Teringat tentang
suatu hari ketika saya sedang tidak bersamanya. Ternyata, ketika dia lenyap
dari hadapan saya, saya masih bisa mengingatnya tanpa satu gurat wajah
terlewati. Darinya saya belajar apa itu sabar, bagaimana caranya ikhlas, dan
rahasia untuk tidak lagi mengeluh. Darinya saya belajar menerima dan menilai
diri sendiri. Walaupun tidak jarang, saya menangis, hati saya merasa sakit.
Justeru itu karena dia masih manusia.
Saya tidak
pernah lupa bagaimana cara dia menatap, sungguh teduh dan menenangkan. Saya
juga tidak pernah lupa, bagaimana lisannya menjaga setiap ucapannya, selalu
terlihat, apa yang ingin dia katakan seperti sudah dia pelajari ribuan kali,
sangat halus, menyentuh dan tidak terlupakan. Bahkan untuk kesekian kali saya
membaca pesan, gusar dada tidak berbeda rasanya, sama persis ketika saya petama
kali membaca ucapan-ucapannya. Iya, dia orang yang pandai menjaga.
Tentang sendi
yang memfungsikan tulang-tulang yang kaku. Tanpa kamu, pergerakan ini sungguh
sempit, tidak sempurna, kaya dan dinamis. Di tanganmu semua berjalan baik-baik
saja. Dalam keadaan terperih sekalipun. Menjadi tumpuan hidup. Menjadi sandaran
jiwa.
Kalau saja
setiap orang bisa memilih mana ukuran yang ia ingin jadikan patokan, mungkin saya
akan membuat ukuran itu sendiri, dan saya kan menjadikan kamu sebagai nilai
ukur. Saya yakin, suatu ketika kita akan diberi waktu sebagai ajang introspeksi
diri, dan kita akan hebat, jika setelah kita menyadari kekurangan kita nanti, kita
mampu menegur dengan halus, memberikan penjelasan dengan ragam praktek
pendewasaan kita, dan yang penting dengan jurus jitu saling menerima bahwa kitalah
yang tebaik dari semua yang sudah tercipta. Bukan bermaksud saya angkuh di
depan khalayak yang sempurna, tapi karena saya yakin, kita akan menjadi
sempurna jika berjalan bersama.
