Senin, 01 April 2013

Sepenggal Kata untuk Pemilik Cerita

Untuk: Kamu, di Jogja.

Siang itu rasanya seperti mimpi, waktu saya berada di dalam taksi menuju rumah saya dari Bandara Soekarno-Hatta. Tempat yang sangat biasa bagi kita untuk berjumpa juga berpisah kembali. Saya yang entah bagaimana rasanya, tiba-tiba teringat waktu beberapa hari yang lalu mengiyakan ajakan seorang teman untuk ngumpul-ngumpul lagi di kotamu, meski tanpa kamu. Kali itu agak sedikit serius ceritanya. Saya datang dengan undangan dan semua kebutuhanku sudah mereka urus dengan sangat baik. Saya hanya diminta untuk meluangkan waktu dan datang ke tempat yang sudah mereka tentukan. Sekadar cuap-cuap sepatah dua patah kata.

Siang hari itu memang agak terburu-buru. Saya baru merapikan beberapa pakaian yang akan saya bawa selang berapa jam sebelum saya berangkat. Itupun dengan tiket yang masih berada dalam bentuk soft file di email saya dan belum sempat saya print out. Beruntung, mereka di sana yang mengurusi itu semua, memaklumi ketidakpastian saya selama beberapa hari sebelumnya.

Saya berangkat dengan tergesa-gesa. Berkejaran dengan waktu boarding yang tertera dalam e-ticket pesawat. Dengan koper kecil, saya menenteng harapan pertama hari itu. Semoga  jalan menuju bandara tidak macet dan saya bisa lari dengan high heels setinggi 7 sentimeter untuk mengejar checking counter yang akan segera tutup. Karena itu, saya tak sempat memikirkan banyak-banyak apa yang akan saya lakukan di sana setelah undangan selesai dan sisa beberapa hari untuk menghabiskan waktu bolos kerja saya. Iya, beberapa hari itu adalah permintaan saya kepada mereka yang mengurus urusan kepulangan saya dari sana. Waktu mereka tanya mau sampai kapan, saya menginginkan selama mungkin ada di sana. Tapi sayang, kantor memberi saya izin hanya sampai hari jumat saja. Sabtunya saya harus kembali menjalankan rutinitas yang membosankan tapi menantang itu. Rutinitas yang selalu saya banggakan di depanmu supaya saya tidak kalah sibuk denganmu.

Sebenarnya hanya satu, mengapa waktu itu saya memenuhi undangan yang sangat bisa saya tolak itu, kamu. Sudah berapa lama saya tidak berjumpa dengan seorang yang bertahun-tahun mengendap di pojokan hati. Hati saya sendiri. Berapa lama saya tidak melihat sosok seorang yang saya sayangi dan selalu membuat saya bangga. Saya tahu, mungkin sebutannya rindu. Tetapi saya tidak ingin mengakui itu sama sekali.

Supir taksi siang itu sangat mengerti waktu saya memintanya agak cepat mengendarai sedan putihnya. Dengan lincah si Bapak menyalip ke kanan ke kiri. Dalam perjalanan yang hanya ada kami berdua, Bapak Supir taksi saya bertanya. Saya jawab pertanyaannya dengan singkat, “mau ke Jogja, Pak. Liburan.” Dari kaca spion di tengah yang sebagian memantulkan wajah Bapak Supir, saya melihat si Bapak mengangguk seolah paham, selain untuk pulang, Jogja memang untuk tempat berlibur. Melewati jalan yang sama seperti ketika saya harus menjemputmu yang datang dari sana, atau harus mengantarkanmu kembali pulang ke sana. Di jalan tol yang kamu bilang selalu susah diprediksi, saya melepaskan Jakarta untuk beberapa lama. Tempat yang tidak karu-karuan lagi permasalahannya. Dan termasuk tempat yang menjadi masalah terakhir bagi kita. Ketika saya harus bertemu dengan seorang yang mampu memalingkanmu beberapa waktu.

Sampai di Bandara, saya masih harus lari terburu-buru. Check in counter hampir tutup, sedangkan saya masih ragu-ragu apakah bisa check in dengan e-ticket di hanphone. Saya buat langkah menjadi banyak dan kecil-kecil agar saya bisa lebih cepat berjalan. Di depan petugas check in ini, saya akhirnya bisa menarik napas lega. Besyukur, walaupun sudah berdiri kotak persegi bertuliskan closed, petugas itu masih mau menerima saya sebagai orang terakhir. Lepas rasanya, berjalan menuju gate yang ditunjukkan oleh petugas tadi, saya baru bisa berpikir, apakah akan mengabarkanmu atau tidak. Walaupun sangat ingin bertemu, tapi entah kenapa, rasanya saya masih harus menimbang banyak hal untuk sekadar mengirim pesan singkat, “Hai, hari ini saya ke Jogja.”

Lose contact berhari-hari. Sikapmu yang dingin ketika saya tanyakan kabar mengenai pekerjaan dan studimu. Juga beberapa sapaan di jejaring social yang tidak pernah kamu balas membuat saya ragu-ragu. Masihkah ada kepentingan bagi saya memberi kabar ketika saya pergi ke Jogja, walaupun kota itu adalah kediamanmu.

Sambil duduk menunggu boarding, saya membuka lagi last seen today whatsapp messengermu. Today, 13:55. Satu jam yang lalu. “Sekarang? Mungkin kamu sedang sibuk. Sedang berkegiatan di luar atau in a meeting, seperti yang biasa kamu katakana kepada saya beberapa bulan lalu. Itulah saat-saat paling genting yang masih saya ingat. Lalu bagaimana saya di dalam pesawat begitu ingin member tahumu tapi terpaksa mengambil sikap untuk tidak memberi tahu sama sekali mengenai kedatangan saya ke kotamu itu. Biarkan… Biarkan apa yang sudah kita selesaikan tidak perlu saya mulai kembali. Biarkan kamu tahu sendiri nanti, harap saya.

Hingga pada saat malam tiba, begitu saya sampai di tempat undangan, beberapa teman yang baru saja mengenali saya menyambut dengan sangat ramah dan mengejutkan. “Mbak, maaf Masnya tidak bisa datang karena sibuk berkesenian.” Dengan ramah, seorang teman – yang ternyata baru saya ketahui berapa lama kemudian adalah temanmu juga – menyalami, mengajak saya masuk. Temanmu menjadi tuan rumah yang sangat ramah malam itu.

“Masnya siapa, ya, Mas?” jawab saya. Pertanyaan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya ucapkan di tempat itu. Tidak pernah. Bahkan sampai ketika temanmu mengatakan hal-hal menyangkut tentangmu. Sibuk berkesenian, yang selalu pakai baju hitam-hitam, juga ketua angkatan yang menjadi identitasmu ia sebutkan satu persatu. “Loh? Kamu temannya? Wah… Nggak bilang-bilang,” saya lalu tersenyum, malu. Saya tidak pernah membayangkan, hari itu menjadi awal hari yang indah lagi untuk saya ingat-ingat hari ini. Tidak pernah!

Temanmu tiba-tiba mengajak saya duduk dan agak menyingkir dari audiens yang mulai ramai di tempat itu. Ia mengatakan hal yang tidak pernah saya duga. Kalau sebenarnya, teman-teman yang mengundang saya ternyata tahu dari kamu, dan atas rekomendasimu. “Hah? Dia?” Saya kaget sekali mendengar cerita teman satu kampusmu itu. Jadi kamu? Yang sebenarnya merekomendasikan teman-temanmu? Hal yang sulit dipercaya, tapi ini terjadi. Begitu juga ketika temanmu bercerita dengan terus terang, bahwa semua yang mengurus pergi-puang saya adalah kamu. Yang mengurus tiket pesawat, jam keberangkatan, tanggal, sampai penginapan adalah kamu. “Jadi dia tahu, kalau saya ada di sini?” pertanyaan kesekian, dan menurut saya ini yang paling bodoh dan mengejutkan temanmu. Temanmu terkejut ketika tahu, ternyata kamu tidak mengatakan pada saya tentang semua ini. “Nggak ada. Dia gak bilang apa-apa sama sekali. Malah komunikasi pun tidak. Makanya saya kaget.”

"Begitulah kamu. Tidak pernah berhenti menyenangkan saya dan berbuat lebih dari apa yang bisa saya berikan untukmu. Terima kasih untuk perjalanan terindah dan penuh kejutan. Beberapa hari yang singkat yang kamu jadikan kenangan yang paling mencabik naluri di dalam hati. Bahwa kehilanganmu adalah hal terburuk yang pernah terang-terangan datang ke dalam hidupku. Persis seperti ketika kamu mengatakan saya hanya mampu merusak apa yang sangat-sangat kamu jaga di sana. Malam itu, di hadapan dua cangkir yang tidak bisa bicara karena melihat kita berdua dan dari dingin yang sengaja menorehkan kesakitanmu , saya mendengar sendiri dengan telingsaya “saya lihat kamu seliweran di timeline apa nggak sakit? Sakit ya, pasti. Tapi saya lihat kamu senang-senang saja ya sudah.” Lirihmu. “Kamu satu kota dengannya, sedangkan saya tidak. Tidak ada yang bisa saya perjuangkan lagi waktu itu. Saya pikir, jarak membuat semuanya selesai. Tapi ternyata ada yang lebih buruk dari itu,” tambahnya.

Sekali lagi, saya hanya bisa bungkam, menunduk, mejatuhkan pandangan pada buih-buih di atas latte pesananmu. Pesanan terakhirmu sebelum sebelumnya kamu memesan teh panas, kesukaanmu. “Saya gak pernah tahu.” Entah apa maksudnya saya mengatakan sepenggal kalimat tidak nyambung itu.

“Ya memang, karena kamu sudah tidak mau tahu lagi.” Kata-kata dengan cirri ketegasannya akhirnya keluar juga dari laki-laki yang duduk di sebelah kanan saya itu. Saya tahu, sebenarnya kamu bisa saya marah, lalu meninggalkan saya pergi di tempat itu. Tetapi kamu lebih memilih diam dan bertahan. Persis seperti yang kamu lakukan selama ini. Kamu bukan orang yang suka melawan. Kamu lebih senang diam menunggu akhir, akan ada apa pada akhirnya nanti. Ini kamu banget.

“Bukan saya gak mau tah. Tapi akui deh, kamu udah gak peduli akhir-akhir itu. Dingin… Waktu itu saya sudah tidak pentingkan?” Tanya saya. Saya mungkin bersalah, tetapi tetap, tidak mau disalahkan. Hubungan kemarin itu milik saya dan kamu. Jadi, kalaupun ada kesalahan, berarti adalah kesalahan dua orang yang berada di dalamnya. Jadi, bukan untuk memberla diri.

“Kamu kenal saya gak? Saya berubah nggak?” Lantas saya diam. Saya-hanya-bisa-diam. Dalam hati saya berkata, ternyata kamu tidak pernah berubah. Tidak menjadi lebih buruk seperti yang saya bayangkan. Hanya kacamata saya yang berubah warna untuk melihatmu. Masih ingat, kita berdebat meributkan hal-hal yang sudah berlalu, tapi dalam hati saya mengharapkan semua itu kembali. Memang saya yang salah. Begitu sombong dan keras kepala memintamu harus selalu ada dan harus selalu bisa menghubungi. Tapi kamu harus tahu, rasa hari ini masih sama dengan rasa malam itu ketika saya lebih banyak tidak bisa menjawab pertanyaanmu ketimbang waktu-waktu biasanya. Jadi, maaf jika hari itu, saya seperti tidak mengenal siapa kamu. Memang tidak pernah ada penyebabnya mengapa ketika itu saya memilih orang lain yang tidak saya kenal sebelumnya daripada kamu yang baik. Sebaik kamu malam itu. Sebaik kamu sampai hari ini. Pegangan saya hari ini hanya satu; jika memang kamu tidak peduli, mana mungkin, malam itu saya bisa duduk bertemu, bersanding, dengan seorang yang sangat saya rindukan. Saya baru mengerti, cinta memang tidak butuh banyak bicara. Cukup dengan saling menjaga maka ia akan menghadirkan dirinya sendiri. Seperti yang kamu tunjukan ketika hari-hari terakhir saya di sana. Dan seperti pesan-pesan yang selalu kamu sampaikan ketika kita tidak sempat bersama.

Terima kasih ya. Sayang sekali, hari itu saya harus pulang lagi ke sini. Menjauh lagi darimu dan membayangkan banyak hal yang saya takutt tidak bisa lalui lagi tanpa kamu. Terima kasih untuk kejutan pulang-pergi yang susah-susah kamu wujudkan seorang diri – meski dengan bantuan banyak teman – tapi sukses membuat saya tidak berkutik begitu saya tahu semuanya ini adalah tentang perjuanganmu, untuk perjalanan singkat ke sana ke mari tempatmu memperlihatkan semua yang sebelumnya hanya saya duga-duga saja, untuk tea time ala kita yang selalu menghabiskan banyak waktu juga lebih banyak cerita, untuk rintik gerimis terakhirmu di bandara yang jika dihitung, mulai saat saya hilang dari pandanganmu, sebanyak rintik itulah saya akan merindumu lagi. Sekarang, di kota saya sendiri, biar saya mengurus urusan saya ketika saya sangat ingin dan teramat ingin kamu ada di sini.



Dari saya yang selalu berdoa untukmu,

Semoga kamu selalu menjadi kesayangan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar