Senin, 03 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 3


Pagi ini, saya terpaksa banget kirim foto itu ke messenger-mu. Benar terpaksa. Saya yakin benar, kamu pasti bertanya-tanya, kenapa kirim foto ini? Kenapa captionnya complicated mind? Dan kenapa-kenapa yang lain. Atau pertanyaan yang lain. Minimal;

1. Kenapa kamu judge-ing saya?
2. Kamu tahu siapa saya? Tahu bagaimana saya? Tahu tentang Hidup saya?
3. Maksudnya apa kirim-kirim begitu? Kamu pikir hidupmu sudah paling benar di mata saya?
...
...
10. Kamu siapa saya?

Dan lain-lain, dan lain-lain yang mungkin menjadi pertanyaanmu. Mungkin juga jadi memancing emosimu, yang membuat kamu akan semakin menghilang, makin entahlah. Rasanya horror, ya? Untuk mendeskripsikan keadaan yang paling tidak pernah terduga sebelumnya.

Terus terang, saya jadi ingat perkataan teman saya yang tidak sengaja, ketika saya dengannya sedang bermain kartu tarrot, tiba-tiba dia bertanya pada saya. Seingat saya, yang dia tanyakan adalah, "is he introvert, Lina?" And suddenly, i answered with “didn't know."

Kembali lagi, saya ingat-ingat bagaimana kamu. Kalau ada orang yang paling tidak bisa dibaca pikirannya, kamulah orangnya. Jalan pikiranmu tidak ketebak. Walaupun badan kamu ada di samping saya, rasanya, pikiran kamu berada entah di mana. Pernah kita berjam-jam berada di dalam mobil yang sama. Satu ruangan yang sama, tetapi saya merasa, kadang pikiranmu ada di dalam mobil itu, kadang tidak ada hingga saya harus mencari, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan

Saya juga pernah bertanya, kenapa kamu tiba-tiba deactive account. Jawabanmu malah balik bertanya, "memang hidup harus selalu update di social media? Harus twitteran? Harus punya instagram? Harus punya path?" Sampai saya tidak sadar, ternyata kamu hanya menguapkan pertanyaan saya. Atau pertanyaan-pertanyaan lain dari saya yang sering kamu jawab hanya dengan senyum, jawaban tidak tahu, atau diam beberapa detik, lalu mengganti pertanyaan dengan topik yang lain.

Sampai saya pernah bertanya, kenapa setiap bagian saya bertanya, kamu selalu menjawab dengan jeda beberapa detik, dan jawaban-jawaban mengambang. Hanya senyum, tidak tahu, atau pertanyaan balik. Tetapi, pertanyaan seserius itu hanya kamu tanggapi dengan santai, “masa sih?” Lalu sudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar