Untuk: Kamu, di
Jogja.
Siang itu
rasanya seperti mimpi, waktu saya berada di dalam taksi menuju rumah saya dari
Bandara Soekarno-Hatta. Tempat yang sangat biasa bagi kita untuk berjumpa juga
berpisah kembali. Saya yang entah bagaimana rasanya, tiba-tiba teringat waktu
beberapa hari yang lalu mengiyakan ajakan seorang teman untuk ngumpul-ngumpul
lagi di kotamu, meski tanpa kamu. Kali itu agak sedikit serius ceritanya. Saya
datang dengan undangan dan semua kebutuhanku sudah mereka urus dengan sangat
baik. Saya hanya diminta untuk meluangkan waktu dan datang ke tempat yang sudah
mereka tentukan. Sekadar cuap-cuap sepatah dua patah kata.
Siang hari itu
memang agak terburu-buru. Saya baru merapikan beberapa pakaian yang akan saya bawa
selang berapa jam sebelum saya berangkat. Itupun dengan tiket yang masih berada
dalam bentuk soft file di email saya dan belum sempat saya print out.
Beruntung, mereka di sana yang mengurusi itu semua, memaklumi ketidakpastian saya
selama beberapa hari sebelumnya.
Saya berangkat
dengan tergesa-gesa. Berkejaran dengan waktu boarding yang tertera dalam
e-ticket pesawat. Dengan koper kecil, saya menenteng harapan pertama hari itu.
Semoga jalan menuju bandara tidak macet
dan saya bisa lari dengan high heels setinggi 7 sentimeter untuk mengejar
checking counter yang akan segera tutup. Karena itu, saya tak sempat memikirkan
banyak-banyak apa yang akan saya lakukan di sana setelah undangan selesai dan
sisa beberapa hari untuk menghabiskan waktu bolos kerja saya. Iya, beberapa
hari itu adalah permintaan saya kepada mereka yang mengurus urusan kepulangan saya
dari sana. Waktu mereka tanya mau sampai kapan, saya menginginkan selama
mungkin ada di sana. Tapi sayang, kantor memberi saya izin hanya sampai hari
jumat saja. Sabtunya saya harus kembali menjalankan rutinitas yang membosankan
tapi menantang itu. Rutinitas yang selalu saya banggakan di depanmu supaya saya
tidak kalah sibuk denganmu.
Sebenarnya hanya
satu, mengapa waktu itu saya memenuhi undangan yang sangat bisa saya tolak itu,
kamu. Sudah berapa lama saya tidak berjumpa dengan seorang yang bertahun-tahun
mengendap di pojokan hati. Hati saya sendiri. Berapa lama saya tidak melihat
sosok seorang yang saya sayangi dan selalu membuat saya bangga. Saya tahu,
mungkin sebutannya rindu. Tetapi saya tidak ingin mengakui itu sama sekali.
Supir taksi
siang itu sangat mengerti waktu saya memintanya agak cepat mengendarai sedan
putihnya. Dengan lincah si Bapak menyalip ke kanan ke kiri. Dalam perjalanan
yang hanya ada kami berdua, Bapak Supir taksi saya bertanya. Saya jawab
pertanyaannya dengan singkat, “mau ke Jogja, Pak. Liburan.” Dari kaca spion di
tengah yang sebagian memantulkan wajah Bapak Supir, saya melihat si Bapak
mengangguk seolah paham, selain untuk pulang, Jogja memang untuk tempat
berlibur. Melewati jalan yang sama seperti ketika saya harus menjemputmu yang
datang dari sana, atau harus mengantarkanmu kembali pulang ke sana. Di jalan
tol yang kamu bilang selalu susah diprediksi, saya melepaskan Jakarta untuk
beberapa lama. Tempat yang tidak karu-karuan lagi permasalahannya. Dan termasuk
tempat yang menjadi masalah terakhir bagi kita. Ketika saya harus bertemu
dengan seorang yang mampu memalingkanmu beberapa waktu.
Sampai di
Bandara, saya masih harus lari terburu-buru. Check in counter hampir tutup,
sedangkan saya masih ragu-ragu apakah bisa check in dengan e-ticket di hanphone.
Saya buat langkah menjadi banyak dan kecil-kecil agar saya bisa lebih cepat
berjalan. Di depan petugas check in ini, saya akhirnya bisa menarik napas lega.
Besyukur, walaupun sudah berdiri kotak persegi bertuliskan closed, petugas itu
masih mau menerima saya sebagai orang terakhir. Lepas rasanya, berjalan menuju
gate yang ditunjukkan oleh petugas tadi, saya baru bisa berpikir, apakah akan
mengabarkanmu atau tidak. Walaupun sangat ingin bertemu, tapi entah kenapa,
rasanya saya masih harus menimbang banyak hal untuk sekadar mengirim pesan
singkat, “Hai, hari ini saya ke Jogja.”
Lose contact
berhari-hari. Sikapmu yang dingin ketika saya tanyakan kabar mengenai pekerjaan
dan studimu. Juga beberapa sapaan di jejaring social yang tidak pernah kamu
balas membuat saya ragu-ragu. Masihkah ada kepentingan bagi saya memberi kabar
ketika saya pergi ke Jogja, walaupun kota itu adalah kediamanmu.
Sambil duduk
menunggu boarding, saya membuka lagi last seen today whatsapp messengermu.
Today, 13:55. Satu jam yang lalu. “Sekarang? Mungkin kamu sedang sibuk. Sedang
berkegiatan di luar atau in a meeting, seperti yang biasa kamu katakana kepada saya
beberapa bulan lalu. Itulah saat-saat paling genting yang masih saya ingat.
Lalu bagaimana saya di dalam pesawat begitu ingin member tahumu tapi terpaksa
mengambil sikap untuk tidak memberi tahu sama sekali mengenai kedatangan saya
ke kotamu itu. Biarkan… Biarkan apa yang sudah kita selesaikan tidak perlu saya
mulai kembali. Biarkan kamu tahu sendiri nanti, harap saya.
Hingga pada saat
malam tiba, begitu saya sampai di tempat undangan, beberapa teman yang baru
saja mengenali saya menyambut dengan sangat ramah dan mengejutkan. “Mbak, maaf
Masnya tidak bisa datang karena sibuk berkesenian.” Dengan ramah, seorang teman
– yang ternyata baru saya ketahui berapa lama kemudian adalah temanmu juga –
menyalami, mengajak saya masuk. Temanmu menjadi tuan rumah yang sangat ramah
malam itu.
“Masnya siapa,
ya, Mas?” jawab saya. Pertanyaan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya ucapkan
di tempat itu. Tidak pernah. Bahkan sampai ketika temanmu mengatakan hal-hal
menyangkut tentangmu. Sibuk berkesenian, yang selalu pakai baju hitam-hitam,
juga ketua angkatan yang menjadi identitasmu ia sebutkan satu persatu. “Loh?
Kamu temannya? Wah… Nggak bilang-bilang,” saya lalu tersenyum, malu. Saya tidak
pernah membayangkan, hari itu menjadi awal hari yang indah lagi untuk saya ingat-ingat
hari ini. Tidak pernah!
Temanmu
tiba-tiba mengajak saya duduk dan agak menyingkir dari audiens yang mulai ramai
di tempat itu. Ia mengatakan hal yang tidak pernah saya duga. Kalau sebenarnya,
teman-teman yang mengundang saya ternyata tahu dari kamu, dan atas
rekomendasimu. “Hah? Dia?” Saya kaget sekali mendengar cerita teman satu
kampusmu itu. Jadi kamu? Yang sebenarnya merekomendasikan teman-temanmu? Hal
yang sulit dipercaya, tapi ini terjadi. Begitu juga ketika temanmu bercerita
dengan terus terang, bahwa semua yang mengurus pergi-puang saya adalah kamu.
Yang mengurus tiket pesawat, jam keberangkatan, tanggal, sampai penginapan
adalah kamu. “Jadi dia tahu, kalau saya ada di sini?” pertanyaan kesekian, dan
menurut saya ini yang paling bodoh dan mengejutkan temanmu. Temanmu terkejut
ketika tahu, ternyata kamu tidak mengatakan pada saya tentang semua ini. “Nggak
ada. Dia gak bilang apa-apa sama sekali. Malah komunikasi pun tidak. Makanya saya
kaget.”
"Begitulah
kamu. Tidak pernah berhenti menyenangkan saya dan berbuat lebih dari apa yang
bisa saya berikan untukmu. Terima kasih untuk perjalanan terindah dan penuh
kejutan. Beberapa hari yang singkat yang kamu jadikan kenangan yang paling
mencabik naluri di dalam hati. Bahwa kehilanganmu adalah hal terburuk yang
pernah terang-terangan datang ke dalam hidupku. Persis seperti ketika kamu
mengatakan saya hanya mampu merusak apa yang sangat-sangat kamu jaga di sana.
Malam itu, di hadapan dua cangkir yang tidak bisa bicara karena melihat kita
berdua dan dari dingin yang sengaja menorehkan kesakitanmu , saya mendengar
sendiri dengan telingsaya “saya lihat kamu seliweran di timeline apa nggak
sakit? Sakit ya, pasti. Tapi saya lihat kamu senang-senang saja ya sudah.”
Lirihmu. “Kamu satu kota dengannya, sedangkan saya tidak. Tidak ada yang bisa
saya perjuangkan lagi waktu itu. Saya pikir, jarak membuat semuanya selesai.
Tapi ternyata ada yang lebih buruk dari itu,” tambahnya.
Sekali lagi, saya
hanya bisa bungkam, menunduk, mejatuhkan pandangan pada buih-buih di atas latte
pesananmu. Pesanan terakhirmu sebelum sebelumnya kamu memesan teh panas,
kesukaanmu. “Saya gak pernah tahu.” Entah apa maksudnya saya mengatakan
sepenggal kalimat tidak nyambung itu.
“Ya memang,
karena kamu sudah tidak mau tahu lagi.” Kata-kata dengan cirri ketegasannya
akhirnya keluar juga dari laki-laki yang duduk di sebelah kanan saya itu. Saya
tahu, sebenarnya kamu bisa saya marah, lalu meninggalkan saya pergi di tempat
itu. Tetapi kamu lebih memilih diam dan bertahan. Persis seperti yang kamu
lakukan selama ini. Kamu bukan orang yang suka melawan. Kamu lebih senang diam
menunggu akhir, akan ada apa pada akhirnya nanti. Ini kamu banget.
“Bukan saya gak
mau tah. Tapi akui deh, kamu udah gak peduli akhir-akhir itu. Dingin… Waktu itu
saya sudah tidak pentingkan?” Tanya saya. Saya mungkin bersalah, tetapi tetap,
tidak mau disalahkan. Hubungan kemarin itu milik saya dan kamu. Jadi, kalaupun
ada kesalahan, berarti adalah kesalahan dua orang yang berada di dalamnya.
Jadi, bukan untuk memberla diri.
“Kamu kenal saya
gak? Saya berubah nggak?” Lantas saya diam. Saya-hanya-bisa-diam. Dalam hati
saya berkata, ternyata kamu tidak pernah berubah. Tidak menjadi lebih buruk
seperti yang saya bayangkan. Hanya kacamata saya yang berubah warna untuk
melihatmu. Masih ingat, kita berdebat meributkan hal-hal yang sudah berlalu,
tapi dalam hati saya mengharapkan semua itu kembali. Memang saya yang salah.
Begitu sombong dan keras kepala memintamu harus selalu ada dan harus selalu
bisa menghubungi. Tapi kamu harus tahu, rasa hari ini masih sama dengan rasa
malam itu ketika saya lebih banyak tidak bisa menjawab pertanyaanmu ketimbang
waktu-waktu biasanya. Jadi, maaf jika hari itu, saya seperti tidak mengenal
siapa kamu. Memang tidak pernah ada penyebabnya mengapa ketika itu saya memilih
orang lain yang tidak saya kenal sebelumnya daripada kamu yang baik. Sebaik
kamu malam itu. Sebaik kamu sampai hari ini. Pegangan saya hari ini hanya satu;
jika memang kamu tidak peduli, mana mungkin, malam itu saya bisa duduk bertemu,
bersanding, dengan seorang yang sangat saya rindukan. Saya baru mengerti, cinta
memang tidak butuh banyak bicara. Cukup dengan saling menjaga maka ia akan
menghadirkan dirinya sendiri. Seperti yang kamu tunjukan ketika hari-hari
terakhir saya di sana. Dan seperti pesan-pesan yang selalu kamu sampaikan
ketika kita tidak sempat bersama.
Terima kasih ya.
Sayang sekali, hari itu saya harus pulang lagi ke sini. Menjauh lagi darimu dan
membayangkan banyak hal yang saya takutt tidak bisa lalui lagi tanpa kamu.
Terima kasih untuk kejutan pulang-pergi yang susah-susah kamu wujudkan seorang
diri – meski dengan bantuan banyak teman – tapi sukses membuat saya tidak
berkutik begitu saya tahu semuanya ini adalah tentang perjuanganmu, untuk
perjalanan singkat ke sana ke mari tempatmu memperlihatkan semua yang
sebelumnya hanya saya duga-duga saja, untuk tea time ala kita yang selalu
menghabiskan banyak waktu juga lebih banyak cerita, untuk rintik gerimis
terakhirmu di bandara yang jika dihitung, mulai saat saya hilang dari
pandanganmu, sebanyak rintik itulah saya akan merindumu lagi. Sekarang, di kota
saya sendiri, biar saya mengurus urusan saya ketika saya sangat ingin dan
teramat ingin kamu ada di sini.
Dari saya yang
selalu berdoa untukmu,
Semoga kamu selalu
menjadi kesayangan Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar