Saya tahu, saya
bukan salah karena mencintaimu. Tapi saya salah karena saya tidak berterus
terang kepadamu – untuk terakhir kali.
Saya tidak
pernah bisa melupakan hari pertama kali saya melihat mimpi saya hampir menjadi
kenyataan karena melihat senyummu yang berkilauan di bawah kedua matamu. Kamu
sungguh mempesona dan sangat istimewa. Senyum itu memang tidak terlupakan,
namun hatimulah yang menjadi alasan besar mengapa saya mencintaimu. Kamu
benar-benar mempedulikan saya.Merupakan pendengar yang baik yang tidak pernah
hilang dalam ingatan. Caramu mencairkan suasana ketika kita sedang dipenuhi
keributan, dengan kata-katamu yang sangat bijaksana selalu pas menjadi apa yang
memang seharusnya saya dengar. Kamu bukan saja saya kagumi, melainkan juga saya
hargai dengan segala kerendahan hati.
Seingat saya,
kamu juga pernah mengatakan pada saya agar kita tetap berusaha berjalan bersama
meski banyak kekacauan dengan berbagai macam perkara. Hanya beberapa saat
setelah amarah yang paling hebat berhasil menghancurkan apa yang berkali-kali
kita bangun. Meski jatuh lagi dan harus dibangun lagi dari awal.
Waktu itu
menjadi waktu dimana kita tidak ingin mengatakan apa-apa lagi sekaligus tidak
ingin mendambakan apa-apa lagi. Terutama saya. Walau hati saya pernah menemani
banyak hari-harimu, dan pada hari lainnya, saya juga pernah hilang darimu tapi
masih sempat kamu cari dan kamu masih temui. Waktu itu juga saya sempat
terpikir, “kalau saja kita tidak pernah bertemu…” Tapi saya yakin, bahwa usaha
hebat kita tentu sudah aturan-Nya harus bertemu, harus berpisah, bertemu lagi,
kemudian berpisah lagi. Bahwa saya tetap mengucapkan salam perpisahan kepada
cinta saya. Meski saya juga tahu, bisa saja apa yang dipisahkan kali ini
benar-benar tidak untuk dipertemukan lagi.
Setengah tahun
kemudian, saya bertemu dengannya – orang yang paling saya benci karena saya kira
dialah orang yang membuat kita saling berjauhan dan memalingkan wajah.
Pertemuan yang disengaja karena saya tidak ingin menyelesaikan kita dengan
separuh-separuh. Kami makan bersama. Dia menceritakan banyak hal, sampai ketika
saya menanyakan satu hal tentangmu, dia menjawab sampai tenggorokkan saya
tersumbat ketika saya mendengar jawabannya.
“Dari sejak awal
kuliah, kita hanya berteman. Dia paling rese waktu itu, saya sering pukulin dia
sambil bercanda, dan anak-anak jadi membuat kabar burung tentang kami,”
jawabnya. Saya tidak meneruskan lagi pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya
sudah disusun dan disimpan dalam draft yang bisa saya buka sesekali waktu
ketika saya sedang bersamanya. Sampai di situ, ternyata memang saya yang
benar-benar kejam kepadamu. Saya memendam pertanyaan yang memupuskan harapanku
sendiri. Membiarkan saya mengira apa yang saya pikirkan adalah sebenarnya yang
terjadi. Seandainya waktu itu saya bertanya dan tidak hanya diam di depanmu.
Mungkin yang terjadi tidak akan seburuk hari ini. Lebih buruk lagi karena
sebenarnya waktu itu kita masih bisa kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar