Minggu, 10 Februari 2013

Do you remember?

#1


Aku tahu, kamu bukan tipe seorang yang senang member kejutan. Bukan tipe seorang yang senang diberikan kejutan pula. Tapi sayangnya, aku dan kamu berbeda. Aku seorang yang senang dibahagiakan dengan cara-cara yang tidak bisa ditebak.

Boneka Cars itu, kamu belikan untukku ketika kita sedang sama-sama berada di Gramedia. Dulu, ketika kamu sedang membayar boneka itu di kasir, aku deg-degan bahagia. “Akhirnya, aku punya boneka juga dari kamu,” dalam hatiku. Sebab benda pertama yang kamu berikan adalah buku… buku yang kamu titip beli lewat Mbak Dora. Phft :’|

Iya, dulu, waktu kita sibuk antri di kasir, dan kamu membayar, aku deg-degan. Aku ke-ge er-an, berasa jadi wanita yang paling sedang dimanjakan kekasihnya. Sekarang? Hahaha. Sekarang, kalau aku melihat Cars itu lagi, malah tertawa geli. “Mau-maunya dulu gue dibeliin boneka tapi bentuknya mobil. Gak ada manis-manisnya. Gak ada imut-imutnya, cih!”

Menyesal? Oh, enggak kok. Tidak ada lagi yang perlu disesalkan, karena semuanya sudah lewat. Semuanya sudah berakhir. Dan fyi, ex, boneka itu aku simpan, karena adik sepupuku yang terlanjur memilikinya. Kebetulan dia suka Cars, dan dia pindahkan boneka itu ke kamarnya. (Ini bukan alibi, aseli).

Lalu, boneka yang di sebelahnya apa?

Iya, itu Simon. Aku namainnya Simon, “Si Monyet”. Kado ulang tahun dari kamu, setelah kita bukan siapa-siapa. Aku bingung, kenapa kamu malah mendadak jadi romatis ketika aku sudah bukan siapa-siapa kamu. Ketika kita sudah tidak memiliki mimpi apa-apa, kamu malah hadir lagi menjadi sosok yang paling ingin kumiliki. Ini kah trik terbaikmu? Yang membuat aku selalu ingin kembali karena merasa bahwa kamu sudah berubah menjadi apa yang kuingin?

Aku tidak bisa menjawab. Kamu tidak bisa menjawab. Tapi mungkin, Simon bisa menjawab.



 #2

 “Jangan lupa bawa jaket ya, nanti panas,” katamu, selalu.

Aku pelupa, dan kamu adalah pengingat yang baik di setiap lupaku. Mengingatkan untuk tidak tidur terlalu pagi ketika aku lupa waktu. Mengingatkan untuk selalu hati-hati agar aku tidak lupa untuk selalu menjaga diri. Dan lain sebagainya, dan seperti kamu apa adannya.

Lalu, apa yang terjadi setelah baru-baru kamu pergi? Aku sering kesiangan masuk kuliah, aku sering ditegur karena terlambat. Aku sering pulang lagi ke rumah karena ada yang tertinggal dan yang pasti, aku semakin sering putar balik karena aku selalu lupa arah jalan. Aku merasa, sebelumnya, aku tidak pernah merasa sesendirian seperti ini, tapi balik lagi, ketika aku melihat jaket biru ini, aku selalu ingat dengan pesanmu. “Inget-inget aja waktu aku kasih jaket ini, kamu gak akan pernah sendirian selama dia masih ada.”

Aku menyimpannya sampai hari ini. Bukan untuk mengingat-ingat apa yang sudah lewat. Tapi aku berusaha untuk menghargai setiap detail apapun pemberian-Nya. Termasuk bahwa kamu pernah memberikan benda kesayanganmu sejak dari masuk SMA, untuk kamu titipkan denganku. Aku setuju denganmu, apa yang sudah kita berikan, tidak perlu kita terima jika mantan ingin mengembalikannya lagi. “Haram hukumnya, menerima apa-apa pengembalian mantan,” okesip! : ))


#3



How sweet you are, my (ex) darling, ketika ingin selalu mengingat apa-apa yang pernah kita lakukan. Dan, buku ini menjadi saksi beberapa kilometer perjalanan kita selama beberapa bulan atau hari. Ini adalah rekam jejak perjalanan kita menghabiskan waktu dan harta, haha.

Aku agak kaget waktu itu, waktu melihatmu, tiba-tiba mengeluarkan buku sebegini lucu covernya dari tas belel kesayanganmu itu. Pikirku, kamu hanya akan bersensasi untuk memiliki buku catatan kuliah dengan motif polkadot-polkadot yang bukan kamu banget. Tapi ternyata salah, buku itu kamu keluarkan, lalu kemu berikan padaku, hari itu juga.

“Ini, kamu isi, setiap kita dari mana, hari ini. Di sini kamu tulis tanggal, terus, di sini kamu tulis tujuan. Kalau ada struck, atau nota, atau tanda-tanda apa kaya misalnya tiket nonton atau apa, kamu tempelnya di sini. Kamu suka merah hitam, kan? Ini pulpennya merah hitam, aku bawain. Kamu tinggal tulis aja, ya. Jadi nanti kalau kita udah berapa tahun, kita punya kenangan buat ngeteh-ngeteh sambil ada yang dibahas. Gak apa-apa kan, kamu yang tulis? Tulisanku jelek soalnya. Oke ya?”

Oke, Bos! ('-')9 Okeee...

Kamu menjelaskan A-B-C-D tanpa jeda, tanpa menarik napas, tanpa titik dan koma. Di sana aku melihat semangatmu yang menggebu-gebu. Tidak mungkin aku bilang tidak setelah kamu menginstrusikanku sedemikian rupa. Dan sejak hari itu, aku menuliskan semua perjalanan kita, dengan caraku, dengan keinginanmu. Buku ini merekam semua jejak-jejak perjalanan kita. Hingga akhirnya, kita memutuskan untuk tidak lagi bersama.


#4
Namaku jari manis sebelah kiri, bersediakah kau melingkariku sebagai janji? - @topeng2kaca





Setiap melihat benda ini, aku melihat, seperti ada bagian yang hilang, namun masih tertinggal di sini. Rencana demi rencana, keinginan demi keinginan, serta doa-doa dan harapan, harus berhenti pada kenyataan, bukankah bersama tidak harus memiliki?

Iya. Aku minta maaf atas perpisahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Perpisahan setelah cincin ini melingkar sebagai janji untuk terus bersama. Ternyata, kenyataannya berbeda, cincin saja tidak mampu mengikat kita untuk bisa terus sama-sama. Masih banyak perkara rumit yang harus diselesaikan, masih banyak tanda tanya yang akhirnya tidak menemukan jawaban.

Walau sebenarnya, aku masih mengingat cahaya itu, ketika kamu melingkarkan cincin itu di hadapan mereka. “Semoga menjadi pasangan yang langgeng ya,” doa-doa mereka. Tapi mungkin, saat itu kita berdua terbuai suasana, hingga lupa mengamini dan hanya berharap pada benda kecil itu.

Oh ya, ada pertanyaan yang sampai hari ini belum sempat kutanyakan. Jika kamu membaca ini, tolong segera kirimkan jawabannya ya. “Bagaimana caranya, kamu mendapat benda secantik itu dan sangat pas di jari manisku sebelah kanan?” : ) 


#5

Ini penting, bahkan yang terpenting:
Bagaimana baiknya benda-benda ini kupelihara sedangkan aku tak ingin membuangnya juga tidak ingin menyakiti hati yang kini bersanding di sebelah hatiku?


Catatan:
Tulisan ini untuk Pameran Patahati 2. Diselenggarakan di Yogyakarta, 14-16 Februari 2013. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar