#1
Aku tahu, kamu
bukan tipe seorang yang senang member kejutan. Bukan tipe seorang yang senang
diberikan kejutan pula. Tapi sayangnya, aku dan kamu berbeda. Aku seorang yang
senang dibahagiakan dengan cara-cara yang tidak bisa ditebak.
Boneka Cars itu,
kamu belikan untukku ketika kita sedang sama-sama berada di Gramedia. Dulu,
ketika kamu sedang membayar boneka itu di kasir, aku deg-degan bahagia.
“Akhirnya, aku punya boneka juga dari kamu,” dalam hatiku. Sebab benda pertama
yang kamu berikan adalah buku… buku yang kamu titip beli lewat Mbak Dora. Phft
:’|
Iya, dulu, waktu
kita sibuk antri di kasir, dan kamu membayar, aku deg-degan. Aku ke-ge er-an,
berasa jadi wanita yang paling sedang dimanjakan kekasihnya. Sekarang? Hahaha.
Sekarang, kalau aku melihat Cars itu lagi, malah tertawa geli. “Mau-maunya dulu
gue dibeliin boneka tapi bentuknya mobil. Gak ada manis-manisnya. Gak ada
imut-imutnya, cih!”
Menyesal? Oh,
enggak kok. Tidak ada lagi yang perlu disesalkan, karena semuanya sudah lewat.
Semuanya sudah berakhir. Dan fyi, ex, boneka itu aku simpan, karena adik
sepupuku yang terlanjur memilikinya. Kebetulan dia suka Cars, dan dia pindahkan
boneka itu ke kamarnya. (Ini bukan alibi, aseli).
Lalu, boneka
yang di sebelahnya apa?
Iya, itu Simon.
Aku namainnya Simon, “Si Monyet”. Kado ulang tahun dari kamu, setelah kita
bukan siapa-siapa. Aku bingung, kenapa kamu malah mendadak jadi romatis ketika
aku sudah bukan siapa-siapa kamu. Ketika kita sudah tidak memiliki mimpi
apa-apa, kamu malah hadir lagi menjadi sosok yang paling ingin kumiliki. Ini
kah trik terbaikmu? Yang membuat aku selalu ingin kembali karena merasa bahwa
kamu sudah berubah menjadi apa yang kuingin?
Aku tidak bisa
menjawab. Kamu tidak bisa menjawab. Tapi mungkin, Simon bisa menjawab.
#2
“Jangan lupa
bawa jaket ya, nanti panas,” katamu, selalu.
Aku pelupa, dan
kamu adalah pengingat yang baik di setiap lupaku. Mengingatkan untuk tidak
tidur terlalu pagi ketika aku lupa waktu. Mengingatkan untuk selalu hati-hati
agar aku tidak lupa untuk selalu menjaga diri. Dan lain sebagainya, dan seperti
kamu apa adannya.
Lalu, apa yang
terjadi setelah baru-baru kamu pergi? Aku sering kesiangan masuk kuliah, aku
sering ditegur karena terlambat. Aku sering pulang lagi ke rumah karena ada
yang tertinggal dan yang pasti, aku semakin sering putar balik karena aku
selalu lupa arah jalan. Aku merasa, sebelumnya, aku tidak pernah merasa
sesendirian seperti ini, tapi balik lagi, ketika aku melihat jaket biru ini,
aku selalu ingat dengan pesanmu. “Inget-inget aja waktu aku kasih jaket ini,
kamu gak akan pernah sendirian selama dia masih ada.”
Aku menyimpannya
sampai hari ini. Bukan untuk mengingat-ingat apa yang sudah lewat. Tapi aku berusaha
untuk menghargai setiap detail apapun pemberian-Nya. Termasuk bahwa kamu pernah
memberikan benda kesayanganmu sejak dari masuk SMA, untuk kamu titipkan
denganku. Aku setuju denganmu, apa yang sudah kita berikan, tidak perlu kita
terima jika mantan ingin mengembalikannya lagi. “Haram hukumnya, menerima
apa-apa pengembalian mantan,” okesip! : ))
#3
How sweet you
are, my (ex) darling, ketika ingin selalu mengingat apa-apa yang pernah kita
lakukan. Dan, buku ini menjadi saksi beberapa kilometer perjalanan kita selama
beberapa bulan atau hari. Ini adalah rekam jejak perjalanan kita menghabiskan
waktu dan harta, haha.
Aku agak kaget
waktu itu, waktu melihatmu, tiba-tiba mengeluarkan buku sebegini lucu covernya
dari tas belel kesayanganmu itu. Pikirku, kamu hanya akan bersensasi untuk
memiliki buku catatan kuliah dengan motif polkadot-polkadot yang bukan kamu
banget. Tapi ternyata salah, buku itu kamu keluarkan, lalu kemu berikan padaku,
hari itu juga.
“Ini, kamu isi,
setiap kita dari mana, hari ini. Di sini kamu tulis tanggal, terus, di sini
kamu tulis tujuan. Kalau ada struck, atau nota, atau tanda-tanda apa kaya
misalnya tiket nonton atau apa, kamu tempelnya di sini. Kamu suka merah hitam,
kan? Ini pulpennya merah hitam, aku bawain. Kamu tinggal tulis aja, ya. Jadi
nanti kalau kita udah berapa tahun, kita punya kenangan buat ngeteh-ngeteh
sambil ada yang dibahas. Gak apa-apa kan, kamu yang tulis? Tulisanku jelek
soalnya. Oke ya?”
Oke, Bos! ('-')9 Okeee...
Kamu menjelaskan
A-B-C-D tanpa jeda, tanpa menarik napas, tanpa titik dan koma. Di sana aku
melihat semangatmu yang menggebu-gebu. Tidak mungkin aku bilang tidak setelah
kamu menginstrusikanku sedemikian rupa. Dan sejak hari itu, aku menuliskan
semua perjalanan kita, dengan caraku, dengan keinginanmu. Buku ini merekam
semua jejak-jejak perjalanan kita. Hingga akhirnya, kita memutuskan untuk tidak
lagi bersama.
#4
Namaku jari manis sebelah kiri, bersediakah kau melingkariku sebagai janji? - @topeng2kaca

Setiap melihat
benda ini, aku melihat, seperti ada bagian yang hilang, namun masih tertinggal
di sini. Rencana demi rencana, keinginan demi keinginan, serta doa-doa dan
harapan, harus berhenti pada kenyataan, bukankah bersama tidak harus memiliki?
Iya. Aku minta
maaf atas perpisahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Perpisahan setelah
cincin ini melingkar sebagai janji untuk terus bersama. Ternyata, kenyataannya
berbeda, cincin saja tidak mampu mengikat kita untuk bisa terus sama-sama.
Masih banyak perkara rumit yang harus diselesaikan, masih banyak tanda tanya
yang akhirnya tidak menemukan jawaban.
Walau
sebenarnya, aku masih mengingat cahaya itu, ketika kamu melingkarkan cincin itu
di hadapan mereka. “Semoga menjadi pasangan yang langgeng ya,” doa-doa mereka.
Tapi mungkin, saat itu kita berdua terbuai suasana, hingga lupa mengamini dan hanya
berharap pada benda kecil itu.
Oh ya, ada
pertanyaan yang sampai hari ini belum sempat kutanyakan. Jika kamu membaca ini,
tolong segera kirimkan jawabannya ya. “Bagaimana caranya, kamu mendapat benda
secantik itu dan sangat pas di jari manisku sebelah kanan?” : )
#5
Ini penting, bahkan yang terpenting:
Bagaimana baiknya benda-benda ini kupelihara sedangkan aku tak ingin membuangnya juga tidak ingin menyakiti hati yang kini bersanding di sebelah hatiku?
Catatan:
Tulisan ini untuk Pameran Patahati 2. Diselenggarakan di Yogyakarta, 14-16 Februari 2013.


