Rabu, 29 Juni 2011

Cerita Dan Mimpi


Datang lagi, dan terasa sakit lagi. Ternyata, lukanya masih basah. Masih tidak bisa disentuh oleh apapun. Saya kembali ke kota ini, untuk memastikan apakah semua yang pernah saya jalani dengannya sudah lepas dari diri saya. Ternyata, semua ada waktunya. Februari lalu, kota ini menjadi hadiah paling indah darinya. Ia memberikan liburan yang sebebas-bebasnya. Saya boleh mengatur semua jadwal harian selama di sini. Kalaupun ketika itu saya ingin tidur sepuasnya di kota ini, tidak akan menjadi masalah baginya.  Borobudur, Merapi, Parang Tritis, dan sudut kota yang lain. Hari ini? Semua berganti menjai luka tanpanya.

Sebutlah kota ini cerita dan mimpi. Sebuah cerita karena saya pernah menorehkan tinta berisi perjalanan di kota ini. Juga mimpi, kelak suatu hari, saya akan kembali lagi ke kota ini dengan orang yang saya sayangi. Yang datang dan memilih tetap tinggal bersama. Dan saya berharap, ketika kembali lagi ke kota ini, sudah tidak ada lagi tentang kamu di sudut-sudutnya yang sempit. Dan semoga, kamu berhenti mengintai setiap kali saya ada di tempat ini. Tidak seperti kemarin, yang tiba-tiba menghubungi dan mencoba mengingat-ingat lagi tentang kita di sini. Semua sudah selesai. Sekarang tinggal mimpi-mimpi saya yang ingin saya bangun di sini. Bukan kamu lagi. 

Minggu, 05 Juni 2011

Selamat Ulang Tahun


Saya hampir tidak percaya, tahun ini, di perayaan hari kelahiranmu, kita berpisah. Kemarin saya sibuk kesana kemari, melihatmu sedang sibuk bermain fiksi dengan teman-teman kamu, saya jadi ikut sibuk mencari jaket, sepatu, tempat minum, topi. Seperti saya yang kamu kenal, saya cari semuanya dengan warna yang senada. Abu-abu, warna kesukaanmu. Tapi entah kenapa, hati sepertinya enggak ingin lagi mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Barang-barang yang sudah saya beli sebagai hadiah – seperti empat tahun belakangan ini, sempat ingin saya kirimkan via JNE karena saya masih belum bisa bertemu. Masih terluka karena hari minggu itu. Tetapi saya pikir lagi, bukankah itu malah seperti drama-drama ala kita dulu?

Maaf ya, jika saya membiarkan semuanya seperti ini adanya. Maaf, adanya sedang sekacau ini. Mungkin ini jawaban yang waktu simpan dari beberapa bulan lalu, mengenai maknanya, biarkan satu-satu tersirat hanya untukku. Kamu tidak perlu khawatir, saya mengucapkan doa setiap kali saya berkesempatan untuk meminta. Tapi tidak perlu kamu atau semua orang tahu ketika saya mendoakanmu. Cukup doa ini menjadi desahan suara antara saya dan Tuhan saja.

Oh iya, selamat ulang tahun untuk kamu ya, semoga kamu bahagia dan selalu dalam limpahan kasih sayang-Nya. Semoga semakin matang dan dewasa. Makin mengerti yang dahulu kamu belum mengerti. Selamat ulang tahun!

Senin, 11 April 2011

Luka




Saya menerima pesan Blackberry yang begitu memilukan dari Lucky, mantan pacar sejak satu bulan yang lalu. Isinya, Lucky menyesali kami pernah mendatangi Candi Prambanan berdua. Saya bingung, sejak kapan Lucky percaya mitos-mitos yang nggak jelas itu?
“Kamu kenapa waktu itu ngajak aku ke Prambanan? Sekarang aku yang harus menanggung tidak enaknya putus seperti ini sendiri. Coba kalau waktu itu kita gak kesana, saya tiak akan sesakit ini,” pesannya. Saya terhentak ketika membacanya. Mungkin Lucky tidak tahu, bahwa saya juga sakit menjalani ini semua. Saya juga terluka, hanya saya menyembunyikannya ke tempat yang paling dalam dan tidak terlihat. Bagaimana tidak terluka? Saya begitu sangat menyayanginya, lalu dipaksa pergi meninggalkan apa yang sudah saya bentuk sejak lama. Tidak ada lagi sapa selamat pagi, tidak ada lagi pertemuan, tidak ada lagi duduk berdua. Sangat menyakitkan.

Waktu itu, melepaskanmnya memang sebuah pilihan. Sebab ternyata, sayang saja tidak cukup untuk membuat dua orang bisa terus bersama. Sebenarnya saya masih bisa memilih untuk bersama, jika saya mampu. Sayangnya, saya tidak mampu. Lalu, saya dan Lucky sama-sama tidak menyangka. Akhirnya, waktu itu datang juga. Tapi Lucky harus tahu, sesungguhnya, saya tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Bahwa sesungguhnya, saya tidak menginginkan ini sebelum-sebelumnya.

“Lucky, saya tahu bagaimana sakitnya. Saya juga tahu bagaimana lukanya. Tetapi, mendengar kamu terluka, hati saya jauh lebih sakit dari sebelumnya.”

Tapi sebelum mala mini, saya pernah terluka oleh ketakutan Lucky sendiri. “Saya selalu ketakutan kamu macem-macem selama saya tidur,” kata Lucky di suatu pagi. Maka dari itu, saya melepaskannya. Saya memintanya pergi yang jauh dan mencari seseorang yang bisa menenangkannya. Lucky melukai dirinya sendiri dengan memikirkan saya. Saya pun melukainya dengan ketakutan-ketakutan yang timbul karena saya masih ada di sampingnya. Ada luka ketika kita bersama. Namun saya yakin, lukanya tidak akan sebesar ketika kita tidak bersama lagi. Sepertinya.

Sabtu, 12 Maret 2011