Akhirnya,
setelah sejauh ini, saya mengetahui juga, bahwa segala macam hubungan
antarmanusia dalam dunia itu mirip pasir dalam genggaman. Jika berada pada
telapak tangan yang terbuka, pasir itu akan tetap pada tempatnya. Tapi jika
tangan itu terkepal dengan erat, pasir akan jatuh melalui sela-sela jari.
Mungkin begitu juga saya terhadapmu saat itu. Tanpa saya sadari, perlahan kamu
mulai terlepas dan hilang. Masih ada yang tersisa dalam genggaman saya memang,
tapi hanya kenangan yang pasti akan tiba saatnya untuk memudar.
Saat itu saya
benar-benar lupa, bagaimana mempertahankan dengan cara membebaskan supaya kamu tetap
utuh menjadi dirimu sendiri. Padahal cinta tidak bisa didaur ulang, tetapi
dengan mudahnya saya menghabiskan energimu untuk terus tetap bersama saya.
Payahnya saya, sama sekali tidak paham benar apa yang sedang kulakukan adalah
peluru yang akan membuatmu pergi.
Tiba-tiba, belum
lama, saya mendengar sendiri dari Mama, “Nak, jangan terlalu disesali. Kelak
suatu hari kamu akan mengerti perbedaan tipis antara menggandeng tangan dan
membelenggu jiwa.” Dari Mama saya berkaca, mungkin suatu hari nanti, saya akan
lebih banyak lagi mengerti perbedaan-perbedaan apa saja yang akhirnya membuatmu
pergi. Tipis rasanya antara menggandeng tangan dan membelenggu jiwa. Di sana
ada harga yang menjadi pembeda, yaitu rasa saling menginginkan dan menjaga.
Juga perbedaan
tipis bahwa cinta bukan berarti bersandar, ciuman bukan berarti kontrak, dan
hadiah bukan berarti janji. Bahwa mencintai bukan berarti menyandarkan diri
kepadamu – atau apapun yang menjadi bagian dari diri saya. Kamu yang dicintai
tidak punya tanggung jawab apapun atas diri saya, hidup saya, juga perasaan
saya. Kamu tidak memiliki keharusan untuk menegakkan kebahagiaan yang menjadi
urusan saya dengan hati saya sendiri. Begitu pun dengan keadaan sehari-hari.
Kamu bukanlah sandaran yang harus dijadikan tumpuan kegalauan. Biarkan ribut
pikiran saya menjadi masalah saya sendiri walaupun sebenarnya ia meributkanmu.
Juga dengan
ciuman yang bukan berarti kontrakmu untuk menjalani hari-hari sebagai bagian
dari diri saya. Ciuman bukanlah kesepakatan yang selanjutnya akan lahir
pasal-pasal baru untuk menjalani hari-hari bersama. Ciuman hanya sekadar
bibir-bibir kita bertemu atas nama cinta. Lalu dengan hadiah yang bukan berarti
janji. Walaupun saya seperti harus menerima kekalahan saya karena akhirnya
merasa belum mampu menjadi dewasa lantas kembali lagi merasakan kesedihan
seperti anak-anak pada saat kehilanganmu, saya tetap harus belajar menerima
hadiah sebagai pemberian yang tidak pasti. Tapi apapun itu, meskipun kita tidak
pernah merencanakan, dan kamu bagaikan pasir dalam genggaman, bagiku sebenarnya
kamu sangat berharga.

wah. baru tau tentang blog kakak ini.
BalasHapusbagus tulisannya. izin baca y kak, salam kenal :)
Hai, iya silakan. Terima kasih ya :)
BalasHapus