#30HariMenulisSuratCinta
#PosCinta
Day 1
Sebenarnya hari
ini antara hari yang perlu disesali, atau yang memang harus dijalani se-apa
ada-nya mungkin. Jauh sebelum tanggal 1 ini, bahkan sebelum tanggal 31 kemarin,
saya sudah membayangkan Yogyakarta, malam hari, lampu kota, Tugu, wisata
kuliner, wisata kultur, wisata alam, dan kamu. Tiga hari untuk selamanya yang sempat beberapa kali kamu tanyakan itu.
Hidup memang
penuh dengan lika-liku yang tidak tertebak; tidak dapat cuti, tidak dapat izin pergi dari orang
tua, juga faktor
terakhir yang paling krusial, cuaca. Banjir di mana-mana, semua jalur terputus,
jalan yang ditutup dan rusak, juga rumah yang kadang-kadang masih suka
kebanjiran kalau curah hujan tinggi selama lebih dari dua jam. Termasuk saya tidak pernah menebak bagaimana kita bisa bertemu lagi. Sebuah kebetulan karena di jam yang sama kita bertemu di social media. Sabtu sore itu, pertandingan basket yang sama sekali tidak saya mengerti, gerimis, dan parkir miring ala kamu yang berkali-kali diulang.
Dan di hari pertama ini, saya ingin menulis tentang kamu hari ini. Seharian ini, juga kemarin. Kamu tidak tahu, yang saya
inginkan di hari 31 Januari itu, sebenarnya kulineran di Bogor, sama kamu. Entah dari kapan mulainya, tetapi saya suka
sekali wisata kuliner. Mencoba berbagai macam makanan daerah setempat,
makanan paling hits di kota A-B-C yang direview banyak food blogger. Tetapi
mungkin kamu kurang mengerti hingga bilang, “makan doang sampai ke Bogor?” Juga ditegaskan
lagi dengan isi whatsapp kamu yang bilang jalan macet di mana-mana dan seperti
biasa, menghilang. Btw, rasa-rasanya tidak perlu lewat puncak ya, untuk
sampai ke Bogor. :p
Rencana yang lain yang
menjadi emergency exit hari itu, sebenarnya saya juga ingin datang ke acara LocalFest
ID di Gandaria City. Selain ingin study banding brand-brand local yang terlibat dalam event LocalFest,
saya juga mau icip-icip makanan yang paling hits seantero instagram. Tapi lagi-lagi,
kamu cuma tanya, “itu acara apa?” Kemudian hilang (lagi).
Merasa gagal
membaca seleramu? Iya. Saya nyaris tidak percaya diri lagi mengajakmu
kesana-kesini. Takut tidak qualified dengan selera kamu. Hanya satu hal yang
saya ingat setiap ingin mengajakmu. Setelah tidak di Bandung, kamu kehilangan ‘partner
in crime’ yang buat hidupmu di Pamulang jadi tidak seasik di Bandung. Bukan bermaksud menggantikan ‘partner in crime’ itu, tapi setidaknya, hidup yang cuma sekali
ini seharusnya bisa kamu nikmati seasik mungkin. Waktu jalan terus dan tidak pernah mau menunggu.
Kita harus kreatif untuk bisa menikmati semuanya tanpa merasa kehilangan waktu.
Oh, saya sok tahu ya? Oke. Balik lagi ke permasalahan awal, bahwa-saya-tidak-tahu-apa-seleramu.
Alhasil, malam
itu yang saya jalani adalah, wara-wiri buat persiapan ulang tahun teman saya. Dari
Bungur, saya harus ke BSD jam 9.30 malam. By taksi, yang saya kirimkan juga nomornya
ke handphone kamu. Acara berlangsung sesuai rencana, teman saya juga kelihatannya
kaget sekali saya dan anak-anak tiba-tiba datang ke rumahnya. Alhamdulillah,
setidaknya, setelah plan A-B-C gagal, plan saya yang terakhir berhasil.
Wara-wiri ulang tahun selesai subuh, dan pulang ke rumah jam 7 pagi.
Tidak tidur.
Di sini yang
agak membuat saya… merasa sangat-sangat tidak kenal denganmu. Pagi ini, 1
Februari 2014 adalah hari pernikahan kakaknya teman baik saya. Saya
memang tidak begitu akrab dengan kakaknya. Bertemu pun hanya satu kali. Tetapi adiknya,
adalah teman baik saya satu kamar kost dulu. Yang sekarang masih keep in touch
hampir setiap hari.
Pagi itu, saya sangat mengandalkanmu. Karena saya belum tidur, saya harus datang ke undangan dengan berkebaya yang membuat saya tidak mungkin mengendarai mobil sendiri. Dan saya baru tidur jam 8 pagi, sedangkan jam 11
siang sudah harus sampai di Departemen Pertanian, Pasar Minggu. Saya mengerti, memang seharusnya untuk hal-hal sekecil ini saya tidak perlu mengandalkan siapa-siapa. Tidak mengandalkan kamu
terutama. Tetapi bukan itu maksud sebenarnya. Kalau saja kita datang hari itu,
di sana datang semua sahabat terbaik saya. Saya ingin membawa kamu ke
tengah-tengah mereka. Walaupun ini bukan moment yang tepat,
tetapi saya ingin, mereka tahu, siapa kamu.
Kepada
sahabat-sahabat saya itu, pagi hari saya bilang, kita akan datang. Mereka menunggu, mereka juga penasaran, mana kamu yang pernah nongol dari balik Path saya, yang
fotonya pernah saya share waktu itu. Sahabat-sahabat saya bahkan berkali-kali telepon,
bertanya saya tiba di sana jam berapa. Beberapa yang lain bertanya via Line, BBM, WhatsApp. "Lina kamu jadi datang, kan?" "Lina, kamu sampai sana jam berapa?" "Lina, kamu jadi pergi sama siapa?" Sedangkan saya? Saya kebingungan mencari kamu di mana. Telepon saya tidak kamu angkat, pesan saya tidak ada yang kamu balas satu pun. Padahal yang ada di kepala saya pagi itu hanya, keluar rumah dengan kamu, atau saya tidak datang sama sekali karena pagi itu saya tidak terpikir orang lain lagi. Iya, saya tahu, saya memang tidak menjanjikan kamu pasti
datang, kamu juga tidak menjanjikan apa-apa. Tapi pagi itu, saya coba mencari kamu. Saya tahu, sebenarnya kamu sudah bangun. Tapi saya tidak tahu, kamu pagi itu, kamu kenapa begitu.
PS:
“Kamu kenapa?
Kamu marah, long weekend nggak jadi ke mana-mana? Atau marah waktu semalam saya
bilang saya nggak suka yang tentatif-tentatif?
Iya?”