Sabtu, 22 Februari 2014

Sementara

Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini

==

Saya seperti disihir oleh lagi ini. Begini, seperti juga udara, hati juga seharusnya diberi ruang agar ia menemukan ‘tempatnya’ sendiri. Lirik ini tidak berbelit-belit. Persis seperti hati saya sekarang. Setelah berhari-hari meributkan hal yang saya sendiri tidak tahu jawabannya, akhirnya, untuk sementara ini, saya memutuskan pasrah. Biarkan dia maunya apa. Saya tidak akan ganggu dulu.

Dari lirik ini, seolah saya berkaca, teduhlah sejenak – jangan jatuh dulu. Kita berdua masih punya mimpi, kita berdua masih terikat janji. Meskipun (mungkin) keduanya sama-sama diucapkan dalam hati, tapi percayalah, lebih dari ini pernah kita lalui.

Tidak ada yang meleset satu bait pun. Lagi ini menceritakan bagaimana saya dihadapannya. Gegap, tetapi sendiri. Kadang penasaran, kadang rindu, kadang mencari, kadang malu-malu. Kadang sesekali ia hadir, kadang ia menghilang. Dan ketika saat menghilang itu datang, inilah waktu saya untuk menyingkirkan dulu rindu. Sambil berharap, suatu hari nanti, apa yang pernah menjadi mimpi-mimpi saya dengannya akan menjadi nyata. Makanya, saya nggak mau berhenti sampai di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar