Jumat, 21 Februari 2014

Kenapa Jilbab?

Seorang teman bertanya, kenapa tiba-tiba saya memutuskan pakai jilbab. Tiba-tiba sekali. Kemarin masih jalan pakai hot pants dengan tali bra yang kelihatan ke mana-mana, besoknya sudah rapi, tertutup dengan pakaian panjang menutupi aurat. Lalu di depan teman saya itu, saya bilang, “gak tahu, tiba-tiba pingin pakai, yasudah, pakai.”

Mikir panjang nggak? Jelas mikir, panjang sekali. Alasannya, pertama, karena saya pernah berjilbab, lalu memutuskan lepas lagi. Jadi, tahun 2010 lalu, saya pernah berjilbab. Waktu itu dorongan terbesar saya adalah ingin menyenangkan hati banyak orang, terutama Lucky yang ketika itu menjadi pacar saya. Ya, dia suka sekali melihat wanita berjilbab. Adem, katanya. Memang secara langsung dia tidak pernah meminta saya mengenakan jilbab, tetapi hati kecil selalu ingin menyenangkan orang-orang yang saya sayangi. Pacar saya, Ibu saya, Ayah saya.

Setahun kemudian, setelah saya putus dengan Lucky, saya merasa, tidak perlu lagi menyenangkan hati manusia satu itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk melepaskan hijab saya. Malu? Ya. Tapi saya punya kepentingan untuk menyenangkan diri saya sendiri pada saat itu. Masih ingin terlihat modis dengan buka-bukaan. Setelah lepas, rasanya saya lebih parah berpakaian pada saat itu. Jadi lebih senang pamer paha, lebih senang pamer belahan dada, lebih senang pamer lengan.

Sampai pada akhirnya saya tahu, di mana letak kesalahan saya. Menjadi fatal karena saat itu niat saya berjilbab adalah ingin menyenangkan hati banyak orang. Bukan semata karena Allah Ta’ala. Makanya begitu saya lepas kembali jilbab itu, saya seperti balas dendam buka-bukaan. Hampir satu tahun saya menjalani hal itu. Ketika ada teman bertanya mengapa saya melepas jilbab, dengan santai akan saya jawab, “namanya juga iman manusia, ada pasang ada surutnya.” Dan menganggap hal itu biasa saja. Saya tidak memikirkan ada Mama dan Ayah yang sedang memendam luka melihat saya seperti ini. Tapi bersyukur, kedua orang tua saya sangat demokratis, selama tidak menyakiti dan melawan aturan, Mama dan Ayah hampir tidak masalah. Itu sebatas apa yang saya lihat. Tetapi dalamnya hati tetap tidak terukur kan, ya?

2012 pertengahan, bulan juni tepatnya, saya membaca sebuah pesan. Dari social media, barang siapa seorang perempuan melangkah satu langkah keluar rumah tanpa mengenakan hijab, maka Ayahnya satu langkah mendekati pintu neraka. Lalu saya cari tahu, kenapa bisa begitu? Ternyata itu adalah sebuah konsekuensi dari kewajiban seorang muslim. Sama halnya dosa bagi orang yang munafik, dosa bagi orang yang membunuh, dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajiban sholat, juga dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajibannya berpuasa.

Sebab bagi perempuan, menutup aurat adalah wajib hukumnya. Dan tidak akan gugur oleh kewajiban-kewajiban yang lain, atau perkembangan zaman, atau kepentingan seperti misalnya ada beberapa kantor yang melarang karyawan perempuannya memakai jilbab. Lantas dengan alasan kemanusiaan, kewajibab perempuan berjilbab itu akankah hilang? Tidak.

Maka dari saya membaca hadist tentang konsekuensi berjilbab, dan ayat-ayat dalam al-qur’an, akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Sederhananya, saya sangat menyayangi kedua orang tua saya. Ayah saya salah satunya. Dunia ini saja saya belum tentu bisa menyenangkan hatinya, mana mungkin saya berani memperkarakan Ayah saya di hadapan Allah ketika di akhirat nanti hanya karena saya luput menjalankan kewajibannya sebagai perempuan pemeluk agama islam. Itu yang menjadi pegangan saya. Bismillah lillahi ta’ala, saya akan menjalankan ini hanya untuk mencari ridha Allah.

Alasan yang lain lagi adalah karena saya harus berterima kasih kepada Allah. Saya memang belum pernah bisa selesai mengukur nikmat yang Allah berikan pada saya. Selalu saya gagal menghitung berapa banyak. Makanya, satu-satunya cara saya bersyukur adalah dengan menjalankan kewajibannya. “Apalagi yang mau saya cari?” “Kalau bukan sekarang, kapan lagi mau berterima kasih?” Dua kalimat pusaka, yang akhirnya membuat saya tidak berpikir panjang.

Bagaimana dengan paradigm banyak perempuan yang bilang, lebih baik menjilbabkan hati dulu, baru menjilbabkan kepala? Sah-sah saja. Itu hak mereka ingin berbicara seperti apapun. Tetapi, saya pun memiliki pendapat sendiri. Bahwa hati dan aurat adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang lain tidak dapat menembus sampai ke dalam hati kita dengan panca inderanya. Terutama bagi yang bukan muhrim. Jadi tidak mungkin ada dosa yang lahir karena ada laki-laki melihat hati perempuan lain. Tetapi sebaliknya, berdosalah laki-laki yang melihat aurat perempuan yang bukan muhrimnya. Sesimpel itu car berpikir saya.

Bagaimana dengan perempuan berjilbab dan merokok? Hampir sama dengan jawaban saya sebelumnya. Jilbab dan rokok adalah dua attribute yang sangat berbeda baik secara hukum syariatnya maupun kedudukannya. Jilbab dan rokok memiliki hukum yang berdiri sendiri pada al-qur’an. Tidak berhubungan, tidak ada sangkut pautnya. Jadi, piciklah mereka yang berpikir bahwa jilbab dan rokok sebaiknya memiliki hukum yang berhubungan. Jika diarahkan pada untuk member contoh baik atau buruk, bisa jadi. Di luar itu, keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa. Sesederhana itu sebenarnya. Jadi, kamu kapan mau berjilbab? Hehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar