Sabtu, 04 Mei 2013

Teman Hidup


Saya sering menceritakan kepada sahabat-sahabat saya tentang kisah pertemuan saya dengan teman hidup saya – kamu. Dan juga tentang pertemuan yang hanya sebentar-sebentar kita lakukan berdua, karena memang hanya bisa sebentar. Sekarang, setelah sejauh ini saya hanya bisa cemas karena menyadari bahwa teman hidup saya sudah tidak berada di sebelah saya lagi.

Saya bercerita kepada sahabat saya tentang bagaimana kita bertemu dulu. Kejadian yang tidak sengaja, karena kebetulan kita punya teman yang sama. Saya masih ingat betul, waktu itu kamu datang paling belakang, dengan kacamata yang akhirnya tidak pernah kamu kenakan lagi. Sebenarnya, dari jauh saya sudah memperhatikanmu yang datang dengan tergesa-gesa. Hanya saja, saya belum tahu kalau kamu adalah temannya teman saya yang sedang kita tunggu-tunggu. Kita berkenalan layaknya banyak orang. Dengan berjabat tangan, saling menyebutkan nama, sampai akhirnya kita mengobrol banyak hal. Saya katakana pada sahabat saya, sejak hari itu, hari pertama mata kita saling berpandangan, saya sudah tidak bisa lepas lagi darimu.

Beberapa hari kemudian, karena dunia semakin memudahkan interaksi manusia dengan manusia, tahu-tahu saya dan kamu sudah saling follow dan bertukar kontak pribadi melalu direct message yang baik itu. Lanjut membicarakan banyak hal di sana, bertemu beberapa kali, alam semesta akhirnya meresmikan kamu menjadi teman hidup saya dan berpisah setelah melewati masa-masa yang kacau.

Saya katakana lagi pada sahabat-sahabat saya, tapi beberapa bulan kemudian kita bertemu lagi karena kamu mengundang saya datang ke acara yang kamu buat dengan penuh tanggung jawab dan akhirnya kita bisa bernyanyi bersama sang bintang. Yang paling saya ingat dari pertemuan itu adalah hari itu sangat panas, kita pun berada di tempat terbuka. Langsung di bawah terik matahari yang membuat saya pusing, lepek, dan keringetan. Tapi saya tidak peduli karena saat itu kamu mengatakan bahwa saya selalu cantik. Sampai bertahun kemudian, saya mengatakan pada sahabat-sahabat bahwa kamu tetap tampan dengan karaktermu yang selalu sukses membuat acara.

Saya juga bilang pada mereka, untungnya kita punya banyak teman yang sama. Walaupun kelompok main kita berbeda, beberapa teman kadang menjadi alasan mengapa akhirnya kita masih bertemu lagi sampai hari-hari berikutnya. Setiap kali saya terlihat dekat dengan laki-laki yang lain, saya bilang, teman-teman kita selalu bertanya, “kamu tidak khawatir dengan hatimu sendiri kalau dia juga dekat dengan orang lain?” Teman-teman kita lah yang selalu mengingatkan saya denganmu. Saya lalu menjerit, “Enggak! Dia sudah jauh pergi.” Teman-teman itu kemudian mengingatkan saya lagi bahwa saya masih sering menyebut namamu dan bahwa kamu adalah seorang anak yang baik di mata mereka.

Ketika saya menemui mereka – dan kebetulan tanpa kamu, mereka sering menanyakanmu. Di hadapan wajah-wajah mereka, saya selalu ingin terlihat tidak peduli denganmu. Seolah sudah sangat siap dengan perpisahan – pertemuan – perpisahan – pertemuan yang sering kita lakukan di depan mereka. Tapi, saya bertanya dalam hati, mengapa saya gelisah setiap kali mendengar namamu lagi? Mengapa kita jadi sering sengaja menghindar? Tapi saya tidak akan pernah lupa, sepatu converse putih yang sering kamu pakai. Dan sepenglihatan saya, tidak pernah ada laki-laki lain yang memakai sepatu itu sekeren kamu. Saya menjadi semakin sering teringat kata-kata teman kita, “kamu masih sering menyebut namanya.”

Sampai dua musim di negara ini berganti. Sementara saya dan kamu akhirnya sibuk mewujudkan cita-cita kita masing-masing – yang menjadi alasan keadaan yang kacau mungkin karena kita masih ingin sibuk sendiri mengejar cita-cita. Beberapa waktu saya membiarkanmu tanpa kabar. Saya hanya melihat dari jauh, banyak meeting yang harus kamu datangi dan banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Tapi ternyata, saya rindu padamu. Waktu kamu mengalami kecelakaan, kamu menelpon. Dengan sangat tenang, mengabarkan keadaanmu dan menceritakan singkat kejadian itu. Entah apa maksudnya, mungkin pada saat itu, kita sedang menyimpan rindu yang sama banyak tetapi berbeda kutub.

Saya tidak menyesal karena pernah berusaha membangun surga dalam bentuk hasil kreasi kita berdua. Dan tidak pernah khawatir sesungguhnya yang terjadi denganmu adalah cinta – bukan cinta monyet. Sambil tersenyum di depan sahabat, saya merahasiakan perasaan saya kepadamu. Saya tidak ingin membuat pengumuman kepada mereka apakah saya masih menginginkanmu atau tidak. Apakah rasanya masih ada atau tidak. Saya katakana kepada mereka, saya hanya tidak ingin terlambat menyebutmu sebagai teman hidup saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar