Kamis, 21 Juni 2012

Malam 21Juni, 2012


“Dear Allah SWT, 5 menit lagi, kesempatan hidup saya berkurang lagi satu tahun.  Sekarang umur saya menjadi 23 tahun dan… masih banyak lagi target yang belum tercapai. Allah Yang Maha Menyayangi, tolong sayangi saya sampai akhir khayat saya ya…” – malam 21 juni, 2012.

Minggu, 10 Juni 2012

Selamat Tinggal


Sungguh, kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi di depan sana. Dua tahun sudah berlalu, tetapi, sepertinya kamu tetap ada di sini. Di relung yang dalamnya tidak pernah terukur. Sejak saya memutuskan berlalu, dan memilih mencari penggantimu, sebenarnya, saat itu saya sedang menipu diri saya sendiri.

Waktu itu, saya sangat terpaksa memalingkan wajah karena saya tahu, di matamu, saya sudah tidak ada. Waktu itu juga, dengan sangat tidak rela, saya tetap menutup pintu untuk kamu, padahal saya tahu, hati saya masih berharap suatu saat kamu akan melewati pintu itu lagi. Kamu memang melewatinya, dan saya yang dengan kasar, mengusirmu agar segera berlalu dari sana.

Lucky, kita berdua tahu, betapa sulitnya berjalan berdua dengan banyak rasa curiga, tidak percaya. Terutama kamu, kamu sangat insecure. Bukan sebentar kita menjual kebahagiaan untuk hanya sekedar meyakinkan kita berdua, bahwa di tangan kita berdua akan baik-baik saja.

Melewati semua yang tidak mudah denganmu adalah bangku sekolah yang sangat mahal. Dengan tingkat yang kita ciptakan sendiri tahun demi tahun. Empat tahun bersama, kita berubah dari yang tadinya masih anak-anak menjadi dua orang yang sedang belajar dewasa. Sifat dan sikapmu yang bening membuatku berkaca, bahwa sabar itu tidak pernah berbatas. Kasih sayang dan caramu melayani serupa daun yang lembut jatuh tepat di tubuhku. Melihatkan pada dahan-dahan, bahwa daun yang jatuh, mampu membuat angin merasa sempurna.

Namun pada akhirnya, kita berdua menyerah pada keadaan yang sama-sama kita takutkan. Kita berdua kehausan karena lelah. Lalu, kita harus menyerah untuk sekedar melepaskan dahaga yang panjang. Saya dan kamu tahu, dahaga itu hanya butuh dibasuh oleh kepercayaan kita sendiri. Lucky, sampai hari ini saya masih membayangkan. Seandainya saja, kejadian-kejadian bodoh masa lalu itu tidak pernah terjadi, mungkin kita sudah sampai pada tujuan kita berdua. Seandainya saya dan kamu tidak teranjur membenci, seandainya kita tidak terlanjur saling menyerang.

Di bulan yang seharusnya menjadi milik kita berdua, saya berharap, semoga kita bisa saling melepaskan diri dan menerima. Saya mendoakanmu selalu dilimpahkan kebaikan, usia yang panjang, dan kehidupan yang berbahagia. Saya berjanji, jika nanti kita bertemu lagi, saya tidak akan pernah mengingat-ingat doa-doa lain sebelum hari ini. Dan jika waktu yang tidak sengaja nanti mempertemukan kita, akan saya kenalkan kepadamu, pendamping hidup saya yang begitu saya cintai. Selamat jalan Lucky. Bahagia hidup kita ternyata milik semua orang. Bukan milik kita berdua. Baik-baik menjalani semuanya ya. Ini bagian paling terakhir dari saya.

Selasa, 05 Juni 2012

Selamat Mengulangi 23 Tahun, Pria Hebat


Hari ini, dua kali kamu berganti usia tanpa saya ya? :’) Semuanya tetap indah kan ternyata? Seperti kata-kata saya dulu, semua, pasti baik-baik saja. Dengan, atau tanpa saya. Semua yang kamu lakukan, yang kamu harapkan, kamu inginkan, cita-citakan, doa-doa yang kamu panjatkan, dan segalanya tentang kebaikanmu, akan saya rekatkan dalam hidupmu dengan aminku kepada-Nya.
Kamu harus percaya, Tuhan selalu punya cerita yang nggak akan bisa kita duga sebelumnya. Seperti yang terjadi pada kita. Bertahun-tahun susah payah bertahan, ujung-ujungnya jatuh juga. Pisah-pisah juga. Dan… selesai, sudah. Mungkin, waktu tahun lalu kita lagi nangis-nangis berdua, Tuhan sedang menertawakan kita, atau sedang menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “ini anak dua nggak percaya juga, kalian tuh nggak akan bisa sama-samaaa…!”

Dan terjadilah. April 2011, bukan lagi menjadi tahun kita. Tepat di tahun ke empat setelah pertemuan kita itu. Kamu, tapi hari ini kamu baik-baik aja kan? YaSemoga baik ya, sebab kamu sedang berulang tahun. Dan memang, harusnya kamu selalu baik. Kamu nggak cocok kalau sakit. Badan kamu itu, bukan badan yang pantas untuk sakit. Tinggi, besar.

Maaf ya, saya berdoa dari balik kehadiran yang tidak mampu kamu baca. Mungkin saya akan kalah dari teman-teman saya yang sudah mendoakanmu secara langsung di hadapanmu, di akun twittermu, di wall facebookmu, atau apapun. Tapi saya mau sombong, saya langsung mengucapkannya di hadapan Tuhan saya sekaligus Tuhanmu. Tanpa ada satupun yang tahu.

Selamat mengulang 23 Tahun, Pria Terhebat. Teman terbaik sepanjang saya hidup dan sepanjang saya berteman. Semoga Mama-Papa, adik-adik, semakin membanggakanmu. Saya tak ingin mengganggu apa yang sudah jauh darimu, jika hari itu saya memutuskan untuk pergi, hari ini saya harus bersedia untuk tidak menghubungi lagi, datang lagi, menampakkan diri lagi

Saya cupu banget? Tidak berani masuk ke kehidupan kamu lagi? Bukan, bukan karena tidak ingin. Tapi saya takutt susah keluar lagi dari hidup kamu. Banyak hal yang saya nggak suka dari kamu, makannya saya menjauh. Awalnya saya berpikir, perbedaan akan indah jika dijalani. Tapi lama-lama, akan terpikir, jika perbedaan itu menjadi penghalang, salah satu dari kita harus mampu mengakhiri. Memang bukan kamu yang mengakhiri itu. Tapi seolah kamu memberikan kesempatan kepada saya untuk mengakhiri lebih dulu apa yang tidak bisa kamu akhiri. Sebenarnya kita sama-sama tidak bisa mengakhiri, tapi akhirnya saya pura-pura bisa. Dan kamu?

Sudahlah. Semua praduga caci maki yang kamu kirim melalui pesan kepada saya, saya jawab sekaligus di sini. Juga maaf, untuk menjadi temanmu saja saya tidak mampu. Hm. Pokoknya selamat ulang 23 tahun ya. Kita sudah dewasa, tapi masih terlalu kanak-kanak untuk sekedar bertatap muka. Kita mungkin sudah sama-sama kuat untuk jalan sendiri-sendiri, tapi masih terlalu rapuh jika harus bersinggungan lagi. Saya bingung harus apa. Tapi bagi hidupmu, doa saja sudah cukup bukan? Selamat ulang tahun, pria hebat. Saya berdoa, kamu akan berdiri sama hebat dengan siapapun pendampingmu nanti.