Kamis, 17 April 2014

Memberitahumu


Saya akan memberitahumu cara mencintai diam-diam.
Yang tidak perlu semua orang tahu, dan tidak perlu kamu tahu.
Namun setia membacamu yang sibuk mencari ke sana-sini, mana yang paling kamu sukai.

Saya akan memberitahumu cara mendoakan dari jauh.
Ditemani gelap malam-malam terakhir lalu meminta agar nasib berbaik hati padamu.
Hingga kamu bisa hidup lebih bahagia, merayakan berkali-kali kemudian hari ulang tahunmu dengan keheningan, tanpa pesta pora, tetapi penuh syahdu.

Seperti dirimu.

Jumat, 04 April 2014

Saya Ingin Banyak Bertanya


Seharusnya, kehilangan tidak perlu menjadi hal yang menakutkan. Banyak orang mengakui, dari setiap kehilangan, bukan dia-yang-bersangkutan yang membuat perbedaan menjadi terasa. Tetapi, kebiasaan yang sebelumnya dilakukan bersama, kini hilang dengan kepergian orang tersebut. Yang benar, dan jika mampu, kehilangan tidak perlu ditakutkan karena tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi setelahnya.

Kali ini, saya belajar banyak – juga berkali-kali dari kamu. Kehilangan yang sementara sebelum akhirnya kamu kembali dengan wajah sumringah seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah saya tidak pernah mencari barang sedetik saja dalam hidupmu. Lalu kehilangan yang tiba-tiba meski sebenarnya kedatanganmu persis sama dengan cara kamu menghilang. Tiba-tiba.

Tetapi, sekali lagi, bukan kepergianmu, melainkan kekosongan yang hadir karena kamu tidak lagi ada. Yang membuat hilang menjadi semakin dekat dan menawarkan diri untuk dibenci. Hal yang terlanjur terjadi, kebiasaan-kebiasaan yang menjadikanmu ada, yang membuat saya terenggut seolah kamu benar-benar menjadi bagian keseluruhan hidup ini.

Tentu ada marah dan benci, tetapi hanya untuk bait-bait kesunyian yang tercipta setelah kamu pergi. Bait yang membuat saya menjadi asing nyaris tidak dapat diterima. Karena yang terjadi di dalam hati, ialah tidak akan pernah ada ikhlas sebab saya tidak pernah sekalipun belajar bagaimana melepaskan. Dan tidak pernah pula saya temukan cara yang benar-benar baik untuk melepaskan orang lain pergi jika bukan dengan dipaksa kemudian melupakannya.

Saya tidak ingin menyebutkan namamu di sini. Tetapi gantinya, saya ingin banyak bertanya. Apakah kamu mengerti, bagaimana saya berusaha untuk tidak mencari? Apakah kamu mengerti, bahwa setelah kehilangan, ternyata banyak tempat yang jadi membosankan dan membuat saya mengeluh? Apakah kamu mengerti, bahwa saya khawatir karena tidak satupun nasib mampu memberi kepastian bahwa kamu dalam keadaan baik-baik saja, tidak sedang muram, dan masih dapat sedikit saja tertawa? Meskipun jawaban-jawabannya hanyalah hal mustahil yang akhirnya harus saya pahami sendirian.



Untuk, B.

Minggu, 02 Maret 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 30


Setelah tiga puluh hari menjajak dalam pikiran. Akhirnya saya kelelahan sendiri, akhirnya saya menjadi hanya-mengetahui-namamu dari jauh. Padahal sampai hari ini, sebenarnya, kamu seperti sudah membangun taman di dalam hati.

Seperti taman, kamu seolah memiliki kubik-kubik kecil yang berisi bermacam-macam jenis tanaman karaktermu. Berbeda satu kubik dengan kubik lainnya. Kamu tanamkan juga rerumputan yang terhampar luas di taman, menyusun banyak keindahan namun penuh kekosongan. Tamanmu terlalu luas untuk ditempati hanya oleh satu pribadi yang mungkin mengagumimu.

Mungkin kamu sendiri yang menuntun saya bermain di hamparan tamanmu yang luas. Sungguh sangat menyenangkan rasanya, menikmati berbagai aroma bunga dari tubuhmu yang ramping kekurusan, pemandangan yang kamu sajikan dalam senyum dan canda, kata-kata sejukmu yang membasuh lelah, juga langit malam yang kamu antarkan untuk saya di taman. Kalau saja, hal itu bisa terjadi setiap hari, mungkin saya tidak perlu bermimpi lagi.

Bila suatu hari, entah pagi, entah siang, entah senja atau malam, kita bertemu lagi, jangan ragu untuk mengajak saya bicara dan membuat saya tertawa. Bila suatu hari kita bertautan lagi, saya akan membuatkanmu kopi panas di taman milikmu sendiri dan kita nikmati hingga pagi datang, hingga tanpa sadar kita terkejut karena matahari terbit dan fajar menghilang tiba-tiba.



Akhirnya, surat ini saya tutup dari ujung tamanmu. Karena pagi yang sebenarnya sudah datang meski kamu tidak ada. Meski sebenarnya kehadiranmu selalu menjadi kemauan saya. 

Sabtu, 01 Maret 2014

All Of Me

What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
Got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright

My head's underwater
But I'm breathing fire
You're crazy and I'm out of my mind

Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing in my head for you

My head's underwater
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you,oh
Give me all of you

Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard

Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
Cause I give you all of me
And you give me all of you

I give you all of me
And you give me all of you.


By: John Legend

#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 29


Saya mulai mengerti hal-hal yang kamu batasi dalam setiap pembicaraan kita. Ketika kamu memberi saya alasan kenapa kamu kebablasan tidur padahal baru saja semenit yang lalu kamu bertanya, atau ketika kamu membalas pesan hanya untuk menjawab pertanyaan, atau ketika kamu membuat alasan yang sebenarnya kurang masuk akal.

Pada batasan itu, saya seperti merasakan ada yang hilang dari sebelumnya namun menjadi biasa. Kabar yang tidak pernah datang meski selalu saya cari. Juga tentang kamu dari hari ke hari yang semakin entah menjadi apa. Tahu-tahu, saya mendapat kabar kamu sudah begini, sudah begitu, dengan jarak yang jauh dari sebelumnya.

Kabar resign yang saya tunggu-tunggu. Juga tentang cerita makalahmu yang saya harapkan menjadi alasan kamu menjauh. Tetapi ternyata bukan itu. Penyebab yang paling jelas sebenarnya karena kamu bukan menjadi apa-apa. Bukan juga menjadi siapa-siapa dalam diri saya. Kali ini, (mungkin sejak kemarin-kemarin), saya hanya ingin bertemu dan cari tahu, sebenarnya, kenapa saya selalu memikirkan kamu. Entah karena ada sesuatu yang saya suka karena ternyata kamu berbeda, atau hanya rindu karena beberapa kali kita pernah bertemu.


Kalaupun rindu, saya tidak tahu apakah kerinduan ini akan bertahan lama, atau malah akan cepat hilang dilewati waktu. Tapi, saya ingin tetap menuliskannya dalam cerita setiap kali saya merasakan kamu tidak ada, setiap kali saya merasa kehilangan, hingga suatu hari, entah sengaja atau tidak sengaja kamu bacakan juga di depan saya – jika saya cukup berani untuk mendengarnya lagi. Agak kita berdua tahu, saya memikirkanmu sejak detik ini meski tanpa kesepakatan bahwa kamu pernah ada di dalam kebersamaan. Walau tidak pernah ada kata cinta sebelumnya.

Aku, Di Sampingmu

Harusnya, kita hidup saja sepeti anak kecil yang sedang belajar berjalan. Waktu mereka berjalan, mereka jatuh berkali-kali. Tetapi mereka tetap bangun lagi-bangun lagi. Sakit? Pasti. Makanya, ketika mereka terjatuh, mereka menangis.

Tetapi apakah mereka kapok dan berhenti belajar? Tidak. Belajar – jatuh – bangun lagi. Jatuh – bangun lagi. Begitu seterusnya sampai mereka dapat berjalan sendiri. Benar-benar di atas kaki mereka sendiri. Sampai akhirnya mereka mampu berlari.

Bagaimana denganmu? Yang sudah dewasa. Baru sekali jatuh, kamu menyerah? Tidakkah ingat masa-masa kecilmu dulu? Setangguh itu akhirnya kamu mampu berjalan. Kemudian berlari sendiri, walau jatuh bangun berkali-kali dan menangis. Lihat pula sekelilingmu, ada mereka yang ingin melihatmu terus melangkah sampai pada puncak yang menjadi tujuanmu. Tolong jangan berhenti. Jangan pula menjadi kalah dengan rasa takut. Aku di sampingmu.


Tertanda,

Aku.

Jumat, 28 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 28


Kita belum bertemu lagi, yang seperti biasa dengan kikuknya, dengn serba salahnya, dengan gayamu yang suka terlambat-terlambatnya. Entah karena saya bersalah dan kamu merasa benar. Atau mugkin karena memang tidak perlu kita rangkai pertemuan yang seringkali hanya untuk menghabiskan waktu, mengusir pergi sepi. Kamu seperti tak ingin lagi melihat saya ada.

Sementara saya, menyesali tanggal lima belas lalu, yang mengatakan tidak bisa ketika kamu ajak bertemu. Lalu, berganti kamu yang selalu bilang tidak bisa dengan berbagai alasan, khasmu. Apa kabar tubuhmu? Lengan yang nyaman yang sempat kamu tawarkan untuk menjadi pegangan saat saya takut berada di ketinggian Teras Kota. Mata yang selalu berisi bintang kecil saat kamu bercerita tentang hari-hari yang melelahkan juga kejadian-kejadian lucu di jalan raya. Kaki yang selalu melangkah pasti saat berjalan bersama, meski terkadang kamu berada di depan tidak sejajar di samping saya.

Bagaimana kamu? Ketika kamu tidak dapat lagi menunjukkan apa-apa di depan saya, ketika kita tidak sedang sama-sama. Ketika sekarang, beberapa kebiasaan akhirnya sedikit banyak bisa disebut sebagai satu titik kenangan yang berlalu begitu saja.

Barangkali kamu masih seperti kemarin. Baik, tidak begitu pandai mendengarkan saya bercerita dan pandai membuat saya tertawa. Walau hanya tentang jalan-jalan berlubang yang selalu membuat air mukamu berubah menjadi panik dan penuh maaf. Yang selalu kamu jelaskan sebagai sebuah keadaan yang apa boleh buat. Jalanan di luar gelap, apalagi ditutup derasnya hujan.

Tetapi, kamu pasti tahu, setiap laut punya batasnya sendiri. Barangkali bagimu itu semua tidak penting dan lebih penting pergi menjauh dari berbagai tegur sapa. Tetap berbahagia dengan apa yang berada di sekelilingmu. Dan melupakan satu, dua, tiga kejadian pada pertemuan-pertemuan yang tadi saya sebutkan. Dan meminta saya untuk segera tersenyum menghadapi sesudahnya. Hingga setelahnya yang tercipta hanyalah jarak-jarak yang melelahkan sedang kamu tidak peduli.

Sabtu, 22 Februari 2014

Sementara

Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini

==

Saya seperti disihir oleh lagi ini. Begini, seperti juga udara, hati juga seharusnya diberi ruang agar ia menemukan ‘tempatnya’ sendiri. Lirik ini tidak berbelit-belit. Persis seperti hati saya sekarang. Setelah berhari-hari meributkan hal yang saya sendiri tidak tahu jawabannya, akhirnya, untuk sementara ini, saya memutuskan pasrah. Biarkan dia maunya apa. Saya tidak akan ganggu dulu.

Dari lirik ini, seolah saya berkaca, teduhlah sejenak – jangan jatuh dulu. Kita berdua masih punya mimpi, kita berdua masih terikat janji. Meskipun (mungkin) keduanya sama-sama diucapkan dalam hati, tapi percayalah, lebih dari ini pernah kita lalui.

Tidak ada yang meleset satu bait pun. Lagi ini menceritakan bagaimana saya dihadapannya. Gegap, tetapi sendiri. Kadang penasaran, kadang rindu, kadang mencari, kadang malu-malu. Kadang sesekali ia hadir, kadang ia menghilang. Dan ketika saat menghilang itu datang, inilah waktu saya untuk menyingkirkan dulu rindu. Sambil berharap, suatu hari nanti, apa yang pernah menjadi mimpi-mimpi saya dengannya akan menjadi nyata. Makanya, saya nggak mau berhenti sampai di sini.

Jumat, 21 Februari 2014

Kenapa Jilbab?

Seorang teman bertanya, kenapa tiba-tiba saya memutuskan pakai jilbab. Tiba-tiba sekali. Kemarin masih jalan pakai hot pants dengan tali bra yang kelihatan ke mana-mana, besoknya sudah rapi, tertutup dengan pakaian panjang menutupi aurat. Lalu di depan teman saya itu, saya bilang, “gak tahu, tiba-tiba pingin pakai, yasudah, pakai.”

Mikir panjang nggak? Jelas mikir, panjang sekali. Alasannya, pertama, karena saya pernah berjilbab, lalu memutuskan lepas lagi. Jadi, tahun 2010 lalu, saya pernah berjilbab. Waktu itu dorongan terbesar saya adalah ingin menyenangkan hati banyak orang, terutama Lucky yang ketika itu menjadi pacar saya. Ya, dia suka sekali melihat wanita berjilbab. Adem, katanya. Memang secara langsung dia tidak pernah meminta saya mengenakan jilbab, tetapi hati kecil selalu ingin menyenangkan orang-orang yang saya sayangi. Pacar saya, Ibu saya, Ayah saya.

Setahun kemudian, setelah saya putus dengan Lucky, saya merasa, tidak perlu lagi menyenangkan hati manusia satu itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk melepaskan hijab saya. Malu? Ya. Tapi saya punya kepentingan untuk menyenangkan diri saya sendiri pada saat itu. Masih ingin terlihat modis dengan buka-bukaan. Setelah lepas, rasanya saya lebih parah berpakaian pada saat itu. Jadi lebih senang pamer paha, lebih senang pamer belahan dada, lebih senang pamer lengan.

Sampai pada akhirnya saya tahu, di mana letak kesalahan saya. Menjadi fatal karena saat itu niat saya berjilbab adalah ingin menyenangkan hati banyak orang. Bukan semata karena Allah Ta’ala. Makanya begitu saya lepas kembali jilbab itu, saya seperti balas dendam buka-bukaan. Hampir satu tahun saya menjalani hal itu. Ketika ada teman bertanya mengapa saya melepas jilbab, dengan santai akan saya jawab, “namanya juga iman manusia, ada pasang ada surutnya.” Dan menganggap hal itu biasa saja. Saya tidak memikirkan ada Mama dan Ayah yang sedang memendam luka melihat saya seperti ini. Tapi bersyukur, kedua orang tua saya sangat demokratis, selama tidak menyakiti dan melawan aturan, Mama dan Ayah hampir tidak masalah. Itu sebatas apa yang saya lihat. Tetapi dalamnya hati tetap tidak terukur kan, ya?

2012 pertengahan, bulan juni tepatnya, saya membaca sebuah pesan. Dari social media, barang siapa seorang perempuan melangkah satu langkah keluar rumah tanpa mengenakan hijab, maka Ayahnya satu langkah mendekati pintu neraka. Lalu saya cari tahu, kenapa bisa begitu? Ternyata itu adalah sebuah konsekuensi dari kewajiban seorang muslim. Sama halnya dosa bagi orang yang munafik, dosa bagi orang yang membunuh, dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajiban sholat, juga dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajibannya berpuasa.

Sebab bagi perempuan, menutup aurat adalah wajib hukumnya. Dan tidak akan gugur oleh kewajiban-kewajiban yang lain, atau perkembangan zaman, atau kepentingan seperti misalnya ada beberapa kantor yang melarang karyawan perempuannya memakai jilbab. Lantas dengan alasan kemanusiaan, kewajibab perempuan berjilbab itu akankah hilang? Tidak.

Maka dari saya membaca hadist tentang konsekuensi berjilbab, dan ayat-ayat dalam al-qur’an, akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Sederhananya, saya sangat menyayangi kedua orang tua saya. Ayah saya salah satunya. Dunia ini saja saya belum tentu bisa menyenangkan hatinya, mana mungkin saya berani memperkarakan Ayah saya di hadapan Allah ketika di akhirat nanti hanya karena saya luput menjalankan kewajibannya sebagai perempuan pemeluk agama islam. Itu yang menjadi pegangan saya. Bismillah lillahi ta’ala, saya akan menjalankan ini hanya untuk mencari ridha Allah.

Alasan yang lain lagi adalah karena saya harus berterima kasih kepada Allah. Saya memang belum pernah bisa selesai mengukur nikmat yang Allah berikan pada saya. Selalu saya gagal menghitung berapa banyak. Makanya, satu-satunya cara saya bersyukur adalah dengan menjalankan kewajibannya. “Apalagi yang mau saya cari?” “Kalau bukan sekarang, kapan lagi mau berterima kasih?” Dua kalimat pusaka, yang akhirnya membuat saya tidak berpikir panjang.

Bagaimana dengan paradigm banyak perempuan yang bilang, lebih baik menjilbabkan hati dulu, baru menjilbabkan kepala? Sah-sah saja. Itu hak mereka ingin berbicara seperti apapun. Tetapi, saya pun memiliki pendapat sendiri. Bahwa hati dan aurat adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang lain tidak dapat menembus sampai ke dalam hati kita dengan panca inderanya. Terutama bagi yang bukan muhrim. Jadi tidak mungkin ada dosa yang lahir karena ada laki-laki melihat hati perempuan lain. Tetapi sebaliknya, berdosalah laki-laki yang melihat aurat perempuan yang bukan muhrimnya. Sesimpel itu car berpikir saya.

Bagaimana dengan perempuan berjilbab dan merokok? Hampir sama dengan jawaban saya sebelumnya. Jilbab dan rokok adalah dua attribute yang sangat berbeda baik secara hukum syariatnya maupun kedudukannya. Jilbab dan rokok memiliki hukum yang berdiri sendiri pada al-qur’an. Tidak berhubungan, tidak ada sangkut pautnya. Jadi, piciklah mereka yang berpikir bahwa jilbab dan rokok sebaiknya memiliki hukum yang berhubungan. Jika diarahkan pada untuk member contoh baik atau buruk, bisa jadi. Di luar itu, keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa. Sesederhana itu sebenarnya. Jadi, kamu kapan mau berjilbab? Hehehe.

Jumat, 14 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day14



“Saya harus menulis apalagi di hari ke-14 ini? Saya tidak tahu ingin menulis apa. Saya hanya ingin mabuk hingga melupakan seluruh bagian surat yang pernah saya tulis. Untukmu.”



Never Ask Me


I
Tapi it’s ok kok, kamu boleh pacaran sama siapa saja.
Asal kamu ingat aturan main.
Kamu silakan melakukan apapun yang kamu suka.
Lagi pula saya pasti tahu lagi.

II
Masa?

I
Soal film.
Kamu suka film All The President Man. Kenapa?
Karena Dustin Hoffman main di situ.

II
You read my mind?

I
I read everything in you.

II
Everything?
Misalnya?

I
Ya, hati kamu. Pikiran kamu. Saya paham banget.
Kenapa laki-laki kaya dia menarik perhatian kamu.
Karena dia misterius. Dia hidup dalam permainan.
Dan kamu suka tantangan.
Kamu menolak kenyamanan.
Makanya kamu lebih pilih naik umum dari pada naik mobil.
Kamu tahu kok, ada banyak laki-laki yang suka sama kamu.
Tapi kamu lebih memilih dia. 
Laki-laki yang gerak-geriknya gak ketebak.

II


Yogyakarta, 14 Februari




Yogyakarta, 05:30 pagi.
Foto ini diambil sekitar 7 jam setelah Gunung Kelud bererupsi. Sekitar pukul 22.00 malam tadi. Diambil dari akun Path Mas Arga.



Jalan Malioboro, 9:00 pagi.
Abu vulkanik Gunung Kelud menyebar sampai ke titik nol Yogyakarta. Foto diambil dari akun Path Mas Arga.



Perempatan Ring Road Jl. Kabupaten, 11:50 siang.
Sepenglihatan mata, ini adalah perempatan ring road di Jl. Kabupaten arah barat dari Yogyakarta. Foto diambil dari akun Path Mas Arga.



Tugu Yogyakarta, 1:45 siang.
Masih diselimuti abu vulkanik. Kata teman-teman di sana, dampak erupsi kali ini melebihi Merapi 2010 lalu. Foto diambil dari akun Path Mas Arga.


Kamis, 13 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 13


Surat ini, jika tidak saya tuliskan, mungkin akan menjadi surat yang tertunda bertahun-tahun. Maka sebabnya, saya tuliskan saja apa adanya. Bukan karena sebuah tempo menulis surat  yang hanya berlangsung selama tiga puluh hari tetapi, saya tidak ingin apa yang seharusnya bisa dikatakan hanya mengendap menjadi sebuah geram.

Siapakah kita? Siapakah kamu? Siapakah saya? Sampai saya berani menuliskan dan sembunyi-sembunyi memintamu membacanya. Surat ini adalah surat yang paling menyita waktu yang sedikit saya punya. Hari kesekian, saya menuliskannya ketika sedang beristirahat. Hari ke sekian saya menuliskannya ketika saya sedang beada di kantor. Yang ternyata baru saya ketahui, kala itu pikiran saya beradu bising dengan tugas-tugas yang harus segera diselesaikan. Hingga saya pilih jalan terakhir untuk semuanya. Menuliskan surat dan menerbangkan kamu jauh-jauh dari pikiran saya. Walaupun hampir tidak bisa.

Kok tidak bisa? Ya karena saya tidak pernah tahu lagi kabarmu. Karena saya tidak pernah bisa lagi menyapa jika tidak sampai dipaksakan. Karena kita tidak bisa lagi duduk bersama, bercerita, dan beradu siapa yang paling kuat berdebat lalu mengalah lagi. Karena sebenarnya kamu tidak pernah hilang terlalu jauh dari sekitar saya. Karena ternyata kamu tidak pernah bisa benar-benar lenyap dari tatapan.

Sekali saya bertanya, pada hari-hari di mana kita tidak bertemu. Mungkinkah senja, matahari, langit sore, dan gelap akan juga melewati saya dan kamu? Kemudian mereka memaksa saya untuk terus mengerti?

Teduh Meneduhkan


10.46 – A:
Aku ngantor. Siang ketemu di TIM ya.

15.28 – B:
Sudah selesaikah urusanmu?

17.01 – A:
Kemari.

19.33 – B:
Tunggu di Bata Merah, ya.

19.37 – A:
Sebentar aku ke kamu.

19.54 – B:
Mas, maaf ya menunggu lama. Aku baru bisa keluar jam segini.

19.54 – A:
Lho, santai saja. Lelaki nasibnya menunggu.




Hari ini saya belajar tentang nasib laki-laki. Dari seorang yang baik. Bahwa sudah menjadi nasibnya laki-laki untuk menunggu.

Rabu, 12 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 12



Suatu hari, Bung Karno pernah bilang,

“… ada saatnya dalam hiduupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin. Menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.”


Itulah mengapa di dalam pikiran, kamu mewujud seperti angin.

Float

Tolong jangan ganggu selera saya yang terlambat ini. Mulai hari ini saya bersedia untuk tergila-gila dengan:

o   Float
o   Efek Rumah Kaca
o   Float (lagi)
o   White Shoes & The Couples Company
o   Float (lagi)
o   Tulus
o   Float (lagi)
o   Payung Teduh
o   Float (lagi)
o   Sore
o   Float (lagi)
o   HiVi
o   Float (lagi)
o   Pure Saturday
o   Float (lagi)

Dan yang selalu, dari dulu membuat tergila-gila:
o   Naif
o   Maliq & The Essentials
o   Trio Lestari

Welcome mine, <333

Selasa, 11 Februari 2014





"Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui..."







#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 11


Hari ini, saya ingin bicara tentang rasa kehilangan yang datang tiba-tiba. Ia seperti datang tanpa mengetuk pintu. Tiba-tiba masuk lalu tinggal di dalam. Ini pun tentang kamu, orang asing yang sekejap juga sebentar menjadi dekat. Bukan karena kedekatan yang kerap selama bertahun-tahun. Tetapi karena rasa kaget dengan pertemuan yang kembali dan percakapan-percakapan singkat yang bersilang menjadi satu. Yang begitu kamu tidak datang, ia melahirkan perasaan baru bernama kehilangan dan malu untuk mencari.

Kamu mengertikah, kehilangan seperti ini adalah kehilangan yang tidak akan pernah mudah untuk dipahami? Kehilangan yang memberikan beberapa ruang untuk waktu yang menjadi hening. Tetapi waktu-waktu itu tidak akan bisa terdefinisi. Ia meluruhkan asal mula perkiraan tentang siapa dan mengapa. Meninggikan terus kesunyian yang tidak berbentuk. Seperti malam yang selalu mengakrabi doa dalam heningnya. Yang menghadirkan doa-doa bersuara lirih. Bukan kata-kata lantang yang bernada tinggi.

Dengan semua ini, kamu seolah meyakinkan saya bahwa segala rupa percakapan-percakapan di antara kita telah selesai. Bahwa yang tinggal hanya sisa-sisa perjalanan yang tetap hidup dalam ingatan. Bahwa semua ini telah lahir dari pertemuan yang tiba-tiba, yang tidak akan pernah saya mengerti selamanya, yang tidak satupun kamu jabarkan dalam baris kalimat mengapa sampai tercipta kehilangan, padahal kamu tidak benar-benar menghilang.

Atau mungkinkah, waktu telah mengembalikan kamu pada sepasang keadaan seperti sebelumnya? Keadaan di mana kita adalah dua orang kawan lama yang tidak pernah bertemu juga tidak pernah berbagi cerita dan canda?

Senin, 10 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 10


Akhirnya, terlewati sudah sepuluh hari pertama yang lumayan menjadi berat karena ulah sendiri. Saya hampir kalah dilahap rasa penasaran. Juga hampir menyerah karena hal-hal seperti ini sebenarnya tidak perlu dipertanyakan terus-menerus.

Hei, kamu apa kabar? Bagaimana pertandingan-pertandingan? Bagaimana hari-hari di sana? Dan bagaimana-bagaimana lainnya di dalam hati. Ini adalah hari saya, yang sedang  menenggelamkan diri dalam rasa penasaran. Walaupun saya tahu, rasa ini masih bisa saya tahan jika saya mau sebab bukan mustahil jika hanya menghilangkan sebuah rasa penasaran yang sengaja dicari-cari. Tetapi, mungkin kamu tidak akan pernah paham tentang ini, tentang saya yang begitu ingin tahu, adakah yang akan tumbuh atau yang akan mati  di akhir hari ke-30 nanti.

Akhir-akhir ini saya sering bertanya pada diri saya sendiri. Benarkah kamu tidak mengetahui, atau kamu sedang berpura-pura tidak melihat semua ini. Seperti yang sering saya dengar, kita bisa saja mempersiapkan kegembiraan, tetapi kita tidak akan pernah bisa mempersiapkan pertemuan dan juga kehilangan. Kita bisa saja membiarkan mata-mata kita terbiasa memandangi daun-daun yang jatuh tertiup angin, tetapi kita tidak bisa menolak keinginan untuk meghentikan mereka berceceran. Karena setiap manusia sebenarnya tahu, tidak ada kebahagiaan tanpa sebuah jeda. Dan barangkali, kamu lah yang dinamakan jeda.

Dengan jeda, kamu bisa membuat orang menjadi sayang padamu, bisa juga membuat mereka berbalik membencimu. Dengan jeda, kamu bisa dengan mudah membuat orang menjadi perduli padamu, menjadi terpaku dengan segala kesederhanaan yang kamu punya. Dengan jeda kamu bisa melakukan semua itu.

Tetapi, mungkinkah jeda yang saya hadapi hanya sekedar jeda mengenai kekosongan? Sekedar pantulan dari rasa bosan menjalani hari-hari yang selalu bertemu dengan skala dan jadwal yang sama? Bangun pagi, lalu memperkerjakan diri untuk mengejar semua yang belum pernah saya miliki? Hanya untuk memperlihatkan kepada semua orang bahwa saya bukan orang yang malas berjuang.

Entah sejak kapan, bahwa ternyata, semakin kamu menjauh, semakin kamu tidak menjadi orang asing dalam pikiran saya. Kita memang tidak pernah telibat apa-apa. Kita juga tidak pernah bertanya tentang siapa diri kita. Hanya saya, yang terus mengikuti kemana kamu pergi sejauh apapun langkah itu. Saya seperti sedang mengikuti orang asing dari belakang. Dari jarak yang jauhnya tidak terukur oleh kita tapi saya yang tentukan sendiri. Di sini, saya hanya tinggal menunggu kapan saya lelah mengikuti dan berjalan di belakang, kemudian saya akan berhenti bertanya lalu berlaku seperti tidak pernah ada apa-apa.

Minggu, 09 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 9


"Jika suatu hari kamu bisa lebih berani lagi untuk memperlihatkan diri, bicaralah, jangan diam."

Di 'Day 1' yang lalu, sudah terlanjur bilang bahwa akan menulis tentang kamu selama 30 hari ya? Boleh ganti, nggak? Tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini menjadi teman paling akrab? Semua timeline kerja sedang hectic tetapi produktif. Boleh?

Mengapa tiba-tiba jadi ingin mengganti topik? Orang yang pergi baiknya tidak perlu ditanya-tanya lagi bukan? Sebab saya tahu, kamu sudah memilih cara yang paling mudah; dengan hilang begitu saja, dan tidak memberi pesan apa-apa.

Sebenarnya, bukan hal sulit melanjutkan #30HariMenulisSuratCinta ini tentang kamu, jika kamu memang orang yang pantas untuk dibahas 30 hari berturut-turut. Namun, dalam segal hal, saya sudah kehabisan cerita tentangmu. Seperti malam selalu diseimbangkan dengan siang. Pergi diseimbangkan dengan pulang. Begitu juga datang, selalu diseimbangkan dengan hilang. Dan hilang ini tidak hanya membuat tanya, tetapi juga membuat saya lelah.

Satu minggu yang lalu, saya memang seperti benar-benar kehilanganmu. Saya mencoba mencari. Tetapi tempatmu malah semakin tidak terlihat. Detik ketika kehilanganmu terasa sangat memilukan, tiba-tiba saya teringat pesan seorang teman; "tidak perlu lagi kamu mencari-cari orang yang sengaja pergi. Hidup bukan untuk membuang-buang waktu memikirkan orang yang menghindarimu. Dia pergi, karena tidak ingin diam denganmu." Juga tentang semua yang berawal dari melepaskan.

Saya diam mendengar semua. Lalu ingat, ternyata saya memiliki keluarga yang selalu ada tanpa diminta. Sahabat-sahabat baik yang datang bergantian kemudian pergi lagi, tanpa pernah menghilang. Teman-teman yang menyenangkan tanpa perlu menukarkan kekhawatiran. Dan terakhir, saya merasa, saya hanya terjebak dengan rasa nyaman berada di dekatmu berjam-jam. Bisa jadi, di situlah tempat saya kemarin.

Sabtu, 08 Februari 2014

Dendam Masa Kecil

Sabtu sore itu, lagi-lagi dari sebuah tidak sengaja janjian bertemu, lalu akhirnya membuahkan banyak cerita. Sore itu saja janjian ngopi-ngopi lucu di Kedai Tjikini bersama dua laki-laki yang sangat hebat menulis. Kang Diki Umbara yang sudah tidak perlu lagi saya ceritakan siapa beliau, silakan tinggal dicek saja profilenya melalui @dikiumbara. Juga dengan Mas yang super kontroversial ini. Mas Arman Dhani, yang sangat blak-blakan dalam bicara, mempunyai hobi twitwar dan memancing twitwar via @arman_dhani

Cas cis cus punya cerita, sore itu ternyata Mas Dhani sedang ingin mencari tujuan hidupnya di sebuah mall mana saja yang  menjajakan DC Shoes di dalamnya. Setelah mengetahui itu, tidak lama datang lagi Mas Lukman. Kali ini, saya baru mengenal Mas Lukman tepat ketika dia datang ke Kedai Tjikini.

Obrolan yang apik mengenai tujuan hidup. Ternyata, tujuan hidup Mas Dhani itu berasal dari dendam masa kecil yang ingin mengoleksi sepatu. Ketika Mas Lukman menawarkan sepatu dengan brand lain sebagai opsi untuk Mas Dhani, dengan lantang Mas Dhani menjawab, “ini bukan tentang merk bro, tetapi tentang tujuan hidup. Berapapun akan saya bayar.”

Lalu, Mas Lukman bertanya pada saya, “Lina, apa dendam masa kecilmu?” Ditanya begitu, saya langsung berpikir sembari mengingat-ingat apa yang menjadi keinginan tidak tersampaikan bagi saya sejak masa kecil dulu. Waktu seperti bergerak mundur pada saat saya SD, SMP, dan SMA. Tetapi, saya tidak menemukan apa dendam masa kecil saya. Berbeda dengan Mas Dhani, yang memiliki banyak dendam. Ingin mempunyai 3.000 buah buku yang menjadi koleksi, (status; sudah tersampaikan). Ingin mempunyai sepatu DC Shoes, (status; baru tersampaikan).

Kembali lagi ke dendam masa kecil. Dahulu, ketika saya kelas 4 SD, saya dan keluarga getaway ke daerah Puncak. Dengan kendaraan peribadi. Dan saya, masih ingat betul, ketika itu melihat wedges berwarna abu-abu dan hitam yang lucu milik Tante Nana. Begitu melihat, saya langsung ingin sekali memakainya selama liburan ke puncak itu, tetapi Tante saya bilang, jangan dipakai, karena kebesaran, bukan karena tidak diizinkan. “Sepatunya kebesaran untuk kamu, nanti kamu susah sendiri loh di jalan.”

Saya tidak jadi memakainya, tetapi sebelum kami berangkat ke Puncak, wedges itu tidak pernah lepas dari kaki saya. Mungkin, dari sinilah awal mula, mengapa saya begitu mencintai sepatu, terutama heels dan wedges. Mungkin nggak, ini disebut dendam masa kecil? Dan Mas Lukman bilang, semua orang pasti punya dendam masa kecil yang harus dituntaskan ketika ia dewasa.

#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 8


Ternyata Ayah itu benar, dunia kerja media itu tidak hanya berisi kegaduhan orang-orang yang memburu berita saja, atau editor yang berkejaran dengan waktu, redaktur dan pemimpin redaksi yang selalu pusing dengan edisi-edisi yang harus siap terbit. Ternyata kehidupan pelakunya juga riuh rendah dengan kehidupan pribadi yang nggak pernah habis.

Soal kamu, sampai sekarang belum beres juga. Begitu kemarin ramai-ramai di Path berisi cerita tentang orang tua yang kehilangan anaknya yang berusia 1 tahun 10 bulan karena menderita radang paru-paru akut akibat sisa-sisa nikotin yang melekat di baju Ayahnya, saya jadi ingat kamu yang waktu itu bilang ingin berhenti merokok, tapi susah. Saya ingat kamu yang tiba-tiba nyeletuk sedang mengurangi rokok. Malah saya tidak ingin melihat kamu merokok lagi sejak itu. Dan, akhirnya, saya lebih mengkhawatirkanmu soal ini, walaupun cuma sebatang, ketimbang persoalan kamu menghilang karena sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

Balik lagi soal kamu yang hilang, untuk pertama kalinya saya merasa sangat sulit bicara dengan kamu. “Are you hiding something?” Berkali-kali saya cari tahu, saya semakin tidak mengerti kenapa kamu hilang. Setelah senin sore itu, saya merasa itu adalah komunikasi terakhir saya dengan kamu. Saya sebenarnya murung, tapi tidak mungkin bertanya kenapa kamu tidak pernah lagi menyapa saya. Curiga saya, kamu sedang sibuk dengan pertandingan basketmu di Kanwil, juga berbagai persiapanmu untuk resign. Tapi saya tidak mau bersangka-sangka dulu. Semoga kamu menghilang tidak lama.

Oh ya, baru kali ini, saya merasa benar-benar tidak punya tenaga di depan orang lain. “Apa yang sedang terjadi di diri saya?” Saya nggak ngerti. Saya merasa separuh pikiran saya ikut hilang. Beberapa waktu yang lalu, saya merasa sangat dekat dengan kamu, tapi setelah itu kamu kelihatan penuh rahasia dan penuh strategi. Mungkin keyakinan saya benar, kamu tidak akan bisa membiarkan dirimu dibagikan sepenuhnya ke orang lain. Akan ada beberapa titik di dalam diri kamu yang nggak bisa disentuh oleh siapapun.

Mungkin ini pertanyaan bodoh dari saya, sebenarnya bagaimana sih kita tahu orang yang tepat untuk kita itu yang mana? Apakah berdasarkan getar hati setiap kali ketemu? Atau berdasarkan pertemuan yang begitu kerap?