Senin, 21 Desember 2009

Lukman Adhi Nugroho



"Sebuah cangkir tidak selalu bisa memilih tatakan terbaiknya."

Andaikan saya adalah sebuah cangkir tanpa tatakan, yang lusuh dan hampir saja retak, dia telah datang menjadi yang terbaik bagi cangkir sejati. Saya memang tidak pernah berdoa pada Tuhan untuk menurunkan sosok yang sempurna. Saya hanya minta, “datangkan yang terbaik untuk saya, Ya Tuhan.”

 Dan Tuhan Maha Baik menurunkannya dalam raga seorang pria. Yang saat ini menjadi teman, sahabat, juga lawan yang seimbang. Entah iya atau bukan, tetapi, dia adalah tatakan cangkir terbaik yang gelas saya miliki. Yang menuangkan air hangat di kala saya kedinginan. Juga menghapus haus dahaga saat saya berjalan di padang pasir yang begitu tandus. Maka kepadanya, semua tetes air ini akan mengalir.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Saya Titipkan Padamu


Saya bukan orang pintar yang bisa menafsirkan berapa lama lagi waktu kita bersama dengan angka-angka. Saya juga bukan siapa-siapa yang bisa menjamin apapun yang terbaik bagi kita. Saya hanya sayang sama kamu, saya hanya melakukan yang terbaik buat kamu, saya hanya saya dan saya hanya punya kamu.

Waktu kita sedang bertengkar, saya selalu berdoa setelah apa yang terburuk ini saya ciptakan, akan saya tawarkan sesuatu yang lebih baik dari yang pernah ada. Tapi saya bukan tidak ingin berbuat apa-apa, kali ini saya benar-benar hanya menitipkan semua padamu. Saya percaya sekali, karena memang tidak ada yang lain lagi.

Rabu, 22 Juli 2009

Sandaran Jiwa


Teringat tentang suatu hari ketika saya sedang tidak bersamanya. Ternyata, ketika dia lenyap dari hadapan saya, saya masih bisa mengingatnya tanpa satu gurat wajah terlewati. Darinya saya belajar apa itu sabar, bagaimana caranya ikhlas, dan rahasia untuk tidak lagi mengeluh. Darinya saya belajar menerima dan menilai diri sendiri. Walaupun tidak jarang, saya menangis, hati saya merasa sakit. Justeru itu karena dia masih manusia.

Saya tidak pernah lupa bagaimana cara dia menatap, sungguh teduh dan menenangkan. Saya juga tidak pernah lupa, bagaimana lisannya menjaga setiap ucapannya, selalu terlihat, apa yang ingin dia katakan seperti sudah dia pelajari ribuan kali, sangat halus, menyentuh dan tidak terlupakan. Bahkan untuk kesekian kali saya membaca pesan, gusar dada tidak berbeda rasanya, sama persis ketika saya petama kali membaca ucapan-ucapannya. Iya, dia orang yang pandai menjaga.

Tentang sendi yang memfungsikan tulang-tulang yang kaku. Tanpa kamu, pergerakan ini sungguh sempit, tidak sempurna, kaya dan dinamis. Di tanganmu semua berjalan baik-baik saja. Dalam keadaan terperih sekalipun. Menjadi tumpuan hidup. Menjadi sandaran jiwa.

Kalau saja setiap orang bisa memilih mana ukuran yang ia ingin jadikan patokan, mungkin saya akan membuat ukuran itu sendiri, dan saya kan menjadikan kamu sebagai nilai ukur. Saya yakin, suatu ketika kita akan diberi waktu sebagai ajang introspeksi diri, dan kita akan hebat, jika setelah kita menyadari kekurangan kita nanti, kita mampu menegur dengan halus, memberikan penjelasan dengan ragam praktek pendewasaan kita, dan yang penting dengan jurus jitu saling menerima bahwa kitalah yang tebaik dari semua yang sudah tercipta. Bukan bermaksud saya angkuh di depan khalayak yang sempurna, tapi karena saya yakin, kita akan menjadi sempurna jika berjalan bersama.