Seperti pada
akhir dan awal tahun-tahun sebelumnya, masih banyak evaluasi yang memaksa diri
ini untuk berbenah lagi. Berbenah lagi, dan terus berbenah. Tahun 2013, bagi
saya sendiri adalah tahun yang sangat bergejolak. Mungkin tahun yang paling bergejolak
yang pernah saya lewati.
Tahun 2013
adalah tahun pertama, di mana saya merasa, bahwa ikhlas yang sebenarnya yang
seperti ini; di mana kita berada pada titik terendah, tetapi semua kita rasakan
penuh syukur dan baik-baik saja. Pertama yang saya ingat ketika menutup tahun
adalah, “Allah masih sayang banget sama gue.” Tidak banyak yang tahu, tapi
seharusnya memang tidak perlu semua orang tahu, gejolak kehiupan yang saya alami
semoga membuat lebih matang. Di mana, ketika pertengahan tahun, keluarga saya
mengalami fluktuasi karir yang sangat signifikan. Satu-satunya penopang
kebutuhan seluruh keluarga harus berhenti bekerja karena orang lain
memfitnahnya.
Masih ingat,
minggu-minggu itu, rasanya dada saya sangat sempit untuk bernafas. Semua ruang
yang ada di dalam dada, sepertinya sudah habis dengan rasa takut. Penug dengan
pertanyaan ‘bagaimana kalau ini,’ ‘bagaimana kalau itu,’ dan seterusnya yang
saya sendiri tidak pernah membayangkan jawabannya. Minggu, dimana salah satu
orang yang paling saya sayangi mendatangi saya ke dalam kamar, sambil
berbasah-basah air mata, beliau bicara tertatih langsung di depan saya. “Bayun,
sekarang tugas kamu untuk menjaga adik-adik kamu semua. Cari uang yang banyak
buat nge-biaya-in semuanya. Anak-anak masih kecil.”
Mendengar itu,
sebenarnya saya gemetar. Inilah waktu yang paling saya takutkan semuanya.
Ketika roda itu berputar dan saya mengalami porosnya yang terbawah. Satu detik.
Dua detik. Tiga detik. Lalu saya menarik napas panjang sekali, tapi berusaha
untuk terlihat tenang dan seolah semua baik-baik saja. “Semua ada waktunya
Tante, mungkin sekarang giliran Bayun sama Abang buat handle semuanya. Kita
nggak akan kenapa-kenapa, kok.” Lalu saya duduk di samping perempuan kesayangan
saya, yang usianya lebih dari setengah abad itu. Salah satu perempuan yang
paling saya sayangi selain Ibu saya. Di samping beliau, saya ingin menjadi sandaran
yang kokoh jika beberapa waktu ke depan, beliau merasa runtuh atau limbung.
Saya terus tersenyum. Walau pasi, saya yakin, senyuman itu bisa member kekuatan
walaupun setengah-setengah.
Air mata beliau
terus jatuh dari pelupuk matanya yang teduh. Saya mencoba untuk tidak
berairmata siang itu. Untuk kali ini, air mata hanya akan merapuhkan dinding
keyakinan beliau, bahwa saya mampu menjalankan tugas yang diserahkannya siang
itu. Saya ambilkan tissue, lalu, saya basuk pipi-pipi beliau. “Tenang ya Tante,
kita pasti gak akan kenapa-kenapa.” Ketika begitu agak tenang, Tante saya
meninggalkan kamar. Dan kali ini, saatnya saya menyerahkan hidup kepada Allah.
Saya ingat pesan yang pernah say abaca dari buku biografi seorang atris idola
saya, Yuni Shara. Yuni bilang, menangislah hanya ketika kita mengambil air
wudhu dan berada di atas sajadah. Ya, siang itu, saya melakukannya. Saya
menyerahkan semua rasa takut pada Allah, jika memang ini yang terbaik, berikan
jalan, kekuatan, kemudahan, keringanan, untuk meewati semuanya. Kalaupun saya
ternyata kelelahan, tolong jangan perlihatkan lelah ini di depan siapapun,
terutama keluarga yang paling menyayangi saya. Begitu doa saya.
Alhamdulillah,
Allah sayang banget sama saya. Semua jalan Dia bukakan. Pintu-pintu rezeki yang
baru sepertinya sudah dipersiapkan-Nya untuk sekolah anak-anak. Setelah hari
itu, saya menjadi orang yang kelihatannya sibuk mengejar semuanya. Menjadi
insomnia, jadi tidak bisa lepas dengan email, telepon genggam dan lain-lain.
Sampai akhir tahun ini, enam bulan sudah perubahan itu berjalan. Ibarat merenovasi
rumah, mungkin saya hanya butuh beberapa waktu untuk mendapatkan desain rumah
yang baru. Tetapi, semua rancangan, bahan bangunan, tukang, sudah dipersiapkan.
Tinggal bagaimana saya mengolah rasa syukur. Dan, ya, tidak ada yang berubah.
Semua masih baik-baik saja. Kehidupan saya baik-baik saja, keluarga saya
baik-baik saja. Saya merasa, kami, sekeluarga besar semakin kompak. Mungkin ini
adalah hikmahnya. Untuk tahun-tahun ke depan, masih sama doanya, semoga
keluarga ini selalu dalam lindungannya.
2013 adalah
tahun, di mana saya masih sendiri. Sempat beberapa bulan menjadi pacar dari
laki-laki pendiam, ramah, tidak humoris, tetapi penyayang bernama Citra Agung.
Tapi kemudian, saya anggap, itu hanya iseng-isengnya orang yang sudah terlalu
lama sendiri. Hahaha. Pacaran tidak pernah mau ke rumah. Bertemu dengan Ayah
dan Mama sekedar pamitan pergi tidak mau. Komitmen yang dibangun pun hanya
sebatas “iya, aku juga sayang kok sama kamu.” Selesai. Begitulah yang terjadi.
Hanya ramai-ramai di twitter, sampai heboh-heboh pas putus, tetapi tidak
berkesan apa-apa. Hehe. *digebukin*
Terlepas dari
semua yang terjadi, saya masih bersyukur dengan semua yang lewat. Berkali-kali
sering nyeletuk, “ternyata Allah sayang banget sama gue.” Untuk banyak hal.
Alhamdulillah juga, pekerjaan yang sedang saya jalani semakin baik, punya bos
yang super baik. Rekan-rekan yang super baik, super perhatiannya, semuanya.
Saya bersyukur atas semua itu. Juga Alhamdulillah, untuk pernikahan kedua
sahabat saya, Annisa Nadzirani dan Falla Adinda. Chacha menikah Maret 2013, dan
Falla Juni 2013. Untuk mereka, doa saya selalu mengalir deras. Semoga Chacha
dan Falla bahagia terus rumah tangganya. Chacha dengan A’ Bisma. Juga Falla
dengan A’ Juno. Pesan singkatnya, semoga tida terus bertanya saya kapan nyusul.
Melihat kedua sahabat mempersiapkan pernikahan kadang membuat saya iri, kapan
saya bisa sesibuk itu mempersiapkan pernikahan. Tetapi sekali lagi, Allah sudah
paling tahu, kapan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan saya. Juga untuk
teman-teman saya yang selama ini baik menemani saya siang malam, jungkir balik
ke mana-mana. Semuanya. Saya bersyukur sekali atas indah pertemananannya.
2014? Semoga
Allah selalu menuntun saya dari langkah pertama, hingga nanti. Langkah terakhir
entah di tahun berapa. Bismillah untuk langkah pertama.









