Seorang teman
bertanya, kenapa tiba-tiba saya memutuskan pakai jilbab. Tiba-tiba sekali.
Kemarin masih jalan pakai hot pants dengan tali bra yang kelihatan ke
mana-mana, besoknya sudah rapi, tertutup dengan pakaian panjang menutupi aurat.
Lalu di depan teman saya itu, saya bilang, “gak tahu, tiba-tiba pingin pakai,
yasudah, pakai.”
Mikir panjang
nggak? Jelas mikir, panjang sekali. Alasannya, pertama, karena saya pernah
berjilbab, lalu memutuskan lepas lagi. Jadi, tahun 2010 lalu, saya pernah
berjilbab. Waktu itu dorongan terbesar saya adalah ingin menyenangkan hati
banyak orang, terutama Lucky yang ketika itu menjadi pacar saya. Ya, dia suka
sekali melihat wanita berjilbab. Adem, katanya. Memang secara langsung dia
tidak pernah meminta saya mengenakan jilbab, tetapi hati kecil selalu ingin
menyenangkan orang-orang yang saya sayangi. Pacar saya, Ibu saya, Ayah saya.
Setahun
kemudian, setelah saya putus dengan Lucky, saya merasa, tidak perlu lagi
menyenangkan hati manusia satu itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk melepaskan
hijab saya. Malu? Ya. Tapi saya punya kepentingan untuk menyenangkan diri saya
sendiri pada saat itu. Masih ingin terlihat modis dengan buka-bukaan. Setelah
lepas, rasanya saya lebih parah berpakaian pada saat itu. Jadi lebih senang
pamer paha, lebih senang pamer belahan dada, lebih senang pamer lengan.
Sampai pada
akhirnya saya tahu, di mana letak kesalahan saya. Menjadi fatal karena saat itu
niat saya berjilbab adalah ingin menyenangkan hati banyak orang. Bukan semata
karena Allah Ta’ala. Makanya begitu saya lepas kembali jilbab itu, saya seperti
balas dendam buka-bukaan. Hampir satu tahun saya menjalani hal itu. Ketika ada
teman bertanya mengapa saya melepas jilbab, dengan santai akan saya jawab, “namanya
juga iman manusia, ada pasang ada surutnya.” Dan menganggap hal itu biasa saja.
Saya tidak memikirkan ada Mama dan Ayah yang sedang memendam luka melihat saya
seperti ini. Tapi bersyukur, kedua orang tua saya sangat demokratis, selama
tidak menyakiti dan melawan aturan, Mama dan Ayah hampir tidak masalah. Itu
sebatas apa yang saya lihat. Tetapi dalamnya hati tetap tidak terukur kan, ya?
2012
pertengahan, bulan juni tepatnya, saya membaca sebuah pesan. Dari social media,
barang siapa seorang perempuan melangkah satu langkah keluar rumah tanpa
mengenakan hijab, maka Ayahnya satu langkah mendekati pintu neraka. Lalu saya
cari tahu, kenapa bisa begitu? Ternyata itu adalah sebuah konsekuensi dari
kewajiban seorang muslim. Sama halnya dosa bagi orang yang munafik, dosa bagi
orang yang membunuh, dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajiban sholat,
juga dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajibannya berpuasa.
Sebab bagi
perempuan, menutup aurat adalah wajib hukumnya. Dan tidak akan gugur oleh
kewajiban-kewajiban yang lain, atau perkembangan zaman, atau kepentingan
seperti misalnya ada beberapa kantor yang melarang karyawan perempuannya
memakai jilbab. Lantas dengan alasan kemanusiaan, kewajibab perempuan berjilbab
itu akankah hilang? Tidak.
Maka dari saya
membaca hadist tentang konsekuensi berjilbab, dan ayat-ayat dalam al-qur’an,
akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Sederhananya, saya sangat menyayangi
kedua orang tua saya. Ayah saya salah satunya. Dunia ini saja saya belum tentu
bisa menyenangkan hatinya, mana mungkin saya berani memperkarakan Ayah saya di
hadapan Allah ketika di akhirat nanti hanya karena saya luput menjalankan
kewajibannya sebagai perempuan pemeluk agama islam. Itu yang menjadi pegangan
saya. Bismillah lillahi ta’ala, saya akan menjalankan ini hanya untuk mencari
ridha Allah.
Alasan yang lain
lagi adalah karena saya harus berterima kasih kepada Allah. Saya memang belum
pernah bisa selesai mengukur nikmat yang Allah berikan pada saya. Selalu saya
gagal menghitung berapa banyak. Makanya, satu-satunya cara saya bersyukur
adalah dengan menjalankan kewajibannya. “Apalagi yang mau saya cari?” “Kalau
bukan sekarang, kapan lagi mau berterima kasih?” Dua kalimat pusaka, yang
akhirnya membuat saya tidak berpikir panjang.
Bagaimana dengan
paradigm banyak perempuan yang bilang, lebih baik menjilbabkan hati dulu, baru
menjilbabkan kepala? Sah-sah saja. Itu hak mereka ingin berbicara seperti
apapun. Tetapi, saya pun memiliki pendapat sendiri. Bahwa hati dan aurat adalah
dua hal yang sangat berbeda. Orang lain tidak dapat menembus sampai ke dalam
hati kita dengan panca inderanya. Terutama bagi yang bukan muhrim. Jadi tidak
mungkin ada dosa yang lahir karena ada laki-laki melihat hati perempuan lain.
Tetapi sebaliknya, berdosalah laki-laki yang melihat aurat perempuan yang bukan
muhrimnya. Sesimpel itu car berpikir saya.
Bagaimana dengan
perempuan berjilbab dan merokok? Hampir sama dengan jawaban saya sebelumnya.
Jilbab dan rokok adalah dua attribute yang sangat berbeda baik secara hukum
syariatnya maupun kedudukannya. Jilbab dan rokok memiliki hukum yang berdiri
sendiri pada al-qur’an. Tidak berhubungan, tidak ada sangkut pautnya. Jadi,
piciklah mereka yang berpikir bahwa jilbab dan rokok sebaiknya memiliki hukum
yang berhubungan. Jika diarahkan pada untuk member contoh baik atau buruk, bisa
jadi. Di luar itu, keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa. Sesederhana itu
sebenarnya. Jadi, kamu kapan mau berjilbab? Hehehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar