menikmati saat-saat di mana asap rokok yang saya benci menjadi teman karena kamu yang membakarnya.

Ceritamu yang tidak habis-habis, dan pertanyaan saya yang beruntun terus menerus, membuat satu jam-dua jam tidak pernah cukup untuk kita. Saya membenci waktu ketika saya mulai gelisah memperhatikan jarum jam di tangan saya sendiri. Saya benci ketika saya tahu, saya harus pulang. Saya benci, ketika saya harus menghentikan percakapan yang dibuka oleh sate padang itu. Saya juga (sebenarnya) benci, ketika harus berjalan sampai di depan rumah sendiri.

Jika kamu menyukai kebersamaan-kebersamaan kita, maka saya sangat menyukai ketika kamu meleburkan diri dalam lamunan untuk sekedar melamunkan diri saya yang terlalu banyak bicara dan tidak henti bertanya. Dan jika kamu, sekali lagi, jika kamu menyukai kebersamaan-kebersamaan kita, maka saya membenci perpisahan yang kita buat sendiri dari pertemuan-pertemuan lagi.



Tertanda, aku.

Seseorang yang terus penasaran, bagaimana sih sebenarnya kamu kepada saya? Selalu menyenangkan, selalu membawakan apa yang saya suka. Pernah datang pukul empat pagi hanya untuk menemui saya. Tetapi, kamu tidak pernah mengatakan apa-apa.

Jumat, 12 Oktober 2012

Eatology



Saya takjub, ada seseorang yang pandai sekali membaca pikiran saya. Dia mengetahui, buku-buku apa saja yang menjadi kesukaan saya. Terima kasih M. Irfan Ramly.