Jumat, 31 Januari 2014

Canceled


"Bayu, saya sedih baca ini. Kita nggak jadi ke mana-mana padahal ada libur tiga hari..." :’((



Sincerely,
Me.

Rabu, 29 Januari 2014




"Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari biar dikejar. Sebab berjuang tidak sebercanda itu." - Sudjiwo Tedjo


Sabtu, 25 Januari 2014

The Secret of Walter Mitty


Ini adalah film pertama yang saya tonton pada tahun 2014. Dengan Bayu. Biasanya, saya hanya akan menonton film setelah saya tahu jalan ceritanya melalui sinopsis atau review dari penonton sebelumnya. Atau, jika film tersebut diangkat dari sebuah novel, maka saya akan menyaksikan dulu bagaimana karakter novel tersebut. Rumit? Ya. Tetapi kerumitan itu beralasan.Berbeda dengan kali ini. Atas permintaan Bayu, saya akhirnya menonton The Secret of Walter Mitty.

Mungkin kita semua adalah Walter Mitty. Mungkin kamu pun adalah Walter Mitty. Atau sebenarnya saya dan kamu adalah Walter Mitty, yang memiliki kehidupan membosankan dan terjebak pada rutinitas sehari-hari. Bangun pagi, lalu melawati hari yang itu-itu lagi. Bekerja di tempat yang sebenarnya kita inginkan, atau justeru di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita sampai lupa bagaimana caranya bersenang-senang. Bagaimana caranya melakukan petualangan dalam hidup.

Mungkin, satu-satunya petualangan yang dapat Walter Mitty lakukan adalah melamun. Membayangkan banyak hal yang seharusnya dapat ia lakukan jika saja ia tidak terjebak pada rutinitas di kantor majalah yang paling terkenal itu. Mitty seolah membangun kehidupannya yang lain dalam lamunannya. Saya? Saya tidak ingin seperti Mitty. Yang hanya mampu merasakan petualangan hidup dalam lamunan saja. Walaupun sebenarnya, saya dan Mitty sama-sama mempunyai kehidupan lain yang sering melintasi lamunan.

Sampai pada akhirnya, ada sebuah kejadian yang mampu mendobrak keberanianannya untuk memulai petualangan dalam hidupnya. Menemukan potongan foto yang akan menjadi cover untuk majalahnya. Seperti pada dunia yang nyata. Terkadang, hidup memang membutuhkan kejadian-kejadian kecil yang tidak pernah terduga untuk membuat sebuah perubahan besar. Mengajak nyali-nyali melakukan pembuktian bahwa bertualang bukan berati menantang.

Jika bagian yang kecil itu bisa disebut sebagai dunia yang lain dari setiap manusia, saya rasa, semua dari kita pasti memiliki dunia lain itu yang kita simpan, sambil berharap, suatu hari nanti dunia itu akan kita datangi. Dan kita akan bertarung untuk memilikinya. Bahkan sekedar untuk menemukan diri sendiri. Dengan menyusun sebuah hidup yang besar, lalu memulai perjalanan yang panjang.

Dari seorang Walter Mitty saya belajar untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Menyuunn hidup yang besar lalu melakukan perjalanan panjang tersebut adalah pertarungan untuk mendapatkan dunia yang saya inginkan. Seperti tahun ini, ketika saya menginginkan banyak hal besar terjadi dalam hidup saya. Sambil saya pelan-pelan mengumpulkan keberanian untuk memenangkan hidup yang akan saya pertaruhkan. Sampai saya menemukan jurnal perjalanan yang indah dan bisa saya banggakan. Bukan untuk diperhatikan banyak orang, tetapi untuk catatan dalam diam ketika sedang merasa terjebak.

Jumat, 24 Januari 2014

Terima Kasih


Terima kasih sudah menjemput, Mas Bayu. Sudah menemani dan mengantar bolak-balik. Maaf merepotkan dan membuat bete. Tapi, nggak perlu sejujur itu bisa kali. :D

Rabu, 01 Januari 2014

Resolusi, Yay or Nay?

Nay! Kenapa? Setelah hari-hari yang dilewati semakin berarna, cerah, kelabu, shocking, soft, dan berbagai kelompok warna lainnya, akhirnya saya mengerti, hidup takkan lagi semudah ekspektasi dan resolusi. Makanya semakin tua, semakin saya mendengar, “sudah lah, nggak usah berharap banyak.” Yang terkadang bikin kita jadi jalan di tempat. Tetapi, beban rasanya hilang. Terutama karena tidak berekspektasi tinggi terhadap apapun dari siapapun.

Sebelumnya, saya dalah orang yang selalu rumit dengan target. Short term maupun long term. Setting short term target, lalu temple di dinding. Fokus, tandai. Kalau tidak tercapai? Nyaris down. Nyaris. Atau perihal long term target, belum sampai waktunya jatuh tempo, saya sudah stress, “akan tercapai nggak ya?” Selalu begitu. Makanya hampir tidak ada waktu memikirkan pasangan karena hal itu tidak termasuk dalam short target, dan kalau bisa memang jangan dulu. Saya masih mau kerja gila-gilaan. Begitu alibinya setiap kali ditanya kenapa saya masih sendiri.

Rasanya, mulai hari ini saya ingin menjalani hidup lebih apa adanya. Alasannya karena beberapa sudah tercapai, beberapa mundur, dan beberapa mengalami perubahan prioritas seiring berubhnya waktu dan usia. Tahun ini, mudah-mudahan tidak sekedar wacana, saya ingin menjadikan tahun yang sangat fleksibel. Dinamis, tidak lagi statis seperti tahun sebelumnya.

Bahasa yang sangat klasik memang, kalau tidak mau kecewa, jangan pernah berharap apa-apa. Ada benarnya, berharaplah pada hal-hal yang sudah pasti saja. Tetapi, di waktu yang lain, bahasa klasik itu di bantah oleh seorang Bong Chandra. “Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah kita menangkan,” katanya. Jadi, bagaimana? Harus kembali bahwa kita harus membuat list pertaruhan hidup seperti saya kemarin? Atau memegang teguh bercandaan seorang teman yang hampir basi. “Kamu jangan lupa bahagia ya, nanti matik.”

Toh hidup ujung-ujungnya apa sih, kalau bukan untuk bahagia? Lahir dan batin. In sha Allah kalau bisa malah di dunia dan akhirat. Yang jadi pertanyaan, mungkin nggak, kebahagiaan yang akan menjadi milik kita, bisa kita raih tanpa target? Jadi, resolusi bagaimana?