Minggu, 05 Mei 2013

Pasir Dalam Genggaman



Akhirnya, setelah sejauh ini, saya mengetahui juga, bahwa segala macam hubungan antarmanusia dalam dunia itu mirip pasir dalam genggaman. Jika berada pada telapak tangan yang terbuka, pasir itu akan tetap pada tempatnya. Tapi jika tangan itu terkepal dengan erat, pasir akan jatuh melalui sela-sela jari. Mungkin begitu juga saya terhadapmu saat itu. Tanpa saya sadari, perlahan kamu mulai terlepas dan hilang. Masih ada yang tersisa dalam genggaman saya memang, tapi hanya kenangan yang pasti akan tiba saatnya untuk memudar.

Saat itu saya benar-benar lupa, bagaimana mempertahankan dengan cara membebaskan supaya kamu tetap utuh menjadi dirimu sendiri. Padahal cinta tidak bisa didaur ulang, tetapi dengan mudahnya saya menghabiskan energimu untuk terus tetap bersama saya. Payahnya saya, sama sekali tidak paham benar apa yang sedang kulakukan adalah peluru yang akan membuatmu pergi.

Tiba-tiba, belum lama, saya mendengar sendiri dari Mama, “Nak, jangan terlalu disesali. Kelak suatu hari kamu akan mengerti perbedaan tipis antara menggandeng tangan dan membelenggu jiwa.” Dari Mama saya berkaca, mungkin suatu hari nanti, saya akan lebih banyak lagi mengerti perbedaan-perbedaan apa saja yang akhirnya membuatmu pergi. Tipis rasanya antara menggandeng tangan dan membelenggu jiwa. Di sana ada harga yang menjadi pembeda, yaitu rasa saling menginginkan dan menjaga.

Juga perbedaan tipis bahwa cinta bukan berarti bersandar, ciuman bukan berarti kontrak, dan hadiah bukan berarti janji. Bahwa mencintai bukan berarti menyandarkan diri kepadamu – atau apapun yang menjadi bagian dari diri saya. Kamu yang dicintai tidak punya tanggung jawab apapun atas diri saya, hidup saya, juga perasaan saya. Kamu tidak memiliki keharusan untuk menegakkan kebahagiaan yang menjadi urusan saya dengan hati saya sendiri. Begitu pun dengan keadaan sehari-hari. Kamu bukanlah sandaran yang harus dijadikan tumpuan kegalauan. Biarkan ribut pikiran saya menjadi masalah saya sendiri walaupun sebenarnya ia meributkanmu.

Juga dengan ciuman yang bukan berarti kontrakmu untuk menjalani hari-hari sebagai bagian dari diri saya. Ciuman bukanlah kesepakatan yang selanjutnya akan lahir pasal-pasal baru untuk menjalani hari-hari bersama. Ciuman hanya sekadar bibir-bibir kita bertemu atas nama cinta. Lalu dengan hadiah yang bukan berarti janji. Walaupun saya seperti harus menerima kekalahan saya karena akhirnya merasa belum mampu menjadi dewasa lantas kembali lagi merasakan kesedihan seperti anak-anak pada saat kehilanganmu, saya tetap harus belajar menerima hadiah sebagai pemberian yang tidak pasti. Tapi apapun itu, meskipun kita tidak pernah merencanakan, dan kamu bagaikan pasir dalam genggaman, bagiku sebenarnya kamu sangat berharga.

2 komentar:

  1. wah. baru tau tentang blog kakak ini.
    bagus tulisannya. izin baca y kak, salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Hai, iya silakan. Terima kasih ya :)

    BalasHapus