Selasa, 31 Desember 2013

2014


Seperti pada akhir dan awal tahun-tahun sebelumnya, masih banyak evaluasi yang memaksa diri ini untuk berbenah lagi. Berbenah lagi, dan terus berbenah. Tahun 2013, bagi saya sendiri adalah tahun yang sangat bergejolak. Mungkin tahun yang paling bergejolak yang pernah saya lewati.

Tahun 2013 adalah tahun pertama, di mana saya merasa, bahwa ikhlas yang sebenarnya yang seperti ini; di mana kita berada pada titik terendah, tetapi semua kita rasakan penuh syukur dan baik-baik saja. Pertama yang saya ingat ketika menutup tahun adalah, “Allah masih sayang banget sama gue.” Tidak banyak yang tahu, tapi seharusnya memang tidak perlu semua orang tahu, gejolak kehiupan yang saya alami semoga membuat lebih matang. Di mana, ketika pertengahan tahun, keluarga saya mengalami fluktuasi karir yang sangat signifikan. Satu-satunya penopang kebutuhan seluruh keluarga harus berhenti bekerja karena orang lain memfitnahnya.

Masih ingat, minggu-minggu itu, rasanya dada saya sangat sempit untuk bernafas. Semua ruang yang ada di dalam dada, sepertinya sudah habis dengan rasa takut. Penug dengan pertanyaan ‘bagaimana kalau ini,’ ‘bagaimana kalau itu,’ dan seterusnya yang saya sendiri tidak pernah membayangkan jawabannya. Minggu, dimana salah satu orang yang paling saya sayangi mendatangi saya ke dalam kamar, sambil berbasah-basah air mata, beliau bicara tertatih langsung di depan saya. “Bayun, sekarang tugas kamu untuk menjaga adik-adik kamu semua. Cari uang yang banyak buat nge-biaya-in semuanya. Anak-anak masih kecil.”

Mendengar itu, sebenarnya saya gemetar. Inilah waktu yang paling saya takutkan semuanya. Ketika roda itu berputar dan saya mengalami porosnya yang terbawah. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu saya menarik napas panjang sekali, tapi berusaha untuk terlihat tenang dan seolah semua baik-baik saja. “Semua ada waktunya Tante, mungkin sekarang giliran Bayun sama Abang buat handle semuanya. Kita nggak akan kenapa-kenapa, kok.” Lalu saya duduk di samping perempuan kesayangan saya, yang usianya lebih dari setengah abad itu. Salah satu perempuan yang paling saya sayangi selain Ibu saya. Di samping beliau, saya ingin menjadi sandaran yang kokoh jika beberapa waktu ke depan, beliau merasa runtuh atau limbung. Saya terus tersenyum. Walau pasi, saya yakin, senyuman itu bisa member kekuatan walaupun setengah-setengah.

Air mata beliau terus jatuh dari pelupuk matanya yang teduh. Saya mencoba untuk tidak berairmata siang itu. Untuk kali ini, air mata hanya akan merapuhkan dinding keyakinan beliau, bahwa saya mampu menjalankan tugas yang diserahkannya siang itu. Saya ambilkan tissue, lalu, saya basuk pipi-pipi beliau. “Tenang ya Tante, kita pasti gak akan kenapa-kenapa.” Ketika begitu agak tenang, Tante saya meninggalkan kamar. Dan kali ini, saatnya saya menyerahkan hidup kepada Allah. Saya ingat pesan yang pernah say abaca dari buku biografi seorang atris idola saya, Yuni Shara. Yuni bilang, menangislah hanya ketika kita mengambil air wudhu dan berada di atas sajadah. Ya, siang itu, saya melakukannya. Saya menyerahkan semua rasa takut pada Allah, jika memang ini yang terbaik, berikan jalan, kekuatan, kemudahan, keringanan, untuk meewati semuanya. Kalaupun saya ternyata kelelahan, tolong jangan perlihatkan lelah ini di depan siapapun, terutama keluarga yang paling menyayangi saya. Begitu doa saya.

Alhamdulillah, Allah sayang banget sama saya. Semua jalan Dia bukakan. Pintu-pintu rezeki yang baru sepertinya sudah dipersiapkan-Nya untuk sekolah anak-anak. Setelah hari itu, saya menjadi orang yang kelihatannya sibuk mengejar semuanya. Menjadi insomnia, jadi tidak bisa lepas dengan email, telepon genggam dan lain-lain. Sampai akhir tahun ini, enam bulan sudah perubahan itu berjalan. Ibarat merenovasi rumah, mungkin saya hanya butuh beberapa waktu untuk mendapatkan desain rumah yang baru. Tetapi, semua rancangan, bahan bangunan, tukang, sudah dipersiapkan. Tinggal bagaimana saya mengolah rasa syukur. Dan, ya, tidak ada yang berubah. Semua masih baik-baik saja. Kehidupan saya baik-baik saja, keluarga saya baik-baik saja. Saya merasa, kami, sekeluarga besar semakin kompak. Mungkin ini adalah hikmahnya. Untuk tahun-tahun ke depan, masih sama doanya, semoga keluarga ini selalu dalam lindungannya.

2013 adalah tahun, di mana saya masih sendiri. Sempat beberapa bulan menjadi pacar dari laki-laki pendiam, ramah, tidak humoris, tetapi penyayang bernama Citra Agung. Tapi kemudian, saya anggap, itu hanya iseng-isengnya orang yang sudah terlalu lama sendiri. Hahaha. Pacaran tidak pernah mau ke rumah. Bertemu dengan Ayah dan Mama sekedar pamitan pergi tidak mau. Komitmen yang dibangun pun hanya sebatas “iya, aku juga sayang kok sama kamu.” Selesai. Begitulah yang terjadi. Hanya ramai-ramai di twitter, sampai heboh-heboh pas putus, tetapi tidak berkesan apa-apa. Hehe. *digebukin*

Terlepas dari semua yang terjadi, saya masih bersyukur dengan semua yang lewat. Berkali-kali sering nyeletuk, “ternyata Allah sayang banget sama gue.” Untuk banyak hal. Alhamdulillah juga, pekerjaan yang sedang saya jalani semakin baik, punya bos yang super baik. Rekan-rekan yang super baik, super perhatiannya, semuanya. Saya bersyukur atas semua itu. Juga Alhamdulillah, untuk pernikahan kedua sahabat saya, Annisa Nadzirani dan Falla Adinda. Chacha menikah Maret 2013, dan Falla Juni 2013. Untuk mereka, doa saya selalu mengalir deras. Semoga Chacha dan Falla bahagia terus rumah tangganya. Chacha dengan A’ Bisma. Juga Falla dengan A’ Juno. Pesan singkatnya, semoga tida terus bertanya saya kapan nyusul. Melihat kedua sahabat mempersiapkan pernikahan kadang membuat saya iri, kapan saya bisa sesibuk itu mempersiapkan pernikahan. Tetapi sekali lagi, Allah sudah paling tahu, kapan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan saya. Juga untuk teman-teman saya yang selama ini baik menemani saya siang malam, jungkir balik ke mana-mana. Semuanya. Saya bersyukur sekali atas indah pertemananannya.

2014? Semoga Allah selalu menuntun saya dari langkah pertama, hingga nanti. Langkah terakhir entah di tahun berapa. Bismillah untuk langkah pertama.