#30HariMenulisSuratCinta
#PosCinta
Day 10
Akhirnya,
terlewati sudah sepuluh hari pertama yang lumayan menjadi berat karena ulah sendiri. Saya hampir kalah
dilahap rasa penasaran. Juga hampir menyerah karena hal-hal seperti ini
sebenarnya tidak perlu dipertanyakan terus-menerus.
Hei, kamu apa kabar?
Bagaimana pertandingan-pertandingan? Bagaimana hari-hari di sana? Dan bagaimana-bagaimana lainnya di dalam hati. Ini adalah hari saya, yang sedang menenggelamkan diri dalam
rasa penasaran. Walaupun saya tahu, rasa ini masih bisa saya tahan jika saya mau sebab bukan mustahil jika hanya menghilangkan sebuah rasa penasaran yang sengaja dicari-cari. Tetapi, mungkin kamu tidak akan pernah paham tentang ini, tentang saya yang begitu ingin tahu, adakah yang akan tumbuh atau yang akan mati di
akhir hari ke-30 nanti.
Akhir-akhir ini saya sering bertanya pada diri saya sendiri. Benarkah kamu
tidak mengetahui, atau kamu sedang berpura-pura tidak melihat semua ini. Seperti
yang sering saya dengar, kita bisa saja mempersiapkan kegembiraan, tetapi kita
tidak akan pernah bisa mempersiapkan pertemuan dan juga kehilangan. Kita bisa
saja membiarkan mata-mata kita terbiasa memandangi daun-daun yang jatuh tertiup
angin, tetapi kita tidak bisa menolak keinginan untuk meghentikan mereka
berceceran. Karena setiap manusia sebenarnya tahu, tidak ada kebahagiaan tanpa sebuah jeda. Dan barangkali, kamu lah yang dinamakan jeda.
Dengan
jeda, kamu bisa membuat orang menjadi sayang padamu, bisa juga membuat mereka
berbalik membencimu. Dengan jeda, kamu bisa dengan mudah membuat orang menjadi
perduli padamu, menjadi terpaku dengan segala kesederhanaan yang kamu punya. Dengan jeda kamu bisa melakukan semua itu.
Tetapi, mungkinkah jeda yang saya hadapi hanya sekedar jeda mengenai kekosongan? Sekedar pantulan dari
rasa bosan menjalani hari-hari yang selalu bertemu dengan skala dan jadwal yang sama? Bangun pagi, lalu
memperkerjakan diri untuk mengejar semua yang belum pernah saya miliki? Hanya untuk memperlihatkan kepada semua orang bahwa saya bukan orang yang malas
berjuang.
Entah sejak kapan, bahwa ternyata, semakin kamu menjauh, semakin kamu tidak
menjadi orang asing dalam pikiran saya. Kita memang tidak pernah telibat
apa-apa. Kita juga tidak pernah bertanya tentang siapa diri kita. Hanya saya,
yang terus mengikuti kemana kamu pergi sejauh apapun langkah itu. Saya seperti sedang
mengikuti orang asing dari belakang. Dari jarak yang jauhnya tidak terukur oleh
kita tapi saya yang tentukan sendiri. Di sini, saya hanya tinggal menunggu kapan saya lelah
mengikuti dan berjalan di belakang, kemudian saya akan berhenti bertanya lalu
berlaku seperti tidak pernah ada apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar