Sabtu, 08 Februari 2014

Dendam Masa Kecil

Sabtu sore itu, lagi-lagi dari sebuah tidak sengaja janjian bertemu, lalu akhirnya membuahkan banyak cerita. Sore itu saja janjian ngopi-ngopi lucu di Kedai Tjikini bersama dua laki-laki yang sangat hebat menulis. Kang Diki Umbara yang sudah tidak perlu lagi saya ceritakan siapa beliau, silakan tinggal dicek saja profilenya melalui @dikiumbara. Juga dengan Mas yang super kontroversial ini. Mas Arman Dhani, yang sangat blak-blakan dalam bicara, mempunyai hobi twitwar dan memancing twitwar via @arman_dhani

Cas cis cus punya cerita, sore itu ternyata Mas Dhani sedang ingin mencari tujuan hidupnya di sebuah mall mana saja yang  menjajakan DC Shoes di dalamnya. Setelah mengetahui itu, tidak lama datang lagi Mas Lukman. Kali ini, saya baru mengenal Mas Lukman tepat ketika dia datang ke Kedai Tjikini.

Obrolan yang apik mengenai tujuan hidup. Ternyata, tujuan hidup Mas Dhani itu berasal dari dendam masa kecil yang ingin mengoleksi sepatu. Ketika Mas Lukman menawarkan sepatu dengan brand lain sebagai opsi untuk Mas Dhani, dengan lantang Mas Dhani menjawab, “ini bukan tentang merk bro, tetapi tentang tujuan hidup. Berapapun akan saya bayar.”

Lalu, Mas Lukman bertanya pada saya, “Lina, apa dendam masa kecilmu?” Ditanya begitu, saya langsung berpikir sembari mengingat-ingat apa yang menjadi keinginan tidak tersampaikan bagi saya sejak masa kecil dulu. Waktu seperti bergerak mundur pada saat saya SD, SMP, dan SMA. Tetapi, saya tidak menemukan apa dendam masa kecil saya. Berbeda dengan Mas Dhani, yang memiliki banyak dendam. Ingin mempunyai 3.000 buah buku yang menjadi koleksi, (status; sudah tersampaikan). Ingin mempunyai sepatu DC Shoes, (status; baru tersampaikan).

Kembali lagi ke dendam masa kecil. Dahulu, ketika saya kelas 4 SD, saya dan keluarga getaway ke daerah Puncak. Dengan kendaraan peribadi. Dan saya, masih ingat betul, ketika itu melihat wedges berwarna abu-abu dan hitam yang lucu milik Tante Nana. Begitu melihat, saya langsung ingin sekali memakainya selama liburan ke puncak itu, tetapi Tante saya bilang, jangan dipakai, karena kebesaran, bukan karena tidak diizinkan. “Sepatunya kebesaran untuk kamu, nanti kamu susah sendiri loh di jalan.”

Saya tidak jadi memakainya, tetapi sebelum kami berangkat ke Puncak, wedges itu tidak pernah lepas dari kaki saya. Mungkin, dari sinilah awal mula, mengapa saya begitu mencintai sepatu, terutama heels dan wedges. Mungkin nggak, ini disebut dendam masa kecil? Dan Mas Lukman bilang, semua orang pasti punya dendam masa kecil yang harus dituntaskan ketika ia dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar