Selasa, 31 Desember 2013

2014


Seperti pada akhir dan awal tahun-tahun sebelumnya, masih banyak evaluasi yang memaksa diri ini untuk berbenah lagi. Berbenah lagi, dan terus berbenah. Tahun 2013, bagi saya sendiri adalah tahun yang sangat bergejolak. Mungkin tahun yang paling bergejolak yang pernah saya lewati.

Tahun 2013 adalah tahun pertama, di mana saya merasa, bahwa ikhlas yang sebenarnya yang seperti ini; di mana kita berada pada titik terendah, tetapi semua kita rasakan penuh syukur dan baik-baik saja. Pertama yang saya ingat ketika menutup tahun adalah, “Allah masih sayang banget sama gue.” Tidak banyak yang tahu, tapi seharusnya memang tidak perlu semua orang tahu, gejolak kehiupan yang saya alami semoga membuat lebih matang. Di mana, ketika pertengahan tahun, keluarga saya mengalami fluktuasi karir yang sangat signifikan. Satu-satunya penopang kebutuhan seluruh keluarga harus berhenti bekerja karena orang lain memfitnahnya.

Masih ingat, minggu-minggu itu, rasanya dada saya sangat sempit untuk bernafas. Semua ruang yang ada di dalam dada, sepertinya sudah habis dengan rasa takut. Penug dengan pertanyaan ‘bagaimana kalau ini,’ ‘bagaimana kalau itu,’ dan seterusnya yang saya sendiri tidak pernah membayangkan jawabannya. Minggu, dimana salah satu orang yang paling saya sayangi mendatangi saya ke dalam kamar, sambil berbasah-basah air mata, beliau bicara tertatih langsung di depan saya. “Bayun, sekarang tugas kamu untuk menjaga adik-adik kamu semua. Cari uang yang banyak buat nge-biaya-in semuanya. Anak-anak masih kecil.”

Mendengar itu, sebenarnya saya gemetar. Inilah waktu yang paling saya takutkan semuanya. Ketika roda itu berputar dan saya mengalami porosnya yang terbawah. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Lalu saya menarik napas panjang sekali, tapi berusaha untuk terlihat tenang dan seolah semua baik-baik saja. “Semua ada waktunya Tante, mungkin sekarang giliran Bayun sama Abang buat handle semuanya. Kita nggak akan kenapa-kenapa, kok.” Lalu saya duduk di samping perempuan kesayangan saya, yang usianya lebih dari setengah abad itu. Salah satu perempuan yang paling saya sayangi selain Ibu saya. Di samping beliau, saya ingin menjadi sandaran yang kokoh jika beberapa waktu ke depan, beliau merasa runtuh atau limbung. Saya terus tersenyum. Walau pasi, saya yakin, senyuman itu bisa member kekuatan walaupun setengah-setengah.

Air mata beliau terus jatuh dari pelupuk matanya yang teduh. Saya mencoba untuk tidak berairmata siang itu. Untuk kali ini, air mata hanya akan merapuhkan dinding keyakinan beliau, bahwa saya mampu menjalankan tugas yang diserahkannya siang itu. Saya ambilkan tissue, lalu, saya basuk pipi-pipi beliau. “Tenang ya Tante, kita pasti gak akan kenapa-kenapa.” Ketika begitu agak tenang, Tante saya meninggalkan kamar. Dan kali ini, saatnya saya menyerahkan hidup kepada Allah. Saya ingat pesan yang pernah say abaca dari buku biografi seorang atris idola saya, Yuni Shara. Yuni bilang, menangislah hanya ketika kita mengambil air wudhu dan berada di atas sajadah. Ya, siang itu, saya melakukannya. Saya menyerahkan semua rasa takut pada Allah, jika memang ini yang terbaik, berikan jalan, kekuatan, kemudahan, keringanan, untuk meewati semuanya. Kalaupun saya ternyata kelelahan, tolong jangan perlihatkan lelah ini di depan siapapun, terutama keluarga yang paling menyayangi saya. Begitu doa saya.

Alhamdulillah, Allah sayang banget sama saya. Semua jalan Dia bukakan. Pintu-pintu rezeki yang baru sepertinya sudah dipersiapkan-Nya untuk sekolah anak-anak. Setelah hari itu, saya menjadi orang yang kelihatannya sibuk mengejar semuanya. Menjadi insomnia, jadi tidak bisa lepas dengan email, telepon genggam dan lain-lain. Sampai akhir tahun ini, enam bulan sudah perubahan itu berjalan. Ibarat merenovasi rumah, mungkin saya hanya butuh beberapa waktu untuk mendapatkan desain rumah yang baru. Tetapi, semua rancangan, bahan bangunan, tukang, sudah dipersiapkan. Tinggal bagaimana saya mengolah rasa syukur. Dan, ya, tidak ada yang berubah. Semua masih baik-baik saja. Kehidupan saya baik-baik saja, keluarga saya baik-baik saja. Saya merasa, kami, sekeluarga besar semakin kompak. Mungkin ini adalah hikmahnya. Untuk tahun-tahun ke depan, masih sama doanya, semoga keluarga ini selalu dalam lindungannya.

2013 adalah tahun, di mana saya masih sendiri. Sempat beberapa bulan menjadi pacar dari laki-laki pendiam, ramah, tidak humoris, tetapi penyayang bernama Citra Agung. Tapi kemudian, saya anggap, itu hanya iseng-isengnya orang yang sudah terlalu lama sendiri. Hahaha. Pacaran tidak pernah mau ke rumah. Bertemu dengan Ayah dan Mama sekedar pamitan pergi tidak mau. Komitmen yang dibangun pun hanya sebatas “iya, aku juga sayang kok sama kamu.” Selesai. Begitulah yang terjadi. Hanya ramai-ramai di twitter, sampai heboh-heboh pas putus, tetapi tidak berkesan apa-apa. Hehe. *digebukin*

Terlepas dari semua yang terjadi, saya masih bersyukur dengan semua yang lewat. Berkali-kali sering nyeletuk, “ternyata Allah sayang banget sama gue.” Untuk banyak hal. Alhamdulillah juga, pekerjaan yang sedang saya jalani semakin baik, punya bos yang super baik. Rekan-rekan yang super baik, super perhatiannya, semuanya. Saya bersyukur atas semua itu. Juga Alhamdulillah, untuk pernikahan kedua sahabat saya, Annisa Nadzirani dan Falla Adinda. Chacha menikah Maret 2013, dan Falla Juni 2013. Untuk mereka, doa saya selalu mengalir deras. Semoga Chacha dan Falla bahagia terus rumah tangganya. Chacha dengan A’ Bisma. Juga Falla dengan A’ Juno. Pesan singkatnya, semoga tida terus bertanya saya kapan nyusul. Melihat kedua sahabat mempersiapkan pernikahan kadang membuat saya iri, kapan saya bisa sesibuk itu mempersiapkan pernikahan. Tetapi sekali lagi, Allah sudah paling tahu, kapan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan saya. Juga untuk teman-teman saya yang selama ini baik menemani saya siang malam, jungkir balik ke mana-mana. Semuanya. Saya bersyukur sekali atas indah pertemananannya.

2014? Semoga Allah selalu menuntun saya dari langkah pertama, hingga nanti. Langkah terakhir entah di tahun berapa. Bismillah untuk langkah pertama. 

Jumat, 08 November 2013

Untuk M. Irfan Ramly




M. Irfan Ramly, terima kasih untuk bunga yang kamu tata rapi sampai secantik itu. Saya suka sekali.

Kamis, 10 Oktober 2013

Untuk M. Irfan Ramly


yang menghadiahi diri sendiri seikat kembang.

tadi malam rembulan padam. gerimis turun pelan-pelan. di pinggir jalan sebuah stasiun kereta, seorang gadis dengan luka lebam di dada membeli seikat kembang. gadis itu ingin menghadiahi dirinya sendiri, menghadiahi kesunyian yang lekas tumbuh besar dan banyak menuntut.

dengan senyum kebahagiaan palsu tapi tetap cantik, ia menanggalkan koran pembungkus kembang. koran bekas isi kabar terbunuhnya seorang polisi. seperti meletakan harapan, ia hati-hati memasukan satu per satu tangkai kembang ke dalam botol yang juga bekas. botol bekas air minum yang dalam satu waktu menuntaskan haus dan menampung air matanya ketika bercakap tentang mantan kekasihnya yang memakan habis cahaya dalam matanya.

semoga mekar pagi nanti, bersama matahari, katanya.

(di luar hujan sudah deras, airnya merembet ke dinding, mengalir menuju mata. sementara kembang-kembang berusaha mekar, sementara itu pula tidurnya berusaha menghalau mimpi buruk. ingatan tak bisa ditakar, kenangan tak mampu diukur)


Puisi di atas karya Mas Ipang. Saya? Saya hanya pembacanya setiap kali kamu meminta saya membacanya. Seperti kali ini, lagi-lagi, saya diberitahukan olehmu tentang sebuah sajak yang baru kamu posting pada halaman pribadimu. Tanpa malu-malu, kamu menceritakan semua tantang saya. Laki-laki yang paling setia menuliskan saya puisi sejak tahun lalu. Walaupun hanya beberapa, tetapi belum pernah ada yang seperti ini selain kamu.

Mas Ipang, terima kasih untuk bait demi bait yang lahir dari setiap pertemuan. Yang kita rancang sedemikian rupa. Yang selalu BBM dan whatsapp dengan awal “Di mana?” Pasti seperti itu. Tidak pernah berubah dan terus berulang-ulang. Selalu lebih dulu merencanakan pertemuan, kadang pertemuan itu terjadi. Kadang harus berganti ke jadwal berikutnya.

Juga puisi-puisi, sajak-sajak, kata-kata dan cerita yang kamu rangkai menjadi baris-baris halus sangat manis di telinga yang belum pernah saya membacanya - itupun jika masih ada lagi.

Mas Ipang, adakah kamu cemburu setiap tahu, ada laki-laki lain yang menjadi pacar saya? Atau minimal, menjadi display picture pada BBM saya? Saya bertanya, sebab waktu-waktu dan hadiah-hadiah pemberianmu tidak bisa mengatakan apa jawabannya. Hanya malam itu, saya melihatmu penuh cinta, merapikan lima tangkai bunga, lalu kamu mengaturnya supaya mereka terlihat cantik di atas meja kerja saya. 

Kamis, 18 Juli 2013

Untuk M. Irfan Ramly


“Lina, kamu sudah baca buku ini? Ini buku yang bagus.”

“Belum, Mas.”

“Oke, aku belikan ini untukmu.”


Lantas, kamu berikan buku itu pada saya, meminta saya untuk membacanya. Hingga beberapa hari kemudian, kamu pasti akan bertanya, “bagaimana bukunya? Bagaian mana yang paling kamu suka?” Selalu begitu, tidak pernah berubah. Tetapi saya menyukainya.

Seperti yang pernah kamu katakana dulu, diam-diam kamu mendoakan saya. Dan seperti yang pernah saya katakana kemarin, diam-diam, kamu membaca saya. Ada bait-bait dalam buku itu yang ketika saya membacanya, saya menjadi ingat, bahwa itu adalah dirimu.

Pada pertengahan bait pertama, aku membaca mengenai hal-hal yang selalu kamu lakukan. Dan yang kerap kamu katakan, “selama mau belajar dari berbagai hal, maka menjadi tua tentu tidak begitu terasa menyakitkan.” Itu adalah kamu dengan segala kerumitan isi kepalamu. Seorang yang selalu ingin belajar, dan ingin menjadi dosen. Lalu menjadi tua di Yogyakarta. Seperti keinginanmu. Malah beberapa kali, kamu menawarkan diri membawa serta saya tinggal di sana. “Aku bayarin kau tinggal di sana, Lina.” Saya hanya bisa tersenyum. Kamu begitu nekat mengatakan hal itu.

Lalu pada awal bait ke dua puluh enam, “ mengisahkan orang yang telah mati adalah pekerjaan yang sangat sulit, tetapi mengisahkan perempuan yang mati muda jauh lebih sulit lagi.” Saya ingat, untuk pertama kalinya, kamu mengatakan hal yang tidak akan pernah saya lupa. Tentang perempuan yang jika diibaratkan sebuah buku, maka ia adalah buku yang tidak akan pernah bisa selesai jika kamu mencoba untuk membacanya. Dan tidak hanya itu, kamu selalu bersedia mendongeng tentang cerita masa lalumu yang tidak kamu simpan sendiri.

Lalu, semakin ke dalam lagi saya membuka halaman demi halamannya. Semakin saya menemukan bagaimana kamu selalu memberikan saya hadiah berupa buku-buku yang baik untuk diresapi maknanya. Sebut saja yang terakhir kamu berikan, Mimpi-Mimpi Einstein. Jika Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa hadiah bukanlah janji, adakah kamu akan memberikan janji yang lain, yang tidak berupa hadiah-hadiah yang selalu kamu antarkan sendiri untuk saya? Kamu, selain seorang pemberi hadiah yang baik juga seorang penyimpan rahasia yang sangat ulung di mata saya. Terima kasih untuk Dengarlah Nyanyian Anginmu, Irfan Ramly.

Minggu, 05 Mei 2013

Pasir Dalam Genggaman



Akhirnya, setelah sejauh ini, saya mengetahui juga, bahwa segala macam hubungan antarmanusia dalam dunia itu mirip pasir dalam genggaman. Jika berada pada telapak tangan yang terbuka, pasir itu akan tetap pada tempatnya. Tapi jika tangan itu terkepal dengan erat, pasir akan jatuh melalui sela-sela jari. Mungkin begitu juga saya terhadapmu saat itu. Tanpa saya sadari, perlahan kamu mulai terlepas dan hilang. Masih ada yang tersisa dalam genggaman saya memang, tapi hanya kenangan yang pasti akan tiba saatnya untuk memudar.

Saat itu saya benar-benar lupa, bagaimana mempertahankan dengan cara membebaskan supaya kamu tetap utuh menjadi dirimu sendiri. Padahal cinta tidak bisa didaur ulang, tetapi dengan mudahnya saya menghabiskan energimu untuk terus tetap bersama saya. Payahnya saya, sama sekali tidak paham benar apa yang sedang kulakukan adalah peluru yang akan membuatmu pergi.

Tiba-tiba, belum lama, saya mendengar sendiri dari Mama, “Nak, jangan terlalu disesali. Kelak suatu hari kamu akan mengerti perbedaan tipis antara menggandeng tangan dan membelenggu jiwa.” Dari Mama saya berkaca, mungkin suatu hari nanti, saya akan lebih banyak lagi mengerti perbedaan-perbedaan apa saja yang akhirnya membuatmu pergi. Tipis rasanya antara menggandeng tangan dan membelenggu jiwa. Di sana ada harga yang menjadi pembeda, yaitu rasa saling menginginkan dan menjaga.

Juga perbedaan tipis bahwa cinta bukan berarti bersandar, ciuman bukan berarti kontrak, dan hadiah bukan berarti janji. Bahwa mencintai bukan berarti menyandarkan diri kepadamu – atau apapun yang menjadi bagian dari diri saya. Kamu yang dicintai tidak punya tanggung jawab apapun atas diri saya, hidup saya, juga perasaan saya. Kamu tidak memiliki keharusan untuk menegakkan kebahagiaan yang menjadi urusan saya dengan hati saya sendiri. Begitu pun dengan keadaan sehari-hari. Kamu bukanlah sandaran yang harus dijadikan tumpuan kegalauan. Biarkan ribut pikiran saya menjadi masalah saya sendiri walaupun sebenarnya ia meributkanmu.

Juga dengan ciuman yang bukan berarti kontrakmu untuk menjalani hari-hari sebagai bagian dari diri saya. Ciuman bukanlah kesepakatan yang selanjutnya akan lahir pasal-pasal baru untuk menjalani hari-hari bersama. Ciuman hanya sekadar bibir-bibir kita bertemu atas nama cinta. Lalu dengan hadiah yang bukan berarti janji. Walaupun saya seperti harus menerima kekalahan saya karena akhirnya merasa belum mampu menjadi dewasa lantas kembali lagi merasakan kesedihan seperti anak-anak pada saat kehilanganmu, saya tetap harus belajar menerima hadiah sebagai pemberian yang tidak pasti. Tapi apapun itu, meskipun kita tidak pernah merencanakan, dan kamu bagaikan pasir dalam genggaman, bagiku sebenarnya kamu sangat berharga.

Sabtu, 04 Mei 2013

Teman Hidup


Saya sering menceritakan kepada sahabat-sahabat saya tentang kisah pertemuan saya dengan teman hidup saya – kamu. Dan juga tentang pertemuan yang hanya sebentar-sebentar kita lakukan berdua, karena memang hanya bisa sebentar. Sekarang, setelah sejauh ini saya hanya bisa cemas karena menyadari bahwa teman hidup saya sudah tidak berada di sebelah saya lagi.

Saya bercerita kepada sahabat saya tentang bagaimana kita bertemu dulu. Kejadian yang tidak sengaja, karena kebetulan kita punya teman yang sama. Saya masih ingat betul, waktu itu kamu datang paling belakang, dengan kacamata yang akhirnya tidak pernah kamu kenakan lagi. Sebenarnya, dari jauh saya sudah memperhatikanmu yang datang dengan tergesa-gesa. Hanya saja, saya belum tahu kalau kamu adalah temannya teman saya yang sedang kita tunggu-tunggu. Kita berkenalan layaknya banyak orang. Dengan berjabat tangan, saling menyebutkan nama, sampai akhirnya kita mengobrol banyak hal. Saya katakana pada sahabat saya, sejak hari itu, hari pertama mata kita saling berpandangan, saya sudah tidak bisa lepas lagi darimu.

Beberapa hari kemudian, karena dunia semakin memudahkan interaksi manusia dengan manusia, tahu-tahu saya dan kamu sudah saling follow dan bertukar kontak pribadi melalu direct message yang baik itu. Lanjut membicarakan banyak hal di sana, bertemu beberapa kali, alam semesta akhirnya meresmikan kamu menjadi teman hidup saya dan berpisah setelah melewati masa-masa yang kacau.

Saya katakana lagi pada sahabat-sahabat saya, tapi beberapa bulan kemudian kita bertemu lagi karena kamu mengundang saya datang ke acara yang kamu buat dengan penuh tanggung jawab dan akhirnya kita bisa bernyanyi bersama sang bintang. Yang paling saya ingat dari pertemuan itu adalah hari itu sangat panas, kita pun berada di tempat terbuka. Langsung di bawah terik matahari yang membuat saya pusing, lepek, dan keringetan. Tapi saya tidak peduli karena saat itu kamu mengatakan bahwa saya selalu cantik. Sampai bertahun kemudian, saya mengatakan pada sahabat-sahabat bahwa kamu tetap tampan dengan karaktermu yang selalu sukses membuat acara.

Saya juga bilang pada mereka, untungnya kita punya banyak teman yang sama. Walaupun kelompok main kita berbeda, beberapa teman kadang menjadi alasan mengapa akhirnya kita masih bertemu lagi sampai hari-hari berikutnya. Setiap kali saya terlihat dekat dengan laki-laki yang lain, saya bilang, teman-teman kita selalu bertanya, “kamu tidak khawatir dengan hatimu sendiri kalau dia juga dekat dengan orang lain?” Teman-teman kita lah yang selalu mengingatkan saya denganmu. Saya lalu menjerit, “Enggak! Dia sudah jauh pergi.” Teman-teman itu kemudian mengingatkan saya lagi bahwa saya masih sering menyebut namamu dan bahwa kamu adalah seorang anak yang baik di mata mereka.

Ketika saya menemui mereka – dan kebetulan tanpa kamu, mereka sering menanyakanmu. Di hadapan wajah-wajah mereka, saya selalu ingin terlihat tidak peduli denganmu. Seolah sudah sangat siap dengan perpisahan – pertemuan – perpisahan – pertemuan yang sering kita lakukan di depan mereka. Tapi, saya bertanya dalam hati, mengapa saya gelisah setiap kali mendengar namamu lagi? Mengapa kita jadi sering sengaja menghindar? Tapi saya tidak akan pernah lupa, sepatu converse putih yang sering kamu pakai. Dan sepenglihatan saya, tidak pernah ada laki-laki lain yang memakai sepatu itu sekeren kamu. Saya menjadi semakin sering teringat kata-kata teman kita, “kamu masih sering menyebut namanya.”

Sampai dua musim di negara ini berganti. Sementara saya dan kamu akhirnya sibuk mewujudkan cita-cita kita masing-masing – yang menjadi alasan keadaan yang kacau mungkin karena kita masih ingin sibuk sendiri mengejar cita-cita. Beberapa waktu saya membiarkanmu tanpa kabar. Saya hanya melihat dari jauh, banyak meeting yang harus kamu datangi dan banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Tapi ternyata, saya rindu padamu. Waktu kamu mengalami kecelakaan, kamu menelpon. Dengan sangat tenang, mengabarkan keadaanmu dan menceritakan singkat kejadian itu. Entah apa maksudnya, mungkin pada saat itu, kita sedang menyimpan rindu yang sama banyak tetapi berbeda kutub.

Saya tidak menyesal karena pernah berusaha membangun surga dalam bentuk hasil kreasi kita berdua. Dan tidak pernah khawatir sesungguhnya yang terjadi denganmu adalah cinta – bukan cinta monyet. Sambil tersenyum di depan sahabat, saya merahasiakan perasaan saya kepadamu. Saya tidak ingin membuat pengumuman kepada mereka apakah saya masih menginginkanmu atau tidak. Apakah rasanya masih ada atau tidak. Saya katakana kepada mereka, saya hanya tidak ingin terlambat menyebutmu sebagai teman hidup saya.

Jumat, 03 Mei 2013

Kehilangan


Saya tahu, saya bukan salah karena mencintaimu. Tapi saya salah karena saya tidak berterus terang kepadamu – untuk terakhir kali.

Saya tidak pernah bisa melupakan hari pertama kali saya melihat mimpi saya hampir menjadi kenyataan karena melihat senyummu yang berkilauan di bawah kedua matamu. Kamu sungguh mempesona dan sangat istimewa. Senyum itu memang tidak terlupakan, namun hatimulah yang menjadi alasan besar mengapa saya mencintaimu. Kamu benar-benar mempedulikan saya.Merupakan pendengar yang baik yang tidak pernah hilang dalam ingatan. Caramu mencairkan suasana ketika kita sedang dipenuhi keributan, dengan kata-katamu yang sangat bijaksana selalu pas menjadi apa yang memang seharusnya saya dengar. Kamu bukan saja saya kagumi, melainkan juga saya hargai dengan segala kerendahan hati.

Seingat saya, kamu juga pernah mengatakan pada saya agar kita tetap berusaha berjalan bersama meski banyak kekacauan dengan berbagai macam perkara. Hanya beberapa saat setelah amarah yang paling hebat berhasil menghancurkan apa yang berkali-kali kita bangun. Meski jatuh lagi dan harus dibangun lagi dari awal.

Waktu itu menjadi waktu dimana kita tidak ingin mengatakan apa-apa lagi sekaligus tidak ingin mendambakan apa-apa lagi. Terutama saya. Walau hati saya pernah menemani banyak hari-harimu, dan pada hari lainnya, saya juga pernah hilang darimu tapi masih sempat kamu cari dan kamu masih temui. Waktu itu juga saya sempat terpikir, “kalau saja kita tidak pernah bertemu…” Tapi saya yakin, bahwa usaha hebat kita tentu sudah aturan-Nya harus bertemu, harus berpisah, bertemu lagi, kemudian berpisah lagi. Bahwa saya tetap mengucapkan salam perpisahan kepada cinta saya. Meski saya juga tahu, bisa saja apa yang dipisahkan kali ini benar-benar tidak untuk dipertemukan lagi.

Setengah tahun kemudian, saya bertemu dengannya – orang yang paling saya benci karena saya kira dialah orang yang membuat kita saling berjauhan dan memalingkan wajah. Pertemuan yang disengaja karena saya tidak ingin menyelesaikan kita dengan separuh-separuh. Kami makan bersama. Dia menceritakan banyak hal, sampai ketika saya menanyakan satu hal tentangmu, dia menjawab sampai tenggorokkan saya tersumbat ketika saya mendengar jawabannya.

“Dari sejak awal kuliah, kita hanya berteman. Dia paling rese waktu itu, saya sering pukulin dia sambil bercanda, dan anak-anak jadi membuat kabar burung tentang kami,” jawabnya. Saya tidak meneruskan lagi pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah disusun dan disimpan dalam draft yang bisa saya buka sesekali waktu ketika saya sedang bersamanya. Sampai di situ, ternyata memang saya yang benar-benar kejam kepadamu. Saya memendam pertanyaan yang memupuskan harapanku sendiri. Membiarkan saya mengira apa yang saya pikirkan adalah sebenarnya yang terjadi. Seandainya waktu itu saya bertanya dan tidak hanya diam di depanmu. Mungkin yang terjadi tidak akan seburuk hari ini. Lebih buruk lagi karena sebenarnya waktu itu kita masih bisa kembali.

Senin, 01 April 2013

Sepenggal Kata untuk Pemilik Cerita

Untuk: Kamu, di Jogja.

Siang itu rasanya seperti mimpi, waktu saya berada di dalam taksi menuju rumah saya dari Bandara Soekarno-Hatta. Tempat yang sangat biasa bagi kita untuk berjumpa juga berpisah kembali. Saya yang entah bagaimana rasanya, tiba-tiba teringat waktu beberapa hari yang lalu mengiyakan ajakan seorang teman untuk ngumpul-ngumpul lagi di kotamu, meski tanpa kamu. Kali itu agak sedikit serius ceritanya. Saya datang dengan undangan dan semua kebutuhanku sudah mereka urus dengan sangat baik. Saya hanya diminta untuk meluangkan waktu dan datang ke tempat yang sudah mereka tentukan. Sekadar cuap-cuap sepatah dua patah kata.

Siang hari itu memang agak terburu-buru. Saya baru merapikan beberapa pakaian yang akan saya bawa selang berapa jam sebelum saya berangkat. Itupun dengan tiket yang masih berada dalam bentuk soft file di email saya dan belum sempat saya print out. Beruntung, mereka di sana yang mengurusi itu semua, memaklumi ketidakpastian saya selama beberapa hari sebelumnya.

Saya berangkat dengan tergesa-gesa. Berkejaran dengan waktu boarding yang tertera dalam e-ticket pesawat. Dengan koper kecil, saya menenteng harapan pertama hari itu. Semoga  jalan menuju bandara tidak macet dan saya bisa lari dengan high heels setinggi 7 sentimeter untuk mengejar checking counter yang akan segera tutup. Karena itu, saya tak sempat memikirkan banyak-banyak apa yang akan saya lakukan di sana setelah undangan selesai dan sisa beberapa hari untuk menghabiskan waktu bolos kerja saya. Iya, beberapa hari itu adalah permintaan saya kepada mereka yang mengurus urusan kepulangan saya dari sana. Waktu mereka tanya mau sampai kapan, saya menginginkan selama mungkin ada di sana. Tapi sayang, kantor memberi saya izin hanya sampai hari jumat saja. Sabtunya saya harus kembali menjalankan rutinitas yang membosankan tapi menantang itu. Rutinitas yang selalu saya banggakan di depanmu supaya saya tidak kalah sibuk denganmu.

Sebenarnya hanya satu, mengapa waktu itu saya memenuhi undangan yang sangat bisa saya tolak itu, kamu. Sudah berapa lama saya tidak berjumpa dengan seorang yang bertahun-tahun mengendap di pojokan hati. Hati saya sendiri. Berapa lama saya tidak melihat sosok seorang yang saya sayangi dan selalu membuat saya bangga. Saya tahu, mungkin sebutannya rindu. Tetapi saya tidak ingin mengakui itu sama sekali.

Supir taksi siang itu sangat mengerti waktu saya memintanya agak cepat mengendarai sedan putihnya. Dengan lincah si Bapak menyalip ke kanan ke kiri. Dalam perjalanan yang hanya ada kami berdua, Bapak Supir taksi saya bertanya. Saya jawab pertanyaannya dengan singkat, “mau ke Jogja, Pak. Liburan.” Dari kaca spion di tengah yang sebagian memantulkan wajah Bapak Supir, saya melihat si Bapak mengangguk seolah paham, selain untuk pulang, Jogja memang untuk tempat berlibur. Melewati jalan yang sama seperti ketika saya harus menjemputmu yang datang dari sana, atau harus mengantarkanmu kembali pulang ke sana. Di jalan tol yang kamu bilang selalu susah diprediksi, saya melepaskan Jakarta untuk beberapa lama. Tempat yang tidak karu-karuan lagi permasalahannya. Dan termasuk tempat yang menjadi masalah terakhir bagi kita. Ketika saya harus bertemu dengan seorang yang mampu memalingkanmu beberapa waktu.

Sampai di Bandara, saya masih harus lari terburu-buru. Check in counter hampir tutup, sedangkan saya masih ragu-ragu apakah bisa check in dengan e-ticket di hanphone. Saya buat langkah menjadi banyak dan kecil-kecil agar saya bisa lebih cepat berjalan. Di depan petugas check in ini, saya akhirnya bisa menarik napas lega. Besyukur, walaupun sudah berdiri kotak persegi bertuliskan closed, petugas itu masih mau menerima saya sebagai orang terakhir. Lepas rasanya, berjalan menuju gate yang ditunjukkan oleh petugas tadi, saya baru bisa berpikir, apakah akan mengabarkanmu atau tidak. Walaupun sangat ingin bertemu, tapi entah kenapa, rasanya saya masih harus menimbang banyak hal untuk sekadar mengirim pesan singkat, “Hai, hari ini saya ke Jogja.”

Lose contact berhari-hari. Sikapmu yang dingin ketika saya tanyakan kabar mengenai pekerjaan dan studimu. Juga beberapa sapaan di jejaring social yang tidak pernah kamu balas membuat saya ragu-ragu. Masihkah ada kepentingan bagi saya memberi kabar ketika saya pergi ke Jogja, walaupun kota itu adalah kediamanmu.

Sambil duduk menunggu boarding, saya membuka lagi last seen today whatsapp messengermu. Today, 13:55. Satu jam yang lalu. “Sekarang? Mungkin kamu sedang sibuk. Sedang berkegiatan di luar atau in a meeting, seperti yang biasa kamu katakana kepada saya beberapa bulan lalu. Itulah saat-saat paling genting yang masih saya ingat. Lalu bagaimana saya di dalam pesawat begitu ingin member tahumu tapi terpaksa mengambil sikap untuk tidak memberi tahu sama sekali mengenai kedatangan saya ke kotamu itu. Biarkan… Biarkan apa yang sudah kita selesaikan tidak perlu saya mulai kembali. Biarkan kamu tahu sendiri nanti, harap saya.

Hingga pada saat malam tiba, begitu saya sampai di tempat undangan, beberapa teman yang baru saja mengenali saya menyambut dengan sangat ramah dan mengejutkan. “Mbak, maaf Masnya tidak bisa datang karena sibuk berkesenian.” Dengan ramah, seorang teman – yang ternyata baru saya ketahui berapa lama kemudian adalah temanmu juga – menyalami, mengajak saya masuk. Temanmu menjadi tuan rumah yang sangat ramah malam itu.

“Masnya siapa, ya, Mas?” jawab saya. Pertanyaan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya ucapkan di tempat itu. Tidak pernah. Bahkan sampai ketika temanmu mengatakan hal-hal menyangkut tentangmu. Sibuk berkesenian, yang selalu pakai baju hitam-hitam, juga ketua angkatan yang menjadi identitasmu ia sebutkan satu persatu. “Loh? Kamu temannya? Wah… Nggak bilang-bilang,” saya lalu tersenyum, malu. Saya tidak pernah membayangkan, hari itu menjadi awal hari yang indah lagi untuk saya ingat-ingat hari ini. Tidak pernah!

Temanmu tiba-tiba mengajak saya duduk dan agak menyingkir dari audiens yang mulai ramai di tempat itu. Ia mengatakan hal yang tidak pernah saya duga. Kalau sebenarnya, teman-teman yang mengundang saya ternyata tahu dari kamu, dan atas rekomendasimu. “Hah? Dia?” Saya kaget sekali mendengar cerita teman satu kampusmu itu. Jadi kamu? Yang sebenarnya merekomendasikan teman-temanmu? Hal yang sulit dipercaya, tapi ini terjadi. Begitu juga ketika temanmu bercerita dengan terus terang, bahwa semua yang mengurus pergi-puang saya adalah kamu. Yang mengurus tiket pesawat, jam keberangkatan, tanggal, sampai penginapan adalah kamu. “Jadi dia tahu, kalau saya ada di sini?” pertanyaan kesekian, dan menurut saya ini yang paling bodoh dan mengejutkan temanmu. Temanmu terkejut ketika tahu, ternyata kamu tidak mengatakan pada saya tentang semua ini. “Nggak ada. Dia gak bilang apa-apa sama sekali. Malah komunikasi pun tidak. Makanya saya kaget.”

"Begitulah kamu. Tidak pernah berhenti menyenangkan saya dan berbuat lebih dari apa yang bisa saya berikan untukmu. Terima kasih untuk perjalanan terindah dan penuh kejutan. Beberapa hari yang singkat yang kamu jadikan kenangan yang paling mencabik naluri di dalam hati. Bahwa kehilanganmu adalah hal terburuk yang pernah terang-terangan datang ke dalam hidupku. Persis seperti ketika kamu mengatakan saya hanya mampu merusak apa yang sangat-sangat kamu jaga di sana. Malam itu, di hadapan dua cangkir yang tidak bisa bicara karena melihat kita berdua dan dari dingin yang sengaja menorehkan kesakitanmu , saya mendengar sendiri dengan telingsaya “saya lihat kamu seliweran di timeline apa nggak sakit? Sakit ya, pasti. Tapi saya lihat kamu senang-senang saja ya sudah.” Lirihmu. “Kamu satu kota dengannya, sedangkan saya tidak. Tidak ada yang bisa saya perjuangkan lagi waktu itu. Saya pikir, jarak membuat semuanya selesai. Tapi ternyata ada yang lebih buruk dari itu,” tambahnya.

Sekali lagi, saya hanya bisa bungkam, menunduk, mejatuhkan pandangan pada buih-buih di atas latte pesananmu. Pesanan terakhirmu sebelum sebelumnya kamu memesan teh panas, kesukaanmu. “Saya gak pernah tahu.” Entah apa maksudnya saya mengatakan sepenggal kalimat tidak nyambung itu.

“Ya memang, karena kamu sudah tidak mau tahu lagi.” Kata-kata dengan cirri ketegasannya akhirnya keluar juga dari laki-laki yang duduk di sebelah kanan saya itu. Saya tahu, sebenarnya kamu bisa saya marah, lalu meninggalkan saya pergi di tempat itu. Tetapi kamu lebih memilih diam dan bertahan. Persis seperti yang kamu lakukan selama ini. Kamu bukan orang yang suka melawan. Kamu lebih senang diam menunggu akhir, akan ada apa pada akhirnya nanti. Ini kamu banget.

“Bukan saya gak mau tah. Tapi akui deh, kamu udah gak peduli akhir-akhir itu. Dingin… Waktu itu saya sudah tidak pentingkan?” Tanya saya. Saya mungkin bersalah, tetapi tetap, tidak mau disalahkan. Hubungan kemarin itu milik saya dan kamu. Jadi, kalaupun ada kesalahan, berarti adalah kesalahan dua orang yang berada di dalamnya. Jadi, bukan untuk memberla diri.

“Kamu kenal saya gak? Saya berubah nggak?” Lantas saya diam. Saya-hanya-bisa-diam. Dalam hati saya berkata, ternyata kamu tidak pernah berubah. Tidak menjadi lebih buruk seperti yang saya bayangkan. Hanya kacamata saya yang berubah warna untuk melihatmu. Masih ingat, kita berdebat meributkan hal-hal yang sudah berlalu, tapi dalam hati saya mengharapkan semua itu kembali. Memang saya yang salah. Begitu sombong dan keras kepala memintamu harus selalu ada dan harus selalu bisa menghubungi. Tapi kamu harus tahu, rasa hari ini masih sama dengan rasa malam itu ketika saya lebih banyak tidak bisa menjawab pertanyaanmu ketimbang waktu-waktu biasanya. Jadi, maaf jika hari itu, saya seperti tidak mengenal siapa kamu. Memang tidak pernah ada penyebabnya mengapa ketika itu saya memilih orang lain yang tidak saya kenal sebelumnya daripada kamu yang baik. Sebaik kamu malam itu. Sebaik kamu sampai hari ini. Pegangan saya hari ini hanya satu; jika memang kamu tidak peduli, mana mungkin, malam itu saya bisa duduk bertemu, bersanding, dengan seorang yang sangat saya rindukan. Saya baru mengerti, cinta memang tidak butuh banyak bicara. Cukup dengan saling menjaga maka ia akan menghadirkan dirinya sendiri. Seperti yang kamu tunjukan ketika hari-hari terakhir saya di sana. Dan seperti pesan-pesan yang selalu kamu sampaikan ketika kita tidak sempat bersama.

Terima kasih ya. Sayang sekali, hari itu saya harus pulang lagi ke sini. Menjauh lagi darimu dan membayangkan banyak hal yang saya takutt tidak bisa lalui lagi tanpa kamu. Terima kasih untuk kejutan pulang-pergi yang susah-susah kamu wujudkan seorang diri – meski dengan bantuan banyak teman – tapi sukses membuat saya tidak berkutik begitu saya tahu semuanya ini adalah tentang perjuanganmu, untuk perjalanan singkat ke sana ke mari tempatmu memperlihatkan semua yang sebelumnya hanya saya duga-duga saja, untuk tea time ala kita yang selalu menghabiskan banyak waktu juga lebih banyak cerita, untuk rintik gerimis terakhirmu di bandara yang jika dihitung, mulai saat saya hilang dari pandanganmu, sebanyak rintik itulah saya akan merindumu lagi. Sekarang, di kota saya sendiri, biar saya mengurus urusan saya ketika saya sangat ingin dan teramat ingin kamu ada di sini.



Dari saya yang selalu berdoa untukmu,

Semoga kamu selalu menjadi kesayangan Tuhan.

Minggu, 17 Maret 2013





Ucapkan selamat tinggal pada mereka yang tak lagi ingin berkorban..



Minggu, 10 Februari 2013

Do you remember?

#1


Aku tahu, kamu bukan tipe seorang yang senang member kejutan. Bukan tipe seorang yang senang diberikan kejutan pula. Tapi sayangnya, aku dan kamu berbeda. Aku seorang yang senang dibahagiakan dengan cara-cara yang tidak bisa ditebak.

Boneka Cars itu, kamu belikan untukku ketika kita sedang sama-sama berada di Gramedia. Dulu, ketika kamu sedang membayar boneka itu di kasir, aku deg-degan bahagia. “Akhirnya, aku punya boneka juga dari kamu,” dalam hatiku. Sebab benda pertama yang kamu berikan adalah buku… buku yang kamu titip beli lewat Mbak Dora. Phft :’|

Iya, dulu, waktu kita sibuk antri di kasir, dan kamu membayar, aku deg-degan. Aku ke-ge er-an, berasa jadi wanita yang paling sedang dimanjakan kekasihnya. Sekarang? Hahaha. Sekarang, kalau aku melihat Cars itu lagi, malah tertawa geli. “Mau-maunya dulu gue dibeliin boneka tapi bentuknya mobil. Gak ada manis-manisnya. Gak ada imut-imutnya, cih!”

Menyesal? Oh, enggak kok. Tidak ada lagi yang perlu disesalkan, karena semuanya sudah lewat. Semuanya sudah berakhir. Dan fyi, ex, boneka itu aku simpan, karena adik sepupuku yang terlanjur memilikinya. Kebetulan dia suka Cars, dan dia pindahkan boneka itu ke kamarnya. (Ini bukan alibi, aseli).

Lalu, boneka yang di sebelahnya apa?

Iya, itu Simon. Aku namainnya Simon, “Si Monyet”. Kado ulang tahun dari kamu, setelah kita bukan siapa-siapa. Aku bingung, kenapa kamu malah mendadak jadi romatis ketika aku sudah bukan siapa-siapa kamu. Ketika kita sudah tidak memiliki mimpi apa-apa, kamu malah hadir lagi menjadi sosok yang paling ingin kumiliki. Ini kah trik terbaikmu? Yang membuat aku selalu ingin kembali karena merasa bahwa kamu sudah berubah menjadi apa yang kuingin?

Aku tidak bisa menjawab. Kamu tidak bisa menjawab. Tapi mungkin, Simon bisa menjawab.



 #2

 “Jangan lupa bawa jaket ya, nanti panas,” katamu, selalu.

Aku pelupa, dan kamu adalah pengingat yang baik di setiap lupaku. Mengingatkan untuk tidak tidur terlalu pagi ketika aku lupa waktu. Mengingatkan untuk selalu hati-hati agar aku tidak lupa untuk selalu menjaga diri. Dan lain sebagainya, dan seperti kamu apa adannya.

Lalu, apa yang terjadi setelah baru-baru kamu pergi? Aku sering kesiangan masuk kuliah, aku sering ditegur karena terlambat. Aku sering pulang lagi ke rumah karena ada yang tertinggal dan yang pasti, aku semakin sering putar balik karena aku selalu lupa arah jalan. Aku merasa, sebelumnya, aku tidak pernah merasa sesendirian seperti ini, tapi balik lagi, ketika aku melihat jaket biru ini, aku selalu ingat dengan pesanmu. “Inget-inget aja waktu aku kasih jaket ini, kamu gak akan pernah sendirian selama dia masih ada.”

Aku menyimpannya sampai hari ini. Bukan untuk mengingat-ingat apa yang sudah lewat. Tapi aku berusaha untuk menghargai setiap detail apapun pemberian-Nya. Termasuk bahwa kamu pernah memberikan benda kesayanganmu sejak dari masuk SMA, untuk kamu titipkan denganku. Aku setuju denganmu, apa yang sudah kita berikan, tidak perlu kita terima jika mantan ingin mengembalikannya lagi. “Haram hukumnya, menerima apa-apa pengembalian mantan,” okesip! : ))


#3



How sweet you are, my (ex) darling, ketika ingin selalu mengingat apa-apa yang pernah kita lakukan. Dan, buku ini menjadi saksi beberapa kilometer perjalanan kita selama beberapa bulan atau hari. Ini adalah rekam jejak perjalanan kita menghabiskan waktu dan harta, haha.

Aku agak kaget waktu itu, waktu melihatmu, tiba-tiba mengeluarkan buku sebegini lucu covernya dari tas belel kesayanganmu itu. Pikirku, kamu hanya akan bersensasi untuk memiliki buku catatan kuliah dengan motif polkadot-polkadot yang bukan kamu banget. Tapi ternyata salah, buku itu kamu keluarkan, lalu kemu berikan padaku, hari itu juga.

“Ini, kamu isi, setiap kita dari mana, hari ini. Di sini kamu tulis tanggal, terus, di sini kamu tulis tujuan. Kalau ada struck, atau nota, atau tanda-tanda apa kaya misalnya tiket nonton atau apa, kamu tempelnya di sini. Kamu suka merah hitam, kan? Ini pulpennya merah hitam, aku bawain. Kamu tinggal tulis aja, ya. Jadi nanti kalau kita udah berapa tahun, kita punya kenangan buat ngeteh-ngeteh sambil ada yang dibahas. Gak apa-apa kan, kamu yang tulis? Tulisanku jelek soalnya. Oke ya?”

Oke, Bos! ('-')9 Okeee...

Kamu menjelaskan A-B-C-D tanpa jeda, tanpa menarik napas, tanpa titik dan koma. Di sana aku melihat semangatmu yang menggebu-gebu. Tidak mungkin aku bilang tidak setelah kamu menginstrusikanku sedemikian rupa. Dan sejak hari itu, aku menuliskan semua perjalanan kita, dengan caraku, dengan keinginanmu. Buku ini merekam semua jejak-jejak perjalanan kita. Hingga akhirnya, kita memutuskan untuk tidak lagi bersama.


#4
Namaku jari manis sebelah kiri, bersediakah kau melingkariku sebagai janji? - @topeng2kaca





Setiap melihat benda ini, aku melihat, seperti ada bagian yang hilang, namun masih tertinggal di sini. Rencana demi rencana, keinginan demi keinginan, serta doa-doa dan harapan, harus berhenti pada kenyataan, bukankah bersama tidak harus memiliki?

Iya. Aku minta maaf atas perpisahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Perpisahan setelah cincin ini melingkar sebagai janji untuk terus bersama. Ternyata, kenyataannya berbeda, cincin saja tidak mampu mengikat kita untuk bisa terus sama-sama. Masih banyak perkara rumit yang harus diselesaikan, masih banyak tanda tanya yang akhirnya tidak menemukan jawaban.

Walau sebenarnya, aku masih mengingat cahaya itu, ketika kamu melingkarkan cincin itu di hadapan mereka. “Semoga menjadi pasangan yang langgeng ya,” doa-doa mereka. Tapi mungkin, saat itu kita berdua terbuai suasana, hingga lupa mengamini dan hanya berharap pada benda kecil itu.

Oh ya, ada pertanyaan yang sampai hari ini belum sempat kutanyakan. Jika kamu membaca ini, tolong segera kirimkan jawabannya ya. “Bagaimana caranya, kamu mendapat benda secantik itu dan sangat pas di jari manisku sebelah kanan?” : ) 


#5

Ini penting, bahkan yang terpenting:
Bagaimana baiknya benda-benda ini kupelihara sedangkan aku tak ingin membuangnya juga tidak ingin menyakiti hati yang kini bersanding di sebelah hatiku?


Catatan:
Tulisan ini untuk Pameran Patahati 2. Diselenggarakan di Yogyakarta, 14-16 Februari 2013.