Saya sering
menceritakan kepada sahabat-sahabat saya tentang kisah pertemuan saya dengan
teman hidup saya – kamu. Dan juga tentang pertemuan yang hanya
sebentar-sebentar kita lakukan berdua, karena memang hanya bisa sebentar.
Sekarang, setelah sejauh ini saya hanya bisa cemas karena menyadari bahwa teman
hidup saya sudah tidak berada di sebelah saya lagi.
Saya bercerita
kepada sahabat saya tentang bagaimana kita bertemu dulu. Kejadian yang tidak
sengaja, karena kebetulan kita punya teman yang sama. Saya masih ingat betul,
waktu itu kamu datang paling belakang, dengan kacamata yang akhirnya tidak pernah
kamu kenakan lagi. Sebenarnya, dari jauh saya sudah memperhatikanmu yang datang
dengan tergesa-gesa. Hanya saja, saya belum tahu kalau kamu adalah temannya teman
saya yang sedang kita tunggu-tunggu. Kita berkenalan layaknya banyak orang.
Dengan berjabat tangan, saling menyebutkan nama, sampai akhirnya kita mengobrol
banyak hal. Saya katakana pada sahabat saya, sejak hari itu, hari pertama mata
kita saling berpandangan, saya sudah tidak bisa lepas lagi darimu.
Beberapa hari
kemudian, karena dunia semakin memudahkan interaksi manusia dengan manusia,
tahu-tahu saya dan kamu sudah saling follow dan bertukar kontak pribadi melalu
direct message yang baik itu. Lanjut membicarakan banyak hal di sana, bertemu
beberapa kali, alam semesta akhirnya meresmikan kamu menjadi teman hidup saya
dan berpisah setelah melewati masa-masa yang kacau.
Saya katakana
lagi pada sahabat-sahabat saya, tapi beberapa bulan kemudian kita bertemu lagi
karena kamu mengundang saya datang ke acara yang kamu buat dengan penuh
tanggung jawab dan akhirnya kita bisa bernyanyi bersama sang bintang. Yang
paling saya ingat dari pertemuan itu adalah hari itu sangat panas, kita pun
berada di tempat terbuka. Langsung di bawah terik matahari yang membuat saya
pusing, lepek, dan keringetan. Tapi saya tidak peduli karena saat itu kamu
mengatakan bahwa saya selalu cantik. Sampai bertahun kemudian, saya mengatakan
pada sahabat-sahabat bahwa kamu tetap tampan dengan karaktermu yang selalu
sukses membuat acara.
Saya juga bilang
pada mereka, untungnya kita punya banyak teman yang sama. Walaupun kelompok
main kita berbeda, beberapa teman kadang menjadi alasan mengapa akhirnya kita
masih bertemu lagi sampai hari-hari berikutnya. Setiap kali saya terlihat dekat
dengan laki-laki yang lain, saya bilang, teman-teman kita selalu bertanya,
“kamu tidak khawatir dengan hatimu sendiri kalau dia juga dekat dengan orang
lain?” Teman-teman kita lah yang selalu mengingatkan saya denganmu. Saya lalu
menjerit, “Enggak! Dia sudah jauh pergi.” Teman-teman itu kemudian mengingatkan
saya lagi bahwa saya masih sering menyebut namamu dan bahwa kamu adalah seorang
anak yang baik di mata mereka.
Ketika saya
menemui mereka – dan kebetulan tanpa kamu, mereka sering menanyakanmu. Di
hadapan wajah-wajah mereka, saya selalu ingin terlihat tidak peduli denganmu.
Seolah sudah sangat siap dengan perpisahan – pertemuan – perpisahan – pertemuan
yang sering kita lakukan di depan mereka. Tapi, saya bertanya dalam hati,
mengapa saya gelisah setiap kali mendengar namamu lagi? Mengapa kita jadi
sering sengaja menghindar? Tapi saya tidak akan pernah lupa, sepatu converse
putih yang sering kamu pakai. Dan sepenglihatan saya, tidak pernah ada
laki-laki lain yang memakai sepatu itu sekeren kamu. Saya menjadi semakin
sering teringat kata-kata teman kita, “kamu masih sering menyebut namanya.”
Sampai dua musim
di negara ini berganti. Sementara saya dan kamu akhirnya sibuk mewujudkan
cita-cita kita masing-masing – yang menjadi alasan keadaan yang kacau mungkin
karena kita masih ingin sibuk sendiri mengejar cita-cita. Beberapa waktu saya
membiarkanmu tanpa kabar. Saya hanya melihat dari jauh, banyak meeting yang
harus kamu datangi dan banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Tapi
ternyata, saya rindu padamu. Waktu kamu mengalami kecelakaan, kamu menelpon.
Dengan sangat tenang, mengabarkan keadaanmu dan menceritakan singkat kejadian
itu. Entah apa maksudnya, mungkin pada saat itu, kita sedang menyimpan rindu
yang sama banyak tetapi berbeda kutub.
Saya tidak
menyesal karena pernah berusaha membangun surga dalam bentuk hasil kreasi kita
berdua. Dan tidak pernah khawatir sesungguhnya yang terjadi denganmu adalah
cinta – bukan cinta monyet. Sambil tersenyum di depan sahabat, saya
merahasiakan perasaan saya kepadamu. Saya tidak ingin membuat pengumuman kepada
mereka apakah saya masih menginginkanmu atau tidak. Apakah rasanya masih ada
atau tidak. Saya katakana kepada mereka, saya hanya tidak ingin terlambat menyebutmu
sebagai teman hidup saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar