#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 13
Surat ini, jika
tidak saya tuliskan, mungkin akan menjadi surat yang tertunda bertahun-tahun.
Maka sebabnya, saya tuliskan saja apa adanya. Bukan karena sebuah tempo menulis surat yang hanya berlangsung selama tiga puluh hari tetapi, saya tidak ingin apa
yang seharusnya bisa dikatakan hanya mengendap menjadi sebuah geram.
Siapakah kita?
Siapakah kamu? Siapakah saya? Sampai saya berani menuliskan dan
sembunyi-sembunyi memintamu membacanya. Surat ini adalah surat yang paling
menyita waktu yang sedikit saya punya. Hari kesekian, saya menuliskannya ketika
sedang beristirahat. Hari ke sekian saya menuliskannya ketika saya sedang beada
di kantor. Yang ternyata baru saya ketahui, kala itu pikiran saya beradu bising dengan tugas-tugas yang harus
segera diselesaikan. Hingga saya pilih jalan terakhir untuk semuanya.
Menuliskan surat dan menerbangkan kamu jauh-jauh dari pikiran saya. Walaupun hampir tidak bisa.
Kok tidak bisa? Ya karena
saya tidak pernah tahu lagi kabarmu. Karena saya tidak pernah bisa lagi menyapa
jika tidak sampai dipaksakan. Karena kita tidak bisa lagi duduk bersama,
bercerita, dan beradu siapa yang paling kuat berdebat lalu mengalah lagi. Karena sebenarnya kamu tidak pernah
hilang terlalu jauh dari sekitar saya. Karena ternyata kamu tidak pernah bisa
benar-benar lenyap dari tatapan.
Sekali saya
bertanya, pada hari-hari di mana kita tidak bertemu. Mungkinkah senja,
matahari, langit sore, dan gelap akan juga melewati saya dan kamu? Kemudian mereka memaksa saya untuk terus mengerti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar