Sementara
teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya
kau jatuh
Sementara ingat
lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau
ingkari lagi
Percayalah hati
lebih dari ini
Pernah kita
lalui
Jangan henti
disini
Sementara
lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku
hanya ada kau dan aku
Dan sementara
akan kukarang cerita
Tentang mimpi
jadi nyata
Untuk asa kita
berdua
Percayalah hati
lebih dari ini
Pernah kita
lalui
Takkan lagi kita
mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti
disini
==
Saya seperti disihir oleh lagi ini. Begini, seperti juga udara,
hati juga seharusnya diberi ruang agar ia menemukan ‘tempatnya’ sendiri. Lirik
ini tidak berbelit-belit. Persis seperti hati saya sekarang. Setelah
berhari-hari meributkan hal yang saya sendiri tidak tahu jawabannya, akhirnya,
untuk sementara ini, saya memutuskan pasrah. Biarkan dia maunya apa. Saya tidak
akan ganggu dulu.
Dari lirik ini,
seolah saya berkaca, teduhlah sejenak – jangan jatuh dulu. Kita berdua masih
punya mimpi, kita berdua masih terikat janji. Meskipun (mungkin) keduanya
sama-sama diucapkan dalam hati, tapi percayalah, lebih dari ini pernah kita
lalui.
Tidak ada yang
meleset satu bait pun. Lagi ini menceritakan bagaimana saya dihadapannya. Gegap,
tetapi sendiri. Kadang penasaran, kadang rindu, kadang mencari, kadang malu-malu.
Kadang sesekali ia hadir, kadang ia menghilang. Dan ketika saat menghilang itu
datang, inilah waktu saya untuk menyingkirkan dulu rindu. Sambil berharap,
suatu hari nanti, apa yang pernah menjadi mimpi-mimpi saya dengannya akan
menjadi nyata. Makanya, saya nggak mau berhenti sampai di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar