Jumat, 28 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 28


Kita belum bertemu lagi, yang seperti biasa dengan kikuknya, dengn serba salahnya, dengan gayamu yang suka terlambat-terlambatnya. Entah karena saya bersalah dan kamu merasa benar. Atau mugkin karena memang tidak perlu kita rangkai pertemuan yang seringkali hanya untuk menghabiskan waktu, mengusir pergi sepi. Kamu seperti tak ingin lagi melihat saya ada.

Sementara saya, menyesali tanggal lima belas lalu, yang mengatakan tidak bisa ketika kamu ajak bertemu. Lalu, berganti kamu yang selalu bilang tidak bisa dengan berbagai alasan, khasmu. Apa kabar tubuhmu? Lengan yang nyaman yang sempat kamu tawarkan untuk menjadi pegangan saat saya takut berada di ketinggian Teras Kota. Mata yang selalu berisi bintang kecil saat kamu bercerita tentang hari-hari yang melelahkan juga kejadian-kejadian lucu di jalan raya. Kaki yang selalu melangkah pasti saat berjalan bersama, meski terkadang kamu berada di depan tidak sejajar di samping saya.

Bagaimana kamu? Ketika kamu tidak dapat lagi menunjukkan apa-apa di depan saya, ketika kita tidak sedang sama-sama. Ketika sekarang, beberapa kebiasaan akhirnya sedikit banyak bisa disebut sebagai satu titik kenangan yang berlalu begitu saja.

Barangkali kamu masih seperti kemarin. Baik, tidak begitu pandai mendengarkan saya bercerita dan pandai membuat saya tertawa. Walau hanya tentang jalan-jalan berlubang yang selalu membuat air mukamu berubah menjadi panik dan penuh maaf. Yang selalu kamu jelaskan sebagai sebuah keadaan yang apa boleh buat. Jalanan di luar gelap, apalagi ditutup derasnya hujan.

Tetapi, kamu pasti tahu, setiap laut punya batasnya sendiri. Barangkali bagimu itu semua tidak penting dan lebih penting pergi menjauh dari berbagai tegur sapa. Tetap berbahagia dengan apa yang berada di sekelilingmu. Dan melupakan satu, dua, tiga kejadian pada pertemuan-pertemuan yang tadi saya sebutkan. Dan meminta saya untuk segera tersenyum menghadapi sesudahnya. Hingga setelahnya yang tercipta hanyalah jarak-jarak yang melelahkan sedang kamu tidak peduli.

Sabtu, 22 Februari 2014

Sementara

Sementara teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Jangan henti disini

==

Saya seperti disihir oleh lagi ini. Begini, seperti juga udara, hati juga seharusnya diberi ruang agar ia menemukan ‘tempatnya’ sendiri. Lirik ini tidak berbelit-belit. Persis seperti hati saya sekarang. Setelah berhari-hari meributkan hal yang saya sendiri tidak tahu jawabannya, akhirnya, untuk sementara ini, saya memutuskan pasrah. Biarkan dia maunya apa. Saya tidak akan ganggu dulu.

Dari lirik ini, seolah saya berkaca, teduhlah sejenak – jangan jatuh dulu. Kita berdua masih punya mimpi, kita berdua masih terikat janji. Meskipun (mungkin) keduanya sama-sama diucapkan dalam hati, tapi percayalah, lebih dari ini pernah kita lalui.

Tidak ada yang meleset satu bait pun. Lagi ini menceritakan bagaimana saya dihadapannya. Gegap, tetapi sendiri. Kadang penasaran, kadang rindu, kadang mencari, kadang malu-malu. Kadang sesekali ia hadir, kadang ia menghilang. Dan ketika saat menghilang itu datang, inilah waktu saya untuk menyingkirkan dulu rindu. Sambil berharap, suatu hari nanti, apa yang pernah menjadi mimpi-mimpi saya dengannya akan menjadi nyata. Makanya, saya nggak mau berhenti sampai di sini.

Jumat, 21 Februari 2014

Kenapa Jilbab?

Seorang teman bertanya, kenapa tiba-tiba saya memutuskan pakai jilbab. Tiba-tiba sekali. Kemarin masih jalan pakai hot pants dengan tali bra yang kelihatan ke mana-mana, besoknya sudah rapi, tertutup dengan pakaian panjang menutupi aurat. Lalu di depan teman saya itu, saya bilang, “gak tahu, tiba-tiba pingin pakai, yasudah, pakai.”

Mikir panjang nggak? Jelas mikir, panjang sekali. Alasannya, pertama, karena saya pernah berjilbab, lalu memutuskan lepas lagi. Jadi, tahun 2010 lalu, saya pernah berjilbab. Waktu itu dorongan terbesar saya adalah ingin menyenangkan hati banyak orang, terutama Lucky yang ketika itu menjadi pacar saya. Ya, dia suka sekali melihat wanita berjilbab. Adem, katanya. Memang secara langsung dia tidak pernah meminta saya mengenakan jilbab, tetapi hati kecil selalu ingin menyenangkan orang-orang yang saya sayangi. Pacar saya, Ibu saya, Ayah saya.

Setahun kemudian, setelah saya putus dengan Lucky, saya merasa, tidak perlu lagi menyenangkan hati manusia satu itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk melepaskan hijab saya. Malu? Ya. Tapi saya punya kepentingan untuk menyenangkan diri saya sendiri pada saat itu. Masih ingin terlihat modis dengan buka-bukaan. Setelah lepas, rasanya saya lebih parah berpakaian pada saat itu. Jadi lebih senang pamer paha, lebih senang pamer belahan dada, lebih senang pamer lengan.

Sampai pada akhirnya saya tahu, di mana letak kesalahan saya. Menjadi fatal karena saat itu niat saya berjilbab adalah ingin menyenangkan hati banyak orang. Bukan semata karena Allah Ta’ala. Makanya begitu saya lepas kembali jilbab itu, saya seperti balas dendam buka-bukaan. Hampir satu tahun saya menjalani hal itu. Ketika ada teman bertanya mengapa saya melepas jilbab, dengan santai akan saya jawab, “namanya juga iman manusia, ada pasang ada surutnya.” Dan menganggap hal itu biasa saja. Saya tidak memikirkan ada Mama dan Ayah yang sedang memendam luka melihat saya seperti ini. Tapi bersyukur, kedua orang tua saya sangat demokratis, selama tidak menyakiti dan melawan aturan, Mama dan Ayah hampir tidak masalah. Itu sebatas apa yang saya lihat. Tetapi dalamnya hati tetap tidak terukur kan, ya?

2012 pertengahan, bulan juni tepatnya, saya membaca sebuah pesan. Dari social media, barang siapa seorang perempuan melangkah satu langkah keluar rumah tanpa mengenakan hijab, maka Ayahnya satu langkah mendekati pintu neraka. Lalu saya cari tahu, kenapa bisa begitu? Ternyata itu adalah sebuah konsekuensi dari kewajiban seorang muslim. Sama halnya dosa bagi orang yang munafik, dosa bagi orang yang membunuh, dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajiban sholat, juga dosa bagi orang yang tidak menjalankan kewajibannya berpuasa.

Sebab bagi perempuan, menutup aurat adalah wajib hukumnya. Dan tidak akan gugur oleh kewajiban-kewajiban yang lain, atau perkembangan zaman, atau kepentingan seperti misalnya ada beberapa kantor yang melarang karyawan perempuannya memakai jilbab. Lantas dengan alasan kemanusiaan, kewajibab perempuan berjilbab itu akankah hilang? Tidak.

Maka dari saya membaca hadist tentang konsekuensi berjilbab, dan ayat-ayat dalam al-qur’an, akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Sederhananya, saya sangat menyayangi kedua orang tua saya. Ayah saya salah satunya. Dunia ini saja saya belum tentu bisa menyenangkan hatinya, mana mungkin saya berani memperkarakan Ayah saya di hadapan Allah ketika di akhirat nanti hanya karena saya luput menjalankan kewajibannya sebagai perempuan pemeluk agama islam. Itu yang menjadi pegangan saya. Bismillah lillahi ta’ala, saya akan menjalankan ini hanya untuk mencari ridha Allah.

Alasan yang lain lagi adalah karena saya harus berterima kasih kepada Allah. Saya memang belum pernah bisa selesai mengukur nikmat yang Allah berikan pada saya. Selalu saya gagal menghitung berapa banyak. Makanya, satu-satunya cara saya bersyukur adalah dengan menjalankan kewajibannya. “Apalagi yang mau saya cari?” “Kalau bukan sekarang, kapan lagi mau berterima kasih?” Dua kalimat pusaka, yang akhirnya membuat saya tidak berpikir panjang.

Bagaimana dengan paradigm banyak perempuan yang bilang, lebih baik menjilbabkan hati dulu, baru menjilbabkan kepala? Sah-sah saja. Itu hak mereka ingin berbicara seperti apapun. Tetapi, saya pun memiliki pendapat sendiri. Bahwa hati dan aurat adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang lain tidak dapat menembus sampai ke dalam hati kita dengan panca inderanya. Terutama bagi yang bukan muhrim. Jadi tidak mungkin ada dosa yang lahir karena ada laki-laki melihat hati perempuan lain. Tetapi sebaliknya, berdosalah laki-laki yang melihat aurat perempuan yang bukan muhrimnya. Sesimpel itu car berpikir saya.

Bagaimana dengan perempuan berjilbab dan merokok? Hampir sama dengan jawaban saya sebelumnya. Jilbab dan rokok adalah dua attribute yang sangat berbeda baik secara hukum syariatnya maupun kedudukannya. Jilbab dan rokok memiliki hukum yang berdiri sendiri pada al-qur’an. Tidak berhubungan, tidak ada sangkut pautnya. Jadi, piciklah mereka yang berpikir bahwa jilbab dan rokok sebaiknya memiliki hukum yang berhubungan. Jika diarahkan pada untuk member contoh baik atau buruk, bisa jadi. Di luar itu, keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa. Sesederhana itu sebenarnya. Jadi, kamu kapan mau berjilbab? Hehehe.

Jumat, 14 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day14



“Saya harus menulis apalagi di hari ke-14 ini? Saya tidak tahu ingin menulis apa. Saya hanya ingin mabuk hingga melupakan seluruh bagian surat yang pernah saya tulis. Untukmu.”



Never Ask Me


I
Tapi it’s ok kok, kamu boleh pacaran sama siapa saja.
Asal kamu ingat aturan main.
Kamu silakan melakukan apapun yang kamu suka.
Lagi pula saya pasti tahu lagi.

II
Masa?

I
Soal film.
Kamu suka film All The President Man. Kenapa?
Karena Dustin Hoffman main di situ.

II
You read my mind?

I
I read everything in you.

II
Everything?
Misalnya?

I
Ya, hati kamu. Pikiran kamu. Saya paham banget.
Kenapa laki-laki kaya dia menarik perhatian kamu.
Karena dia misterius. Dia hidup dalam permainan.
Dan kamu suka tantangan.
Kamu menolak kenyamanan.
Makanya kamu lebih pilih naik umum dari pada naik mobil.
Kamu tahu kok, ada banyak laki-laki yang suka sama kamu.
Tapi kamu lebih memilih dia. 
Laki-laki yang gerak-geriknya gak ketebak.

II


Yogyakarta, 14 Februari




Yogyakarta, 05:30 pagi.
Foto ini diambil sekitar 7 jam setelah Gunung Kelud bererupsi. Sekitar pukul 22.00 malam tadi. Diambil dari akun Path Mas Arga.



Jalan Malioboro, 9:00 pagi.
Abu vulkanik Gunung Kelud menyebar sampai ke titik nol Yogyakarta. Foto diambil dari akun Path Mas Arga.



Perempatan Ring Road Jl. Kabupaten, 11:50 siang.
Sepenglihatan mata, ini adalah perempatan ring road di Jl. Kabupaten arah barat dari Yogyakarta. Foto diambil dari akun Path Mas Arga.



Tugu Yogyakarta, 1:45 siang.
Masih diselimuti abu vulkanik. Kata teman-teman di sana, dampak erupsi kali ini melebihi Merapi 2010 lalu. Foto diambil dari akun Path Mas Arga.


Kamis, 13 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 13


Surat ini, jika tidak saya tuliskan, mungkin akan menjadi surat yang tertunda bertahun-tahun. Maka sebabnya, saya tuliskan saja apa adanya. Bukan karena sebuah tempo menulis surat  yang hanya berlangsung selama tiga puluh hari tetapi, saya tidak ingin apa yang seharusnya bisa dikatakan hanya mengendap menjadi sebuah geram.

Siapakah kita? Siapakah kamu? Siapakah saya? Sampai saya berani menuliskan dan sembunyi-sembunyi memintamu membacanya. Surat ini adalah surat yang paling menyita waktu yang sedikit saya punya. Hari kesekian, saya menuliskannya ketika sedang beristirahat. Hari ke sekian saya menuliskannya ketika saya sedang beada di kantor. Yang ternyata baru saya ketahui, kala itu pikiran saya beradu bising dengan tugas-tugas yang harus segera diselesaikan. Hingga saya pilih jalan terakhir untuk semuanya. Menuliskan surat dan menerbangkan kamu jauh-jauh dari pikiran saya. Walaupun hampir tidak bisa.

Kok tidak bisa? Ya karena saya tidak pernah tahu lagi kabarmu. Karena saya tidak pernah bisa lagi menyapa jika tidak sampai dipaksakan. Karena kita tidak bisa lagi duduk bersama, bercerita, dan beradu siapa yang paling kuat berdebat lalu mengalah lagi. Karena sebenarnya kamu tidak pernah hilang terlalu jauh dari sekitar saya. Karena ternyata kamu tidak pernah bisa benar-benar lenyap dari tatapan.

Sekali saya bertanya, pada hari-hari di mana kita tidak bertemu. Mungkinkah senja, matahari, langit sore, dan gelap akan juga melewati saya dan kamu? Kemudian mereka memaksa saya untuk terus mengerti?

Teduh Meneduhkan


10.46 – A:
Aku ngantor. Siang ketemu di TIM ya.

15.28 – B:
Sudah selesaikah urusanmu?

17.01 – A:
Kemari.

19.33 – B:
Tunggu di Bata Merah, ya.

19.37 – A:
Sebentar aku ke kamu.

19.54 – B:
Mas, maaf ya menunggu lama. Aku baru bisa keluar jam segini.

19.54 – A:
Lho, santai saja. Lelaki nasibnya menunggu.




Hari ini saya belajar tentang nasib laki-laki. Dari seorang yang baik. Bahwa sudah menjadi nasibnya laki-laki untuk menunggu.

Rabu, 12 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 12



Suatu hari, Bung Karno pernah bilang,

“… ada saatnya dalam hiduupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin. Menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.”


Itulah mengapa di dalam pikiran, kamu mewujud seperti angin.

Float

Tolong jangan ganggu selera saya yang terlambat ini. Mulai hari ini saya bersedia untuk tergila-gila dengan:

o   Float
o   Efek Rumah Kaca
o   Float (lagi)
o   White Shoes & The Couples Company
o   Float (lagi)
o   Tulus
o   Float (lagi)
o   Payung Teduh
o   Float (lagi)
o   Sore
o   Float (lagi)
o   HiVi
o   Float (lagi)
o   Pure Saturday
o   Float (lagi)

Dan yang selalu, dari dulu membuat tergila-gila:
o   Naif
o   Maliq & The Essentials
o   Trio Lestari

Welcome mine, <333

Selasa, 11 Februari 2014





"Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui..."







#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 11


Hari ini, saya ingin bicara tentang rasa kehilangan yang datang tiba-tiba. Ia seperti datang tanpa mengetuk pintu. Tiba-tiba masuk lalu tinggal di dalam. Ini pun tentang kamu, orang asing yang sekejap juga sebentar menjadi dekat. Bukan karena kedekatan yang kerap selama bertahun-tahun. Tetapi karena rasa kaget dengan pertemuan yang kembali dan percakapan-percakapan singkat yang bersilang menjadi satu. Yang begitu kamu tidak datang, ia melahirkan perasaan baru bernama kehilangan dan malu untuk mencari.

Kamu mengertikah, kehilangan seperti ini adalah kehilangan yang tidak akan pernah mudah untuk dipahami? Kehilangan yang memberikan beberapa ruang untuk waktu yang menjadi hening. Tetapi waktu-waktu itu tidak akan bisa terdefinisi. Ia meluruhkan asal mula perkiraan tentang siapa dan mengapa. Meninggikan terus kesunyian yang tidak berbentuk. Seperti malam yang selalu mengakrabi doa dalam heningnya. Yang menghadirkan doa-doa bersuara lirih. Bukan kata-kata lantang yang bernada tinggi.

Dengan semua ini, kamu seolah meyakinkan saya bahwa segala rupa percakapan-percakapan di antara kita telah selesai. Bahwa yang tinggal hanya sisa-sisa perjalanan yang tetap hidup dalam ingatan. Bahwa semua ini telah lahir dari pertemuan yang tiba-tiba, yang tidak akan pernah saya mengerti selamanya, yang tidak satupun kamu jabarkan dalam baris kalimat mengapa sampai tercipta kehilangan, padahal kamu tidak benar-benar menghilang.

Atau mungkinkah, waktu telah mengembalikan kamu pada sepasang keadaan seperti sebelumnya? Keadaan di mana kita adalah dua orang kawan lama yang tidak pernah bertemu juga tidak pernah berbagi cerita dan canda?

Senin, 10 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 10


Akhirnya, terlewati sudah sepuluh hari pertama yang lumayan menjadi berat karena ulah sendiri. Saya hampir kalah dilahap rasa penasaran. Juga hampir menyerah karena hal-hal seperti ini sebenarnya tidak perlu dipertanyakan terus-menerus.

Hei, kamu apa kabar? Bagaimana pertandingan-pertandingan? Bagaimana hari-hari di sana? Dan bagaimana-bagaimana lainnya di dalam hati. Ini adalah hari saya, yang sedang  menenggelamkan diri dalam rasa penasaran. Walaupun saya tahu, rasa ini masih bisa saya tahan jika saya mau sebab bukan mustahil jika hanya menghilangkan sebuah rasa penasaran yang sengaja dicari-cari. Tetapi, mungkin kamu tidak akan pernah paham tentang ini, tentang saya yang begitu ingin tahu, adakah yang akan tumbuh atau yang akan mati  di akhir hari ke-30 nanti.

Akhir-akhir ini saya sering bertanya pada diri saya sendiri. Benarkah kamu tidak mengetahui, atau kamu sedang berpura-pura tidak melihat semua ini. Seperti yang sering saya dengar, kita bisa saja mempersiapkan kegembiraan, tetapi kita tidak akan pernah bisa mempersiapkan pertemuan dan juga kehilangan. Kita bisa saja membiarkan mata-mata kita terbiasa memandangi daun-daun yang jatuh tertiup angin, tetapi kita tidak bisa menolak keinginan untuk meghentikan mereka berceceran. Karena setiap manusia sebenarnya tahu, tidak ada kebahagiaan tanpa sebuah jeda. Dan barangkali, kamu lah yang dinamakan jeda.

Dengan jeda, kamu bisa membuat orang menjadi sayang padamu, bisa juga membuat mereka berbalik membencimu. Dengan jeda, kamu bisa dengan mudah membuat orang menjadi perduli padamu, menjadi terpaku dengan segala kesederhanaan yang kamu punya. Dengan jeda kamu bisa melakukan semua itu.

Tetapi, mungkinkah jeda yang saya hadapi hanya sekedar jeda mengenai kekosongan? Sekedar pantulan dari rasa bosan menjalani hari-hari yang selalu bertemu dengan skala dan jadwal yang sama? Bangun pagi, lalu memperkerjakan diri untuk mengejar semua yang belum pernah saya miliki? Hanya untuk memperlihatkan kepada semua orang bahwa saya bukan orang yang malas berjuang.

Entah sejak kapan, bahwa ternyata, semakin kamu menjauh, semakin kamu tidak menjadi orang asing dalam pikiran saya. Kita memang tidak pernah telibat apa-apa. Kita juga tidak pernah bertanya tentang siapa diri kita. Hanya saya, yang terus mengikuti kemana kamu pergi sejauh apapun langkah itu. Saya seperti sedang mengikuti orang asing dari belakang. Dari jarak yang jauhnya tidak terukur oleh kita tapi saya yang tentukan sendiri. Di sini, saya hanya tinggal menunggu kapan saya lelah mengikuti dan berjalan di belakang, kemudian saya akan berhenti bertanya lalu berlaku seperti tidak pernah ada apa-apa.

Minggu, 09 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 9


"Jika suatu hari kamu bisa lebih berani lagi untuk memperlihatkan diri, bicaralah, jangan diam."

Di 'Day 1' yang lalu, sudah terlanjur bilang bahwa akan menulis tentang kamu selama 30 hari ya? Boleh ganti, nggak? Tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini menjadi teman paling akrab? Semua timeline kerja sedang hectic tetapi produktif. Boleh?

Mengapa tiba-tiba jadi ingin mengganti topik? Orang yang pergi baiknya tidak perlu ditanya-tanya lagi bukan? Sebab saya tahu, kamu sudah memilih cara yang paling mudah; dengan hilang begitu saja, dan tidak memberi pesan apa-apa.

Sebenarnya, bukan hal sulit melanjutkan #30HariMenulisSuratCinta ini tentang kamu, jika kamu memang orang yang pantas untuk dibahas 30 hari berturut-turut. Namun, dalam segal hal, saya sudah kehabisan cerita tentangmu. Seperti malam selalu diseimbangkan dengan siang. Pergi diseimbangkan dengan pulang. Begitu juga datang, selalu diseimbangkan dengan hilang. Dan hilang ini tidak hanya membuat tanya, tetapi juga membuat saya lelah.

Satu minggu yang lalu, saya memang seperti benar-benar kehilanganmu. Saya mencoba mencari. Tetapi tempatmu malah semakin tidak terlihat. Detik ketika kehilanganmu terasa sangat memilukan, tiba-tiba saya teringat pesan seorang teman; "tidak perlu lagi kamu mencari-cari orang yang sengaja pergi. Hidup bukan untuk membuang-buang waktu memikirkan orang yang menghindarimu. Dia pergi, karena tidak ingin diam denganmu." Juga tentang semua yang berawal dari melepaskan.

Saya diam mendengar semua. Lalu ingat, ternyata saya memiliki keluarga yang selalu ada tanpa diminta. Sahabat-sahabat baik yang datang bergantian kemudian pergi lagi, tanpa pernah menghilang. Teman-teman yang menyenangkan tanpa perlu menukarkan kekhawatiran. Dan terakhir, saya merasa, saya hanya terjebak dengan rasa nyaman berada di dekatmu berjam-jam. Bisa jadi, di situlah tempat saya kemarin.

Sabtu, 08 Februari 2014

Dendam Masa Kecil

Sabtu sore itu, lagi-lagi dari sebuah tidak sengaja janjian bertemu, lalu akhirnya membuahkan banyak cerita. Sore itu saja janjian ngopi-ngopi lucu di Kedai Tjikini bersama dua laki-laki yang sangat hebat menulis. Kang Diki Umbara yang sudah tidak perlu lagi saya ceritakan siapa beliau, silakan tinggal dicek saja profilenya melalui @dikiumbara. Juga dengan Mas yang super kontroversial ini. Mas Arman Dhani, yang sangat blak-blakan dalam bicara, mempunyai hobi twitwar dan memancing twitwar via @arman_dhani

Cas cis cus punya cerita, sore itu ternyata Mas Dhani sedang ingin mencari tujuan hidupnya di sebuah mall mana saja yang  menjajakan DC Shoes di dalamnya. Setelah mengetahui itu, tidak lama datang lagi Mas Lukman. Kali ini, saya baru mengenal Mas Lukman tepat ketika dia datang ke Kedai Tjikini.

Obrolan yang apik mengenai tujuan hidup. Ternyata, tujuan hidup Mas Dhani itu berasal dari dendam masa kecil yang ingin mengoleksi sepatu. Ketika Mas Lukman menawarkan sepatu dengan brand lain sebagai opsi untuk Mas Dhani, dengan lantang Mas Dhani menjawab, “ini bukan tentang merk bro, tetapi tentang tujuan hidup. Berapapun akan saya bayar.”

Lalu, Mas Lukman bertanya pada saya, “Lina, apa dendam masa kecilmu?” Ditanya begitu, saya langsung berpikir sembari mengingat-ingat apa yang menjadi keinginan tidak tersampaikan bagi saya sejak masa kecil dulu. Waktu seperti bergerak mundur pada saat saya SD, SMP, dan SMA. Tetapi, saya tidak menemukan apa dendam masa kecil saya. Berbeda dengan Mas Dhani, yang memiliki banyak dendam. Ingin mempunyai 3.000 buah buku yang menjadi koleksi, (status; sudah tersampaikan). Ingin mempunyai sepatu DC Shoes, (status; baru tersampaikan).

Kembali lagi ke dendam masa kecil. Dahulu, ketika saya kelas 4 SD, saya dan keluarga getaway ke daerah Puncak. Dengan kendaraan peribadi. Dan saya, masih ingat betul, ketika itu melihat wedges berwarna abu-abu dan hitam yang lucu milik Tante Nana. Begitu melihat, saya langsung ingin sekali memakainya selama liburan ke puncak itu, tetapi Tante saya bilang, jangan dipakai, karena kebesaran, bukan karena tidak diizinkan. “Sepatunya kebesaran untuk kamu, nanti kamu susah sendiri loh di jalan.”

Saya tidak jadi memakainya, tetapi sebelum kami berangkat ke Puncak, wedges itu tidak pernah lepas dari kaki saya. Mungkin, dari sinilah awal mula, mengapa saya begitu mencintai sepatu, terutama heels dan wedges. Mungkin nggak, ini disebut dendam masa kecil? Dan Mas Lukman bilang, semua orang pasti punya dendam masa kecil yang harus dituntaskan ketika ia dewasa.

#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 8


Ternyata Ayah itu benar, dunia kerja media itu tidak hanya berisi kegaduhan orang-orang yang memburu berita saja, atau editor yang berkejaran dengan waktu, redaktur dan pemimpin redaksi yang selalu pusing dengan edisi-edisi yang harus siap terbit. Ternyata kehidupan pelakunya juga riuh rendah dengan kehidupan pribadi yang nggak pernah habis.

Soal kamu, sampai sekarang belum beres juga. Begitu kemarin ramai-ramai di Path berisi cerita tentang orang tua yang kehilangan anaknya yang berusia 1 tahun 10 bulan karena menderita radang paru-paru akut akibat sisa-sisa nikotin yang melekat di baju Ayahnya, saya jadi ingat kamu yang waktu itu bilang ingin berhenti merokok, tapi susah. Saya ingat kamu yang tiba-tiba nyeletuk sedang mengurangi rokok. Malah saya tidak ingin melihat kamu merokok lagi sejak itu. Dan, akhirnya, saya lebih mengkhawatirkanmu soal ini, walaupun cuma sebatang, ketimbang persoalan kamu menghilang karena sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

Balik lagi soal kamu yang hilang, untuk pertama kalinya saya merasa sangat sulit bicara dengan kamu. “Are you hiding something?” Berkali-kali saya cari tahu, saya semakin tidak mengerti kenapa kamu hilang. Setelah senin sore itu, saya merasa itu adalah komunikasi terakhir saya dengan kamu. Saya sebenarnya murung, tapi tidak mungkin bertanya kenapa kamu tidak pernah lagi menyapa saya. Curiga saya, kamu sedang sibuk dengan pertandingan basketmu di Kanwil, juga berbagai persiapanmu untuk resign. Tapi saya tidak mau bersangka-sangka dulu. Semoga kamu menghilang tidak lama.

Oh ya, baru kali ini, saya merasa benar-benar tidak punya tenaga di depan orang lain. “Apa yang sedang terjadi di diri saya?” Saya nggak ngerti. Saya merasa separuh pikiran saya ikut hilang. Beberapa waktu yang lalu, saya merasa sangat dekat dengan kamu, tapi setelah itu kamu kelihatan penuh rahasia dan penuh strategi. Mungkin keyakinan saya benar, kamu tidak akan bisa membiarkan dirimu dibagikan sepenuhnya ke orang lain. Akan ada beberapa titik di dalam diri kamu yang nggak bisa disentuh oleh siapapun.

Mungkin ini pertanyaan bodoh dari saya, sebenarnya bagaimana sih kita tahu orang yang tepat untuk kita itu yang mana? Apakah berdasarkan getar hati setiap kali ketemu? Atau berdasarkan pertemuan yang begitu kerap?

Jumat, 07 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 7


Baru day 7, sudah terasa seperti Juliet yang kesiangan, menulis surat roman picisan untuk orang yang sama setiap hari. “Mungkinkah kamu resign 23 Februari ini? Dan kita ke Jogja untuk sekedar menggantikan rencana kemarin yang gagal?”


Kalau sampai tidak ada waktu untuk pergi, setidaknya kamu jangan mengilang lagi.

Kamis, 06 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 6


Bravo Alfa Yankee Uniform

How hard it was. Hari ini saya penuh dengan sandi-sandi NATO. Nggak di Twitter, nggak di Path, termasuk di sini, hari ini. Saya mendadak jadi orang yang paling cranky sepanjang hari. Yang gak biasa-biasanya tidur jam 7 malam, teng, tiba-tiba tidur. Walau akhirnya bangun lagi pas jam 9.30.

Ada apa, sih? Tiba-tiba kamu hilang.



“Hiduplah bersama orang yang mati-matian membahagiakan kamu. Bukan dengan orang yang mati-matian kamu bahagiakan.” - Ifan



Rabu, 05 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 5


Hari kelima, masih tentang kamu. Saya sebenarnya sudah tidak ingin bolak-balik menuliskan tentang kamu, tentang kamu. Tapi tadi siang, tiba-tiba teman sekolah kita dulu menyapa saya via whatsapp. Lalu saya iseng bertanya tentang kamu. Itu pun tidak sengaja karena dia keburu memanggil saya dengan namamu. “Pernah denger gossip nggak enak soal dia, nggak?”

“Ada,” balasnya secepat kilat. Tidak seperti kamu yang selalu butuh waktu berlama-lama untuk hanya sekedar membalas pesan-pesan saya. Saya tiba-tiba gemetar. Deg-degan takut gossip itu seputar hal-hal yang menyakitkan telinga. Walaupun penasaran, tetapi, untuk hal-hal yang menyakitkan, saya merasa lebih baik tidak tahu apa-apa. “Gosipnya, lo sering nge-tag dia di Path padahal dia nggak main Path. Haha. Nggak ada Lin, udah lama nggak ketemu.” *tarik napas*

Puji Tuhan. Segala Puji Bagi Allah. Saya lega, ternyata bukan seputar reputasi buruk, misalnya ternyata kamu sekarang sedang punya pacar atau apalah yang rata-rata perempuan takutkan. Saya lega, lalu beberapa kali dia bertanya ada apa kita. Berkali-kali saya menjawab, kita berteman. Dia bilang itu bisa-bisanya saya saja. Padahal memang begini adanya. Dia tidak tahu, berapa lama, saya kehilangan kabarmu. Iya, saya sedang kehilangan kabar temannya. Mungkin dia, juga saya, bukan orang yang lihai membaca hati. Buktinya, semua tentang kamu hari ini, blank. Kalau saya harus menuliskannya di atas kertas tentang kamu saat ini, saya hanya akan menandai kertas itu dengan titik yang sangat kecil. Sisanya, akan saya biarkan kertas itu tetap putih dan kosong, sampai kamu sendiri yang mengisinya hingga penuh. Saya tinggal membacanya, lalu memahami.

Selasa, 04 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 4




“… I didn’t talk to you and didn’t text you, but I seeing your last seen today all the time.”




Sincerely,
Me. 

Senin, 03 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 3


Pagi ini, saya terpaksa banget kirim foto itu ke messenger-mu. Benar terpaksa. Saya yakin benar, kamu pasti bertanya-tanya, kenapa kirim foto ini? Kenapa captionnya complicated mind? Dan kenapa-kenapa yang lain. Atau pertanyaan yang lain. Minimal;

1. Kenapa kamu judge-ing saya?
2. Kamu tahu siapa saya? Tahu bagaimana saya? Tahu tentang Hidup saya?
3. Maksudnya apa kirim-kirim begitu? Kamu pikir hidupmu sudah paling benar di mata saya?
...
...
10. Kamu siapa saya?

Dan lain-lain, dan lain-lain yang mungkin menjadi pertanyaanmu. Mungkin juga jadi memancing emosimu, yang membuat kamu akan semakin menghilang, makin entahlah. Rasanya horror, ya? Untuk mendeskripsikan keadaan yang paling tidak pernah terduga sebelumnya.

Terus terang, saya jadi ingat perkataan teman saya yang tidak sengaja, ketika saya dengannya sedang bermain kartu tarrot, tiba-tiba dia bertanya pada saya. Seingat saya, yang dia tanyakan adalah, "is he introvert, Lina?" And suddenly, i answered with “didn't know."

Kembali lagi, saya ingat-ingat bagaimana kamu. Kalau ada orang yang paling tidak bisa dibaca pikirannya, kamulah orangnya. Jalan pikiranmu tidak ketebak. Walaupun badan kamu ada di samping saya, rasanya, pikiran kamu berada entah di mana. Pernah kita berjam-jam berada di dalam mobil yang sama. Satu ruangan yang sama, tetapi saya merasa, kadang pikiranmu ada di dalam mobil itu, kadang tidak ada hingga saya harus mencari, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan

Saya juga pernah bertanya, kenapa kamu tiba-tiba deactive account. Jawabanmu malah balik bertanya, "memang hidup harus selalu update di social media? Harus twitteran? Harus punya instagram? Harus punya path?" Sampai saya tidak sadar, ternyata kamu hanya menguapkan pertanyaan saya. Atau pertanyaan-pertanyaan lain dari saya yang sering kamu jawab hanya dengan senyum, jawaban tidak tahu, atau diam beberapa detik, lalu mengganti pertanyaan dengan topik yang lain.

Sampai saya pernah bertanya, kenapa setiap bagian saya bertanya, kamu selalu menjawab dengan jeda beberapa detik, dan jawaban-jawaban mengambang. Hanya senyum, tidak tahu, atau pertanyaan balik. Tetapi, pertanyaan seserius itu hanya kamu tanggapi dengan santai, “masa sih?” Lalu sudah.

Minggu, 02 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 2


11:00
Me         : "Jadinya weekend ini ke mana? Nanti sore ke mana? Makan yuuuk."

15:00
Him        :  "Nggak bisa. Ada kerjaan yang harus diberesin."






Ok, semoga doa saya benar; semoga segera selesai karya ilmiah yang menjadi tanggung jawabmu. Semoga pekerjaan dan persiapan resignmu lancar. Semoga karirmu berjalan dengan baik. Semoga pekerjaan yang harus diberesin itu cepat bares! Kalau sudah selesai, semoga nggak hilang-hilangan lagi.

Sabtu, 01 Februari 2014


#30HariMenulisSuratCinta #PosCinta
Day 1


Sebenarnya hari ini antara hari yang perlu disesali, atau yang memang harus dijalani se-apa ada-nya mungkin. Jauh sebelum tanggal 1 ini, bahkan sebelum tanggal 31 kemarin, saya sudah membayangkan Yogyakarta, malam hari, lampu kota, Tugu, wisata kuliner, wisata kultur, wisata alam, dan kamu. Tiga hari untuk selamanya yang sempat beberapa kali kamu tanyakan itu.

Hidup memang penuh dengan lika-liku yang tidak tertebak; tidak dapat cuti, tidak dapat izin pergi dari orang tua, juga faktor terakhir yang paling krusial, cuaca. Banjir di mana-mana, semua jalur terputus, jalan yang ditutup dan rusak, juga rumah yang kadang-kadang masih suka kebanjiran kalau curah hujan tinggi selama lebih dari dua jam. Termasuk saya tidak pernah menebak bagaimana kita bisa bertemu lagi. Sebuah kebetulan karena di jam yang sama kita bertemu di social media. Sabtu sore itu, pertandingan basket yang sama sekali tidak saya mengerti, gerimis, dan parkir miring ala kamu yang berkali-kali diulang.

Dan di hari pertama ini, saya ingin menulis tentang kamu hari ini. Seharian ini, juga kemarin. Kamu tidak tahu, yang saya inginkan di hari 31 Januari itu, sebenarnya kulineran di Bogor, sama kamu. Entah dari kapan mulainya, tetapi saya suka sekali wisata kuliner. Mencoba berbagai macam makanan daerah setempat, makanan paling hits di kota A-B-C yang direview banyak food blogger. Tetapi mungkin kamu kurang mengerti hingga bilang, “makan doang sampai ke Bogor?” Juga ditegaskan lagi dengan isi whatsapp kamu yang bilang jalan macet di mana-mana dan seperti biasa, menghilang. Btw, rasa-rasanya tidak perlu lewat puncak ya, untuk sampai ke Bogor. :p

Rencana yang lain yang menjadi emergency exit hari itu, sebenarnya saya juga ingin datang ke acara LocalFest ID di Gandaria City. Selain ingin study banding brand-brand local yang terlibat dalam event LocalFest, saya juga mau icip-icip makanan yang paling hits seantero instagram. Tapi lagi-lagi, kamu cuma tanya, “itu acara apa?” Kemudian hilang (lagi).

Merasa gagal membaca seleramu? Iya. Saya nyaris tidak percaya diri lagi mengajakmu kesana-kesini. Takut tidak qualified dengan selera kamu. Hanya satu hal yang saya ingat setiap ingin mengajakmu. Setelah tidak di Bandung, kamu kehilangan ‘partner in crime’ yang buat hidupmu di Pamulang jadi tidak seasik di Bandung. Bukan bermaksud menggantikan ‘partner in crime’ itu, tapi setidaknya, hidup yang cuma sekali ini seharusnya bisa kamu nikmati seasik mungkin. Waktu jalan terus dan tidak pernah mau menunggu. Kita harus kreatif untuk bisa menikmati semuanya tanpa merasa kehilangan waktu. Oh, saya sok tahu ya? Oke. Balik lagi ke permasalahan awal, bahwa-saya-tidak-tahu-apa-seleramu.

Alhasil, malam itu yang saya jalani adalah, wara-wiri buat persiapan ulang tahun teman saya. Dari Bungur, saya harus ke BSD jam 9.30 malam. By taksi, yang saya kirimkan juga nomornya ke handphone kamu. Acara berlangsung sesuai rencana, teman saya juga kelihatannya kaget sekali saya dan anak-anak tiba-tiba datang ke rumahnya. Alhamdulillah, setidaknya, setelah plan A-B-C gagal, plan saya yang terakhir berhasil. Wara-wiri ulang tahun selesai subuh, dan pulang ke rumah jam 7 pagi. Tidak tidur.

Di sini yang agak membuat saya… merasa sangat-sangat tidak kenal denganmu. Pagi ini, 1 Februari 2014 adalah hari pernikahan kakaknya teman baik saya. Saya memang tidak begitu akrab dengan kakaknya. Bertemu pun hanya satu kali. Tetapi adiknya, adalah teman baik saya satu kamar kost dulu. Yang sekarang masih keep in touch hampir setiap hari.

Pagi itu, saya sangat mengandalkanmu. Karena saya belum tidur, saya harus datang ke undangan dengan berkebaya yang membuat saya tidak mungkin mengendarai mobil sendiri. Dan saya baru tidur jam 8 pagi, sedangkan jam 11 siang sudah harus sampai di Departemen Pertanian, Pasar Minggu. Saya mengerti, memang seharusnya untuk hal-hal sekecil ini saya tidak perlu mengandalkan siapa-siapa. Tidak mengandalkan kamu terutama. Tetapi bukan itu maksud sebenarnya. Kalau saja kita datang hari itu, di sana datang semua sahabat terbaik saya. Saya ingin membawa kamu ke tengah-tengah mereka. Walaupun ini bukan moment yang tepat, tetapi saya ingin, mereka tahu, siapa kamu.

Kepada sahabat-sahabat saya itu, pagi hari saya bilang, kita akan datang. Mereka menunggu, mereka juga penasaran, mana kamu yang pernah nongol dari balik Path saya, yang fotonya pernah saya share waktu itu. Sahabat-sahabat saya bahkan berkali-kali telepon, bertanya saya tiba di sana jam berapa. Beberapa yang lain bertanya via Line, BBM, WhatsApp. "Lina kamu jadi datang, kan?" "Lina, kamu sampai sana jam berapa?" "Lina, kamu jadi pergi sama siapa?" Sedangkan saya? Saya kebingungan mencari kamu di mana. Telepon saya tidak kamu angkat, pesan saya tidak ada yang kamu balas satu pun. Padahal yang ada di kepala saya pagi itu hanya, keluar rumah dengan kamu, atau saya tidak datang sama sekali karena pagi itu saya tidak terpikir orang lain lagi. Iya, saya tahu, saya memang tidak menjanjikan kamu pasti datang, kamu juga tidak menjanjikan apa-apa. Tapi pagi itu, saya coba mencari kamu. Saya tahu, sebenarnya kamu sudah bangun. Tapi saya tidak tahu, kamu pagi itu, kamu kenapa begitu. 




PS:
“Kamu kenapa? Kamu marah, long weekend nggak jadi ke mana-mana? Atau marah waktu semalam saya bilang saya nggak suka yang tentatif-tentatif?



Iya?”