Datang lagi, dan
terasa sakit lagi. Ternyata, lukanya masih basah. Masih tidak bisa disentuh
oleh apapun. Saya kembali ke kota ini, untuk memastikan apakah semua yang
pernah saya jalani dengannya sudah lepas dari diri saya. Ternyata, semua ada
waktunya. Februari lalu, kota ini menjadi hadiah paling indah darinya. Ia
memberikan liburan yang sebebas-bebasnya. Saya boleh mengatur semua jadwal
harian selama di sini. Kalaupun ketika itu saya ingin tidur sepuasnya di kota
ini, tidak akan menjadi masalah baginya. Borobudur, Merapi, Parang Tritis, dan sudut kota
yang lain. Hari ini? Semua berganti menjai luka tanpanya.
Sebutlah kota
ini cerita dan mimpi. Sebuah cerita karena saya pernah menorehkan tinta berisi
perjalanan di kota ini. Juga mimpi, kelak suatu hari, saya akan kembali lagi ke
kota ini dengan orang yang saya sayangi. Yang datang dan memilih tetap tinggal
bersama. Dan saya berharap, ketika kembali lagi ke kota ini, sudah tidak ada
lagi tentang kamu di sudut-sudutnya yang sempit. Dan semoga, kamu berhenti
mengintai setiap kali saya ada di tempat ini. Tidak seperti kemarin, yang
tiba-tiba menghubungi dan mencoba mengingat-ingat lagi tentang kita di sini.
Semua sudah selesai. Sekarang tinggal mimpi-mimpi saya yang ingin saya bangun
di sini. Bukan kamu lagi.



