Diantara sunyi
pagi ini, saya coba menyatukan kata-kata yang mungkin tidak akan saya sampaikan
langsung ke hadapanmu. Mungkin bagi kamu, menulis surat untukmu sangat aneh.
Tapi, inilah cara saya mengirimkan sebentuk doa. Dari kejauhan, dan dengan
sembunyi-sembunyi di balik rasa angkuh, saya ucapkan selamat berulang tahun.
Hari ini adalah
hari jadimu, hari kelahiranmu dan tentunya, kamu pasti sangat bahagia tiap kali
mengulang hari ini. Tetapi hari ini pun, hari milik saya dan kebahagiaanmu,
yang kali ini mendampingimu setulus-tulusnya. Kamu sendiri pasti tahu, seorang
yang ikut berbahagia denganmu, dahulu menjadi satu-satunya tempat saya
mencurahkan segala rasa. Di bahunya dulu saya pernah bersandar. Lalu kita rebah
bersama membangun mimpi-mimpi yang nyaris sempurna. Melipat kejauhan menjadi
sejengkal jarak. Menari-nari di atas ombak yang kala itu perahunya sedang kita
dayung bersama. Saya pernah jatuh bersama dengannya. Saya juga pernah jatuh
sedang dia tetap di perah kita. Pun sebaliknya. Dia pernah jatuh, lalu saya
membantunya untuk kembali ketempatnya semula. Tempat yang menjadi kerajaannya.
Demi seorang
yang sedang berbahagia di hari jadimu. Saya menggantungkan baju pelindung
serupa akhiran nama untukmu. Apa yang dulu saya kenakan, kini kamu kenakan
juga. Apa yang dulu saya miliki, sekarang kamu miliki juga. Dihari ulang
tahunmu, semua yang pernah berada ditempat saya, saya pindahkan. Apa-apa yang dulu sulit saya lepaskan, hari
ini saya tinggalkan. Bukan semata untukmu, tetapi untuknya.
Yang saya panjatkan
pagi ini adalah doa semoga kamu tidak pernah menyakitinya. Saya memilih hari ini
menjadi hari saya mengikhlaskannya sebab di hari yang sama, saya dan seorang
yang kini disampingmu pernah sama-sama berbahagia untuk untuk saya, tetapi saya
menyakitinya. Tolong jangan pernah mengulangi itu. Dan bahagiakannya.
Sebab dahulu, saya
tidak sempat melakukan untuknya. Mungkin dulu saya lupa, atau malah saya tidak
tahu. Dulu saya menyakitinya hingga dia meregang. Dan maaf, sekarang itu
menjadi tugasmu; untuk mengobati lukanya sekaligus menghilangkan bekas-bekasnya.
Kepada, wanita yang tidak saya ketahui isi hatinya, saya titipkan doa, bahagia,
sekaligus cinta yang selamanya. Saya berikan seluruhnya, seutuhnya.

