Kamis, 10 Oktober 2013

Untuk M. Irfan Ramly


yang menghadiahi diri sendiri seikat kembang.

tadi malam rembulan padam. gerimis turun pelan-pelan. di pinggir jalan sebuah stasiun kereta, seorang gadis dengan luka lebam di dada membeli seikat kembang. gadis itu ingin menghadiahi dirinya sendiri, menghadiahi kesunyian yang lekas tumbuh besar dan banyak menuntut.

dengan senyum kebahagiaan palsu tapi tetap cantik, ia menanggalkan koran pembungkus kembang. koran bekas isi kabar terbunuhnya seorang polisi. seperti meletakan harapan, ia hati-hati memasukan satu per satu tangkai kembang ke dalam botol yang juga bekas. botol bekas air minum yang dalam satu waktu menuntaskan haus dan menampung air matanya ketika bercakap tentang mantan kekasihnya yang memakan habis cahaya dalam matanya.

semoga mekar pagi nanti, bersama matahari, katanya.

(di luar hujan sudah deras, airnya merembet ke dinding, mengalir menuju mata. sementara kembang-kembang berusaha mekar, sementara itu pula tidurnya berusaha menghalau mimpi buruk. ingatan tak bisa ditakar, kenangan tak mampu diukur)


Puisi di atas karya Mas Ipang. Saya? Saya hanya pembacanya setiap kali kamu meminta saya membacanya. Seperti kali ini, lagi-lagi, saya diberitahukan olehmu tentang sebuah sajak yang baru kamu posting pada halaman pribadimu. Tanpa malu-malu, kamu menceritakan semua tantang saya. Laki-laki yang paling setia menuliskan saya puisi sejak tahun lalu. Walaupun hanya beberapa, tetapi belum pernah ada yang seperti ini selain kamu.

Mas Ipang, terima kasih untuk bait demi bait yang lahir dari setiap pertemuan. Yang kita rancang sedemikian rupa. Yang selalu BBM dan whatsapp dengan awal “Di mana?” Pasti seperti itu. Tidak pernah berubah dan terus berulang-ulang. Selalu lebih dulu merencanakan pertemuan, kadang pertemuan itu terjadi. Kadang harus berganti ke jadwal berikutnya.

Juga puisi-puisi, sajak-sajak, kata-kata dan cerita yang kamu rangkai menjadi baris-baris halus sangat manis di telinga yang belum pernah saya membacanya - itupun jika masih ada lagi.

Mas Ipang, adakah kamu cemburu setiap tahu, ada laki-laki lain yang menjadi pacar saya? Atau minimal, menjadi display picture pada BBM saya? Saya bertanya, sebab waktu-waktu dan hadiah-hadiah pemberianmu tidak bisa mengatakan apa jawabannya. Hanya malam itu, saya melihatmu penuh cinta, merapikan lima tangkai bunga, lalu kamu mengaturnya supaya mereka terlihat cantik di atas meja kerja saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar