Kamis, 18 Juli 2013

Untuk M. Irfan Ramly


“Lina, kamu sudah baca buku ini? Ini buku yang bagus.”

“Belum, Mas.”

“Oke, aku belikan ini untukmu.”


Lantas, kamu berikan buku itu pada saya, meminta saya untuk membacanya. Hingga beberapa hari kemudian, kamu pasti akan bertanya, “bagaimana bukunya? Bagaian mana yang paling kamu suka?” Selalu begitu, tidak pernah berubah. Tetapi saya menyukainya.

Seperti yang pernah kamu katakana dulu, diam-diam kamu mendoakan saya. Dan seperti yang pernah saya katakana kemarin, diam-diam, kamu membaca saya. Ada bait-bait dalam buku itu yang ketika saya membacanya, saya menjadi ingat, bahwa itu adalah dirimu.

Pada pertengahan bait pertama, aku membaca mengenai hal-hal yang selalu kamu lakukan. Dan yang kerap kamu katakan, “selama mau belajar dari berbagai hal, maka menjadi tua tentu tidak begitu terasa menyakitkan.” Itu adalah kamu dengan segala kerumitan isi kepalamu. Seorang yang selalu ingin belajar, dan ingin menjadi dosen. Lalu menjadi tua di Yogyakarta. Seperti keinginanmu. Malah beberapa kali, kamu menawarkan diri membawa serta saya tinggal di sana. “Aku bayarin kau tinggal di sana, Lina.” Saya hanya bisa tersenyum. Kamu begitu nekat mengatakan hal itu.

Lalu pada awal bait ke dua puluh enam, “ mengisahkan orang yang telah mati adalah pekerjaan yang sangat sulit, tetapi mengisahkan perempuan yang mati muda jauh lebih sulit lagi.” Saya ingat, untuk pertama kalinya, kamu mengatakan hal yang tidak akan pernah saya lupa. Tentang perempuan yang jika diibaratkan sebuah buku, maka ia adalah buku yang tidak akan pernah bisa selesai jika kamu mencoba untuk membacanya. Dan tidak hanya itu, kamu selalu bersedia mendongeng tentang cerita masa lalumu yang tidak kamu simpan sendiri.

Lalu, semakin ke dalam lagi saya membuka halaman demi halamannya. Semakin saya menemukan bagaimana kamu selalu memberikan saya hadiah berupa buku-buku yang baik untuk diresapi maknanya. Sebut saja yang terakhir kamu berikan, Mimpi-Mimpi Einstein. Jika Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa hadiah bukanlah janji, adakah kamu akan memberikan janji yang lain, yang tidak berupa hadiah-hadiah yang selalu kamu antarkan sendiri untuk saya? Kamu, selain seorang pemberi hadiah yang baik juga seorang penyimpan rahasia yang sangat ulung di mata saya. Terima kasih untuk Dengarlah Nyanyian Anginmu, Irfan Ramly.