“Lina, kamu
sudah baca buku ini? Ini buku yang bagus.”
“Belum, Mas.”
“Oke, aku
belikan ini untukmu.”
Lantas, kamu
berikan buku itu pada saya, meminta saya untuk membacanya. Hingga beberapa hari
kemudian, kamu pasti akan bertanya, “bagaimana bukunya? Bagaian mana yang
paling kamu suka?” Selalu begitu, tidak pernah berubah. Tetapi saya menyukainya.
Seperti yang
pernah kamu katakana dulu, diam-diam kamu mendoakan saya. Dan seperti yang
pernah saya katakana kemarin, diam-diam, kamu membaca saya. Ada bait-bait dalam
buku itu yang ketika saya membacanya, saya menjadi ingat, bahwa itu adalah
dirimu.
Pada pertengahan
bait pertama, aku membaca mengenai hal-hal yang selalu kamu lakukan. Dan yang
kerap kamu katakan, “selama mau belajar dari berbagai hal, maka menjadi tua
tentu tidak begitu terasa menyakitkan.” Itu adalah kamu dengan segala kerumitan
isi kepalamu. Seorang yang selalu ingin belajar, dan ingin menjadi dosen. Lalu
menjadi tua di Yogyakarta. Seperti keinginanmu. Malah beberapa kali, kamu
menawarkan diri membawa serta saya tinggal di sana. “Aku bayarin kau tinggal di
sana, Lina.” Saya hanya bisa tersenyum. Kamu begitu nekat mengatakan hal itu.
Lalu pada awal
bait ke dua puluh enam, “ mengisahkan orang yang telah mati adalah pekerjaan
yang sangat sulit, tetapi mengisahkan perempuan yang mati muda jauh lebih sulit
lagi.” Saya ingat, untuk pertama kalinya, kamu mengatakan hal yang tidak akan
pernah saya lupa. Tentang perempuan yang jika diibaratkan sebuah buku, maka ia
adalah buku yang tidak akan pernah bisa selesai jika kamu mencoba untuk
membacanya. Dan tidak hanya itu, kamu selalu bersedia mendongeng tentang cerita
masa lalumu yang tidak kamu simpan sendiri.
Lalu, semakin ke
dalam lagi saya membuka halaman demi halamannya. Semakin saya menemukan
bagaimana kamu selalu memberikan saya hadiah berupa buku-buku yang baik untuk
diresapi maknanya. Sebut saja yang terakhir kamu berikan, Mimpi-Mimpi Einstein.
Jika Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa hadiah bukanlah janji, adakah kamu
akan memberikan janji yang lain, yang tidak berupa hadiah-hadiah yang selalu
kamu antarkan sendiri untuk saya? Kamu, selain seorang pemberi hadiah yang baik
juga seorang penyimpan rahasia yang sangat ulung di mata saya. Terima kasih
untuk Dengarlah Nyanyian Anginmu, Irfan Ramly.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar