Sabtu sore itu,
lagi-lagi dari sebuah tidak sengaja janjian bertemu, lalu akhirnya membuahkan
banyak cerita. Sore itu saja janjian ngopi-ngopi lucu di Kedai Tjikini bersama
dua laki-laki yang sangat hebat menulis. Kang Diki Umbara yang sudah tidak
perlu lagi saya ceritakan siapa beliau, silakan tinggal dicek saja profilenya
melalui @dikiumbara. Juga dengan Mas yang super kontroversial ini. Mas Arman
Dhani, yang sangat blak-blakan dalam bicara, mempunyai hobi twitwar dan
memancing twitwar via @arman_dhani
Cas cis cus
punya cerita, sore itu ternyata Mas Dhani sedang ingin mencari tujuan hidupnya
di sebuah mall mana saja yang menjajakan
DC Shoes di dalamnya. Setelah mengetahui itu, tidak lama datang lagi Mas
Lukman. Kali ini, saya baru mengenal Mas Lukman tepat ketika dia datang ke
Kedai Tjikini.
Obrolan yang
apik mengenai tujuan hidup. Ternyata, tujuan hidup Mas Dhani itu berasal dari
dendam masa kecil yang ingin mengoleksi sepatu. Ketika Mas Lukman menawarkan
sepatu dengan brand lain sebagai opsi untuk Mas Dhani, dengan lantang Mas Dhani
menjawab, “ini bukan tentang merk bro, tetapi tentang tujuan hidup. Berapapun
akan saya bayar.”
Lalu, Mas Lukman
bertanya pada saya, “Lina, apa dendam masa kecilmu?” Ditanya begitu, saya
langsung berpikir sembari mengingat-ingat apa yang menjadi keinginan tidak
tersampaikan bagi saya sejak masa kecil dulu. Waktu seperti bergerak mundur
pada saat saya SD, SMP, dan SMA. Tetapi, saya tidak menemukan apa dendam masa
kecil saya. Berbeda dengan Mas Dhani, yang memiliki banyak dendam. Ingin
mempunyai 3.000 buah buku yang menjadi koleksi, (status; sudah tersampaikan). Ingin
mempunyai sepatu DC Shoes, (status; baru tersampaikan).
Kembali lagi ke
dendam masa kecil. Dahulu, ketika saya kelas 4 SD, saya dan keluarga getaway ke
daerah Puncak. Dengan kendaraan peribadi. Dan saya, masih ingat betul, ketika
itu melihat wedges berwarna abu-abu dan hitam yang lucu milik Tante Nana.
Begitu melihat, saya langsung ingin sekali memakainya selama liburan ke puncak
itu, tetapi Tante saya bilang, jangan dipakai, karena kebesaran, bukan karena
tidak diizinkan. “Sepatunya kebesaran untuk kamu, nanti kamu susah sendiri loh
di jalan.”
Saya tidak jadi
memakainya, tetapi sebelum kami berangkat ke Puncak, wedges itu tidak pernah
lepas dari kaki saya. Mungkin, dari sinilah awal mula, mengapa saya begitu
mencintai sepatu, terutama heels dan wedges. Mungkin nggak, ini disebut dendam
masa kecil? Dan Mas Lukman bilang, semua orang pasti punya dendam masa kecil
yang harus dituntaskan ketika ia dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar