“Mau
puasa, kamu tetap nggak mau ketemu sama aku? Emang nggak perlu maaf-maafan sama
aku?”
Pagi
yang hampir habis itu saya buka dengan membaca pesan pendek dari dia yang
kebetulan mantan saya. Sebut saja “dia”. Saya kebetulan baru saja bangun tidur,
dan ternyata sms itu dikirim dari jam 7:49 pagi. Kalau saya tidak salah ingat,
jam itu adalah jam kronis ketika seisi rumahnya semua pergi beraktivitas. Ayah
dan Ibunya pergi kerja. Juga adik-adiknya, mereka pergi ke sekolah mereka
masing-masing. Yang tersisa hanya dia di rumah dengan dua pembantunya. (Itupun
jika pembantunya masih dua orang).
Pagi
itu mungkin dia kesepian, atau merasa kangen dan sedang mengingat saya,
entahlah, yang jelas pagi itu saya terima pesannya seperti itu. “Maaf untuk
apa?” balas saya, singkat.
“Ya
buat semuanya, buat aku terutama, aku kayaknya banyak salah sama kamu,”
katanya.
Whaaaat?!
Kayaknya?! Cuma kayaknya?! Tiba-tiba saya meradang dalam hati. “Cuma kayaknya?”
Seolah kata-kata itu menjadi pertanda buruk. Bahwa selama ini, dia masih belum
menyadari mengapa saya pergi meninggalkannya begitu saja dan tanpa
kejadian berarti pada waktu itu. Tapi akhirnya saya jadi mengerti, jika sampai
sejauh ini dia belum menyadari bagaimana dirinya di mata saya, keputusan saya
pergi adalah keputusan yang paling tepat.
Lalu
saya membalas pesannya lagi, “serius mau ketemu? Jemput aku jam 1 di rumah deh
kalo gitu. Gak pake ngaret, nggak pake nanya-nanya lagi.”
“Siap,
Nyah!” balasnya.
Sejenak
saya tersenyum, dia masih seperti dulu. Seperti dua tahun lalu ketika kami
masih bisa saling merindu. “Aku menghormati kamu banget. Kamu harus ada di atas
aku, biar aku jadi babu kamu deh, Nyah. Asal kamu bahagia, hehehe.” Saya masih
ingat candaannya dahulu. Candaan ketika cinta masih ada. Dan yang membuat saya
bahagia adalah keseriusannya mempertahankan kata-katanya dulu-hingga hari ini.
Walau kita sudah tidak lagi sama-sama, saya tetap merasa dihormati.
Nyatanya,
agak lama saya dibuat senyam-senyum sendiri oleh pesan terakhirnya. Dan begitu
saya melihat jam dinding tepat di depan saya, sudah jam sebelas lebih lima
belas menit! Setengah dua belas lah hitungannya. Untuk mandi empat puluh menit,
siap-siap ini itu hampir tiga puluh menit, dan dengannya saya tidak biasa
terlambat. Dengan sedikit terburu-buru, akhirnya saya selesai dan rapi jam
setengah satu siang.
Penasaran,
saya masih ingin tahu, apakah dia masih mengingat kebiasaan-kebiasaanya dulu.
Apakah dia masih akan member kabar “aku udah rapi, kamu udah belum?” seperti
biasa, seperti ketika status kami masih sebagai pacar. Atau masih memberi kabar ketika
sedang memakai sepatu, dan member aba-aba bahwa dia sudah pada setengah
perjalanannya menuju rumah saya. Semua masih saya ingat dengan baik. Masih
tersimpan rapi di tempat yang dia sediakan sendiri.
Jam
setengah satu lebih lima, “aku jalan ya, nanti ditunggu di gang 6 kaya biasa,”
pesannya.
“Kaya
biasa apa kaya dulu? Hehehe.”
“Iya
kaya dulu. Jangan ngaret ya, takut nggak ada parkir.”
“No
worries Mas, i am ready.”
“Oke,
aku jalan ya.”
“Iya.”
“Nyah,
aku jalan ya?”
Dia
mengulangi tiga kali “aku jalan ya” dalam pesannya. Setelah beberapa detik,
saya baru menyadari, justru ternyata saya yang lupa mengucapkan kata hati-hati
seperti biasa. Kebiasaannya masih sama seperti lima tahun yang lalu, ketika
awal-awal masa pacaran. Dia akan selalu menagih ucapan hati-hati saya ketika
saya lupa mengucapkannya saat dia akan berpergian. Untuk atau tanpa saya.
Bahkan pernah dia tidak akan meninggalkan rumahnya ketika saya lupa mengucapkan
kata hati-hati untuknya. Dan hari ini dia masih menagihnya. Entah apa
alasannya, tapi saya yakin, kalian tahu bagaimana rasanya jadi saya siang
itu. :”)
“Iya,
hati-hati ya. Aku tunggu di rumah, kaya biasa.”
Tanpa
balasan. Itu berarti dia langsung jalan, setelah membaca itu, saya bisa pastikan
dia akan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju rumah saya. Semua masih
baik seperti dulu. Ritualnya, kata-katanya, semuanya. Hanya perasaannya saja
yang kini berbeda. Oh ya, dan statusnya.
Saya
langsung keluar rumah ketika dia member kabar bahwa dia sudah sampai di gang,
tempat biasa dia menjemput saya bertahun-tahun. “Oke aku keluar,” kali ini dia
member kabar via telepon, bukan sms, bukan bbm. Maksudnya supaya lebih cepat.
Dan sekali lagi, ini makin memngingatkan saya dengan kebiasaan-kebiasaannya
dulu. Ternyata tidak ada yang berubah darinya, sedikit pun, sekecil apapun. Malah saya yang
banyak berubah. Saya lalu berkaca dengan perbuatannya hari ini. Ya, saya sudah
banyak berubah.
Setelah
beberapa bulan kami tidak saling menyapa, mengirim kabar, say hallo atau apa,
lalu tiba-tiba harus bertemu lagi, di ruang sempit dan hanya berdua itu rasanya
amburadul. Kadang beberapa detik saya dibawa lari ke masa-masa yang sudah
menjadi kenangan. “Apa kabar, Mas? Akhirnya ketemu lagi ya kita,” saya memecah
keheningan di ruangan itu. Mobilnya.
“Biasa
aja.”
“Biasa
aja itu baik atau nggak baik ya?”
“Aku
biasa gini kalau nggak ada kamu, baik-baik nggak lah. Emang kamu, ngehits
banget di twitter, beda lah sekarang mah, jauh sama aku.”
“Hmmm…
Mulai deh…”
“HP-nya
taro dulu dong Nyah, iya tau… banyak mention masuk tau… Tapi taro dulu dong.
Aku makin kaya supir gini dicuekin.”
“Aku
taro HP aku terus pake HP kamu ya? Boleh? Hm. Pasti nggak. Ya pasti nggak lah,
takut ketauan kalau ceweknya banyak tuh…”
#heninglagi
#kemudianheningterusterusan
Tidak
ada tanggapan apapun. Saya melihat ke sebelah kanan, lalu mendapati dia hanya
fokus pada marka-marka jalan, tengok spion kanan-kiri, dan mengabaikan
bercandaan saya yang nyaris serius itu. Memang sudah tidak ada lagi hal-hal
pribadi yang harus saya ketahui dari dia atau pun yang harus saya share untuknya.
Saya menyadari kapasitas saya sebagai mantan bukan untuk ngore-ngorek
kehidupannya, toh jika memang perlu, dia akan menceritakannya sendiri. Mungkin
juga begitu yang ada dipikirannya saat ini. Kasarnya, kita sama-sama tahu diri.
Tahu batasan dan porsi masing-masing.
“Kamu
kok nggak nanya kita mau kemana, Nyah?” hening di dalam mobil pecah untuk kedua
kalinya. Kali ini dia yang memulainya. Jika kami masih berada dalam sebuah
grup, bisa dipastikan, saya dan dia masih menjadi teman satu tim yang baik
untuk hal bekerja sama. Seperti tahun-tahun ketika kami kuliah dulu.
“Nggak
perlu nanya-nanya, aku percaya kamu nggak mungkin bawa aku ke tempat yang
aneh-aneh. Iya kan?”
“Kata
siapa kamu, aku nggak akan bawa kamu ke tempat yang aneh?”
“Kata
aku barusan.”
“Kalau
ternyata aku bawa kamu ke tempat aneh gimana? Jurang misalnya?”
“Kalau
kamu kaya gitu, urusannya udah bukan sama aku lagi, tapi sama Tuhan dan sama
diri kamu sendiri yang udah mengkhianati kepercayaan aku. Aku nggak ragu sama
ajakan kamu, kalau kamu bawa aku ke jurang, berarti emang kamunya yang jahat.
Berkhianat.”
“Ampun
Nyah, ampun. Kamu masih sama kaya kamu yang dulu. Nakutin!”
“Bodo.”
…
…
Duh,
kalau aja siang itu saya bisa teriak sekencang-kencangnya di dalam
mobil, saya akan lakukan. Mood saya mulai kacau. Naik turun seperti roller
coaster. Kencang! Dan aneh. Perbincangan ini membawa saya dan dia ke beberapa
bulan yang lalu. Dan untuk beberapa hari ke depan, saya lah yang harus
bertanggung jawab jika mood ini masih belum stabil karena pertemuan hari ini.
Mantan
saya itu masih care, masih peduli dengan hal-hal detail yang menempel pada diri
saya. Dia menanyakan banyak hal, tentang kesukaan saya dengan warna hitam yang
nggak luntur-luntur, bahkan dia berkomentar dengan apa yang saya pakai hari
itu. Dia bilang, saya tetap menunjukan identitasnya sebagai pecinta warna
hitam. Ya, hari itu saya mati gaya. Hanya memakai celana hita, kaos hitam
dengan outer flannel kotak-kotak cokelat, sepatu hitam, dan tas hitam. Dia juga
mengomentari penyakit insomnia yang saya derita. Sejak aku nggak ada, insomnia
kamu makin bebas menggerogoti hidup kamu, Nyah, begitu katanya. Saya hanya bisa
diam. Dalam perjalanan itu, saya benar-benar hanya mengandalkan Tuhan untuk
mengendalikan emosi hati saya. Berharap semoga Tuhan menjaga perilaku saya di
depan mantan saya itu. “Please, tolong jangan buat saya malu ya, Tuhan. Buat
saya untuk tetap ja-im di depannya. Please”.
Siang
itu akhirnya kita ke Plasa Senayan. Seperti tebakan saya. Mall ini adalah mall
favoritnya ketika dia masih bersama dengan saya. Entah bagaimana sekarang, tapi hari ini saya benar-benar ia bawa ke masa lalunya, masa lalu saya
juga.
Hampir
pukul setengah tiga sore. Jalanan hari itu macet parah. Dari Thamrin ke
Sudirman macet. Depan Taman Ria apalagi, macet! Alhasil hampir satu setengah
jam saya dan dia terkurung di dalam mobilnya. “Mau nonton?” tanyanya pada saya.
“Nggak
ah, nggak mood nonton aku.”
“Terus
mau apa dong?”
“Mau
maaf-maafan kan, kata kamu tadi padi?”
“Susah
ya, ngomong sama kamu, maaf-maafan dikira ketemu-salaman-minta maaf-pulang ya,
Nyah? Ya nggak gitu juga lah… Makan?”
“Boleh,
makan apa?”
“Bebas
kamu aja.”
“Berat
ringan?”
“Bebas,
Nyaaah… Terserah kamuuu, aku ikut deh apa aja pilihan kamu.”
“Siap,
Mas. Siap.”
Bersamaan
dengan kejadian hari ini akhirnya saya membuktikan satu teori temuan saya,
bahwa nafsu makan akan hilang berbarengan dengan hilangnya mood yang
menyenangkan di dalam hati. Saya belum makan hari itu, tapi sama sekali tidak
merasa lapar. Cuma aneh yang saya rasakan. Pertama aneh karena “kok bisa kita
jalan berdua lagi?” dan kedua aneh karena “kok bisa baik-baik aja nggak pake
perang pas ketemu lagi?”. Kedua keanehan itu membuat nafsu makan saya hilang
dan sulit konsentrasi. Hehehe. Yang ini agak lebay, tapi serius.
Saya
membawanya ke Union di Plasa Senanyan. Tempat yang cozy untuk maaf-maafan sambil
ngobrol ngalor-ngidul sore hingga malam, malam hingga pagi, dan pagi hingga
malam lagi. Tempat ini belum pernah kami datangi berdua. Dan setiap saya ke tempat
ini dengan teman-teman saya, saya selalu membayangkan, saya bisa ketempat ini
dengan orang yang menemani saya hari ini. Selalu saya bayangkan dia ketika saya
berada di gudang red velvet ini. Ya, sangat tidak saya prediksi, apa yang saya
bayangkan ketika itu, hari ini benar-benar terjadi. Benar-benar nyata.
“Untuk
berapa orang Mbak?” tanya waitress di sana.
“Dua
orang Mbak. Waiting list nggak ya?”
“Smoking
atau no smoking?”
“Kalau
ada no smoking, kalau nggak ada, smoking nggak apa-apa.”
Kemudian
kami diantarkan ke kursi di sudut ruangan no smoking oleh waitress tersebut.
Memilah milih menu yang ujung-ujungnya red velvet dan minuman pendamping.
Begitu pun dengan dia yang hari ini pergi bersama saya. Dia mempercayakan saya
untuk memilihkan pesanannya. Sungguh, kejadian ini adalah kejadian yang biasa
terjadi pada kami saat kami berpacaran. Setelah waitress meninggalkan meja
kami, aku kembali sibuk dengan handphone. Begitupun dia. Sibuk dengan
handphonenya. Kali ini dia tidak komplein sampai pesanan kami datang.
“Masih
nggak suka minum kopi?” tanya saya. Sepengetahuan saya hari ini, dia memang
bukan seorang penikmat kopi. Jika ada teh atau cokelat, dia akan memilih
cokelat panas. Jika hanya ada teh atau kopi, dia akan memilih teh. Dan jika
hanya ada kopi atau air mineral, maka dia akan memilih air mineral.
“Masih.”
Dia menjawab pertanyaan baik saya dengan sangat datar. Beberapa detik saya
merasa biasa. Tapi beberapa menit kemudian saya kembali bertanya.
“Kenapa?
Kamu nggak suka makan di sini? Kita pindah aja kalau kamu nggak suka,” saya
mencoba mencari tahu, ada apa dengan suasana hatinya yang tiba-tiba menjadi
datar. Saya mengira, penyebabnya adalah kabar yang ia terima dari handphonenya
beberapa menit yang lalu sebelum akhirnya handphone itu ia masukkan kembali ke
dalam saku celananya. Masih tanpa jawaban. Saya mengamatinya dengan baik. Dia
hanya menunduk tanpa suara. Pandangannya jatuh tepat di atas cake yang menjadi
pesanannya. “Hey, kamu kenapa? Ada masalah? Kita bisa pulang kalau kamu lagi
ada masalah,” aku mengulangi pertanyaanku.
“Kamu
sering ke tempat ini?” dia bertanya, dengan sedikit gemetar, seperti ada yang
ia tahan di dalam emosinya.
“Nggak
sering juga. Ada apa? Kamu nggak suka sama tempatnya? Kita bisa pindah sekarang,”
jawab saya. Saya masih mampu membaca ekspresi yang ia tampilkan untuk merespon
suatu hal. Bagaimana responnya ketika dia tidak menyukai hal ini dan bagaimana
responnya ketika dia menyukai hal itu. “Kamu nggak nyaman ya sama tempatnya?
Makanannya take away aja ya, kita cari tempat lain,” pinta saya.
“Nggak
usah!! Nggak usah sok manis di depan aku. Aku bukan nggak suka tempatnya, tapi
aku nggak suka sama cara kamu bergaul sekarang!”
TEPATTT!
Seperti dugaan saya. Sikap ini yang akan ia tampilkan atas ekspresi datarnya
beberapa menit yang lalu. Tidak meleset sedikit pun. Dia masih sama. Masih
seperti yang saya ketahui sampai hari ini. Tidak ada yang berubah sedikit pun
darinya. Manis-manisnya, juga sifat pemarahnya. Saya kembali harus berusaha
menjadi air bagi api. Harus mengalah. Sabar. Sebenarnya hati saya panas
mendengar komentar seperti itu, tapi ini bukan waktu yang tepat jika harus
berdebat dengan nada yang sama tinggi. Saya komat-kamit dalam hati, “ngalah aja
ngalah… yang waras ngalah… jangan sampai ngomong dengan nada tinggi… turunin
nada, turunin.” Seperti itu, berkali-kali.
“Ada
yang salah sama pergaulan aku sekarang?” kemudian saya bertanya baik-baik. Dengan nada suara serendah-rendahnya. Berharap mendapat jawaban yang baik pula. Kalaupun kata-kata yang akan keluar
dari mulutnya bukan kata-kata yang baik, minimal diucapkan dengan nada yang
baik.
“Jadi
gini sekarang cara kamu bergaul? Temen kaya apa sih yang kamu pilih sekarang,
ha?”
“Nggak
usah bawa-bawa temen aku, urusan kamu hanya urusan antara aku dan kamu aja,
bukan aku dengan temen-temen aku, atau aku dengan siapapun.”
“Kamu
mau jadi apa sih, bergaul di tempat kaya gini? Kiri kanan cewek ngerokok semua,
menu isinya beer semua, alkohol semua. Gini kamu sekarang?”
“Kamu
pernah liat aku ngerokok sampai hari ini? Atau kamu pernah liat aku minum
sampai hari ini? Atau gini deh, apa kali ini aku ngerokok atau minum di depan
kamu? Nggak kan? Nggak ada hubungannya hidupku sama tempat yang lagi aku
tempatin. Jadi kamu nggak perlu khawatirin apa-apa yang nggak pernah terjadi
sama aku. Aku bisa jaga diri. Masih tau mana yang baik, mana yang nggak. Oke
gini deh, makasih kalau kamu masih khawatir sama cara aku bergaul, tapi asal kamu
tau, bukan cara bergaul aku yang salah, tapi cara kamu ngebentak-bentak aku
barusan yang salah.”
Union,
pertemuan yang awalnya baik-baik saja, diniatkan untuk hal yang juga baik malah
jadi berantakan hanya karena emotionalnya yang masih sama dan nggak ada
berubahnya. Masih temperament dan berapi-api. Masih sama persis. Bertahun-tahun
kami bersama, saya bagian mengambil peran pengalah dan peredam emosinya. Bertahun-tahun.
Bayangkan bagaimana lelahnya saya kemarin. Dan bagaimana sulitnya jadi diri
saya yang harus pontang-panting menahan marah di depan orang yang sedang
memarahi saya sesuka hatinya. Phft maksimal.
“Ini
sih kalau kamu masih mau tau siapa aku ya, aku lagi nahan banget supaya nggak
kepancing emosinya di depan kamu. Aku masih menghargai pertemuan ini karena
kita udah lama banget nggak ketemu dan kamu yang minta ketemu karena katanya
mau puasa dan harus maaf-maafan. Oke aku turutin pertemuan kamu. Aku nggak
punya maksud apa-apa selain nu-rut-in apa mau kamu. Tapi kalau jadinya kaya
gini, siapa yang nggak kecewa? Urusan kamu deh ya, kamu suka atau nggak sama
tempat ini, tapi harusnya kamu nggak kasih penilaian buat aku cuma karena aku
bawa kamu ke tempat ini. Kita tuh udah setahun lebih nggak ketemu, dan hari
ini, kita baru ketemu lagi, itu pun baru dua jam tiga jam. Sekarang kamu
marah-marah, ngejudge pergaulan aku nggak bener. Darimana kamu bisa kasih
penilaian buat aku? Dari apa yang baru kamu tau lagi selama dua jam-tiga jam?
Emang kamu tau sebulan kemarin aku ngapain? Atau lima bulan kemarin aku
ngapain? Atau setahun kemarin aku ngapain? Kamu tau selama kamu gak ada aku
bergaul sama siapa aja? Mau bilang tau dari twitter? Twitter itu cuma maya,
bukan realitas. Aku bisa aja ngetweet lagi di luar jam segini padahal akunya
udah di kamar, udah mau tidur. Bisa aja kan? Sekarang kamu mau nilai aku cuma
dari hal-hal kaya gitu? Picik kamu namanya.”
Fufufu!!
Walaupun sudah ditahan-tahan, naluri saya sebagai perempuan terus keluar.
Cerewet, bawel, dan nggak bisa berhenti berbicara. Ini bagian tersulit dalam
menghadapinya sepanjang sejarah saya hidup dengannya. Mebawa emosinya yang
sudah terlanjur tinggi dan memanas ke arah yang lebih rendah. Turun, supaya
kembali adem dan dingin. Saya harus pintar-pintar berbicara dengannya.
Bolak
balik saya memperhatikan matanya dan masih belum menemukan ada ketenangan di
dalamnya. Dia seolah masih ingin mencari pembenaran atas pendapatnya tadi.
Bukan. Bukan saya ingin marah atau tidak terima, tapi sikapnya yang barusan ia
tunjukan kepada saya bukanlah sikap yang baik yang dimiliki oleh setiap orang.
Sikap yang menjadi alasan saya meninggalkannya, ternyata masih berada dalam
dirinya. Saya tidak melihat sikap itu semakin parah, tapi juga tidak hilang.
Hari ini saya masih menemukannya. Dan jujur, saya kembali pada kekecewaan saya
dulu. Ya, saya kembali kecewa.
“Aku
bukan lagi marah sama kamu,” katanya, lirih.
“Aku
juga bukan lagi marah sama kamu, kamu ngira aku marah sama kamu ya tadi?” jawabku.
Dan dia hanya menggeleng. “Aku tadi bukan marah sama kamu. Suatu hari nanti,
pasti kamu akan menjadi seorang yang sibuk, yang bertemu banyak orang setiap
hari, nggak peduli orang itu sudah kamu kenal atau belum, apakah orang itu
adalah teman lama kamu, atau mungkin mantan kamu, atau mungkin juga orang yang
sama sekali belum pernah kamu temui. Mereka akan mendatangi kamu dengan sifat
dan sikap yang berbeda-beda pasti, ada yang ramah, ada yang nggak ramah, bisa
aja kan dia judes ke kamu, atau sinis, atau apapun, tapi itu kan luarnya yang
kamu lihat. Dan yang kamu tangkap nanti, itu mungkin luarnya mereka, mereka
yang menurut kamu ramah, belum tentu baik di belakangnya, atau sebaliknya, yang
menurut kamu dia sinis sama kamu, belum tentu dia tidak baik di belakangnya.
Apa kamu ma terus-terusan emosi sama penilaian-penilaian kamu tentang orang
lain, yang kamu tau luarnya aja? Apa jangan-jangan nanti kalau dari luarnya kamu
nggak suka, terus udah, kamu tinggalin gitu aja? Kan nggak mungkin kamu
terus-terusan begini sampai tua. Iya kan? Cukuplah orang mendapati kamu dengan
kata-kata yang baik-baik aja, dengan sikap yang baik-baik aja. Kalau nggak suka
sama orangnya, tunggu orangnya sampai nggak ada, ya pokoknya jangan sampai lah
kamu nyakitin orang-orang itu dengan hal-hal kaya yang barusan kamu bikin itu.
Kamu ngerti kan? Jadi aku bukan lagi marah sama kamu, aku justru lagi khawatir
sama kamu kalau kamunya gini-gini aja.”
#ambilnapas #ngomongkelamaan #kehabisaudara #phft
#ambilnapas #ngomongkelamaan #kehabisaudara #phft
Kami
berdua sama-sama berusaha meredakan emosi. Membuat pertemuan ini menjadi
pertemuan yang berharga lagi. Terutama saya. Saya nggak akan memberikan
kenangan buruk untuk pertemuan kali ini. Kalaupun ini menjadi pertemuan yang
paling terakhir bagi saya dan dia, saya akan memastikan, bahwa kali ini semua
yang tertinggal benar-benar sudah selesai. Itu sebabnya mengapa saya benar-benar menjaga emosi saya. Walaupun mental saya benar-benar di acak-acak olehnya.
Dia
masih tidak bicara, tapi kali ini dia terlihat lebih relax dari sebelumnya. Dia
mulai memainka sedotan minumannya, mulai melihat-lihat pemandangan di ruangan
ini. Dia mulai menikmati kondisi para tamu yang merokok dan menu-menu minuman
yang sebagian beralkohol itu. Seolah dia sedang mencari tahu, apa yang membuat
saya betah dan kembali lagi ke tempat ini.
Saya
tetap memperhatikannya, gerak-geriknya, matanya, pandangannya ke arah mana ia
jatuhkan. Dulu, di matanya ada cinta untuk saya. Pandangannya memiliki makna
yang berat setiap melihat saya. Sekarang semuanya kosong. Mungkin begitu juga
dengan saya. Kadang saya tersenyum dalam hati. Sesekali menyesali mengapa kami
harus berpisah dan tidak kembali lagi. Tetapi kadang saya bersyukur, sangat
berterima kasih kepada Tuhan yang mampu memisahkan kami bukan dengan hal-hal
yang buruk seperti hadirnya orang ketiga, perselingkuhan, atau hancurnya
kepercayaan. Jika boleh kembali ke masa-masa itu, lucu, kami berpisah hanya
karena dua-duanya tidak bisa menahan emosi. Sama-sama pemarah jika sedang
disudutkan oleh masalah. Dan kami mental begitu saja dari hubungan yang kami
bangun sendiri. Itulah dinamika kehidupan. Nggak ada yang bisa ngerti akhirnya
akan bagaimana di tangan kita. :”)
“Tempat
ini nggak seperti yang kamu bayangkan, Mas. Ini tempat yang asik buat ngumpul bareng
temen-temen. Kamu tadi ngecap tempat ini buruk mungkin karena meja di
samping-samping kita isinya cewek pakai tanktop, bertatto, dan minum. Terus
kamu lihat ke smoking area, kebetulan kali ini isinya lebih banyak cewek
daripada cowok. Iya nggak begitu? Padahal aselinya banyak juga kok cewek-cewek
yang pake jilbab kesini. Mereka kesini bukan karena tempatnya, tapi karena
cake-nya enak-enak. Di antara tempat-tempat lain, red velvet di sini masih
lebih enak loh, menurut aku. Jadi banyak alasan kenapa cewek-cewek cupu kaya
aku juga suka sama tempat ini. Bukan karena rokok atau alcohol. Iya kan?”
sekali lagi, saya sedang berusahaaaa…banget meredam emosinya dan negative
thinkingnya. Saya benar-benar tidak ingin waktu yang sedang saya lewati dengan
dia hari ini jatuhnya sia-sia. Nggak ingin sama sekali.
“Tapi
aku tetap nggak suka kamu ada di sini. Buat aku tetep aja, ini bukan tempat
yang baik buat kamu bergaul. Bergaul biasa-biasa ajalah, nggak usah terlalu
gimana-gimana. Cari tempat yang baik supaya ketemunya sama orang yang baik,”
akhirnya dia mulai bicara lagi, :”) akhirnya.
“Iya,
nanti aku cari.”
“Ya
sebenarnya juga bukan urusan aku sih, kamu mau main di mana, mau nongkrong di
mana, killing time sama siapa, sama sekali bukan urusan aku. Tapi kayaknya
nggak enak aja kalau nanti-nanti aku ngedapetin kabar nggak nggak enak misalnya
tentang kamu. Mungkin kalau kamu bukan mantan aku, aku nggak akan kaya tadi
juga ke kamu. Ya gitu lah, masa kamu nggak ngerti sih? Kamu kan lebih pinter
dari aku. …….pinter ngomong.”
“Yah,
dia mulai lagi. Masih mau diterusin, Mas?”
“Oh,
nggak. Nggak perlu ada yang diterusin. Udah cukup kok segini aja, yang penting
kita tau siapa kita masing-masing, kita tau batasan kita masing-masing, dan
terutama aku. Aku jadi tau siapa kamu sekarang.”
Oke.
Oke. Saya tau kemana arah pembicaraan ini. Jika tidak di-cut dengan segera, maka
pertempuran part dua akan terjadi lagi di meja yang sama. Biarkan dia mereda
dengan sendirinya. Saya ambil posisi sebagai pendengar sindiran-sindirannya
yang baik yang tidak perlu bertanya-tanya lagi apa maksud omongan-omongannya
tadi dan nanti. Jika ada pembicaraan-pembicaraan yang menyerempet buntu, saya
hanya akan menanggapinya dengan; senyum, nyengir, muka datar, agak cemberut,
manyun, melotot, dan lain-lain tanpa kata. Cukup emoticon-emoticon yang saya
adopsi dari emoticon whatsapp atau bbm.
“Kita
di sini aja kan?” tanyanya kepada saya. Kaget. Ya, saya kaget sama
pertanyaannya. Seolah-olah dia ingin berada di tempat ini untuk waktu yang
lebih lama lagi. “Oh, mulai merasa nyaman di sini ternyata,” kata saya, dalam
hati.
“Boleh,
kita ngobrol sini aja, lagian aku males juga pindah-pindah tempat lagi,” saya jawab
kembali.
Kali
ini kami sudah damai, sudah bercanda-canda garing, sudah ada pembicaraan
serius, bercerita mengenai kegiatan masing-masing selama sudah tidak bersama.
Cerita tentang sakitnya ketika kami harus berpisah, bercerita bagaimana dulu
kita pernah sama-sama bodoh berantem di jejaring sosial dan semua orang harus
mengomentari masalah kami. Tentang kekanak-kanakan yang masih tertinggal hari
ini.
“Aku
lucu lihat kamu kalau lagi galau malem-malem. Malah aku suka GR, aku suka
ngerasa tweet kamu itu ya buat aku,” katanya sambil tersenyum. Dia masih manis.
“Emang
kamu follow aku lagi? Kok bisa tau? Haha, stalking ya? Dasar, mata-mata.”
“Ya
salah kamu, kenapa account-nya nggak di protect. Kamu ngebiarin semua orang
bisa baca isi twitter kamu, ya termasuk aku kan berarti?”
“Ya
emang gak salah sih, lagian nggak masalah juga kamu baca. Nggak ngaruh. Hehe.”
“Makanya,
protect aja gih akun kamu, punya privasi sedikit kenapa sih, nggak semua orang
kan harus tau kamu gimana?”
“Males
ah, emang twitter aku kotak amal, mesti digembok segala? Lagian aku juga tau,
kalau ada hal-hal yang nggak kepengen orang tau, ya nggak aku tulis di
twitter…”
“Hahaha,
bukan masalah kotak amal atau apa sih, lagian kamu kan emang seneng semua orang
tau urusan-urusan kamu. Aku tau kamu lagi…”
…
…
…
SABAAARRR…
MANTAN EMANG SUKA NGESELIN. MAKANYA JADI MANTAN, BUKAN PACAR.
…
“Kamu,
dari tadi omongannya menjurus-jurus kea rah yang nggak enak terus. Dari tadi
ngomentarin akunya tuh nggak enaaaaak…terus. Sebenernya kamu ngajak ketemu aku
buat minta maaf atau buat ribut-ribut lagi sih?”
PHFT!
Dari tadi dia ngomong nggak ada enak-enaknya. Nyelekit, nusuk, berbau sindiran,
dan mengarah ke hal-hal di mana kesalahan menjadi milik saya dahulu. Semua
diungkit, semua dibahas lagi. Belum bulan puasa, tapi kesabaran sudah lebih
dulu diuji dan saya sudah dipaksa untuk menahan hawa nafsu saya. (Baca: tahan
marah). Kalau bukan karena kehadirannya yang harus saya hormati, saya tidak
akan berlama-lama berada di sampinya hari ini.
“Jadi
mau minta maaf, Mas?”
“Jadi
Nyah, jadi. Tapi nanti aja di mobil kalau udah mau pulang ke rumah. Sekarang
puas-puasin aja dulu ngeselinnya. Boleh, Nyah?”
“Oh,
boleh banget. Kebetulan aku selalu punya maaf buat kamu. Jadi gak masalah.”
Akhirnya
kami berdua tersenyum lepas. Oh, Tuhan… Terima kasih, ternyata bebannya sudah
hilang. Ternyata kami sudah bisa lagi kembali duduk berdua dan tidak
mempermasalahkan apa yang pernah terjadi. Tidak mengusik apa yang menjadi
business kami masing-masing. Malah kami larut dalam obrolan tentang kami
berdua. Ya, tentang kami. Tentang saya dan tentang dia.
Pertanyaan-pertanyaan
seperti “kamu kenapa sih dulu begini…” atau “kamu gimana waktu aku begini…”
menjadi pertanyaan yang paling saya tunggu-tunggu. Saya ingin tahu, berapa
besar kadar ingin tahunya tentang hal-hal itu yang saya alami ketika
dengannya. Saya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan dulu justru ketika
hati saya dan hatinya sudah sama-sama netral. Tidak ada lagi kepentingan yang
harus aya bela hari ini. Saya tidak punya kepentingan apa-apa atas dirinya,
begitupun dengannya. Semua yang terjadi hari ini seperti halnya ketika saya
membaca-baca lagi tulisan yang saya karang sendiri. Maka di sana saya hanya
akan dapat menemukan mana kesalahan-kesalahan saya dan mana bagian tulisan yang
enak dibaca. Seolah ini adalah ajang untuk saling mengoreksi diri.
“Kamu
kenapa sih Nyah, kayaknya punya power banget buat ninggalin aku dan nggak
menghubungi aku sama sekali kaya gini?” dia bertanya. Dan air mukanya tampak
sangat serius. Tidak dibuat-buat.
“Nggak
tau, aku nggak bisa jawab kalau kaya gini. Mungkin karena kecewa sama sikap
kamu yang waktu hari minggu itu kali.”
“Tapi
kan aku udah minta maaf?”
“Aku
kan juga udah maafin? Terus aku mesti gimana lagi dong?”
…
#hening
#ngelapkeringetdingin #heninglagi
…
“Nyah,
kamu serius ya, nanggepin pisahnya kita kali ini?”
“Aku
selalu serius sama kamu. Untuk hal-hal yang menyangkut dengan kamu, aku nggak
pernah main-main.”
“Kamu
serius sama omongan kamu?”
“Iya
dong. Kamu masih ngira aku setengah-setengah putus sama kamu? … Kalau kamu
ngira aku cuma setengah-setengah aja putus dari kamu, itu tandanya kamu belum
kenal aku. Atau mungkin sebenarnya kamu kenal aku, tapi lupa.”
“Maksudnya?”
“Iya.
Dari dulu aku orang yang paling nggak pernah setengah-setengah ngadepin apapun.
Apalagi kalau harus membuat keputusan. Aku paling anti sama yang namanya
setengah-setengah. Aku selalu serius. Aku pacaran sama kamu nggak pernah
setengah-setengah kan? Aku mati-matian pontang-panting nyelametin hubunganku
sama kamu. Begitu pun waktu aku putus. Keputusan untuk putus dari kamu adalah
keputusan yang aku ambil bukan dengan setengah-setengah. Mau itu setengah hati
kek, setengah sadar kek, atau apalah. Mungkin ada kali ya sekitar enam bulan
aku pertimbangin putus atau nggak dari kamu, tapi begitu aku lihat kamu nggak
berubah, ya akunya lah yang capek, jadi ya gini, kaya kita sekarang.”
Saya
memang bukan tipe orang yang suka mengikuti mood. Kalau maunya A, saya harus A.
Maunya B, saya harus B. Maunya C D, saya harus C D. Bukan sama sekali. Saya
adalah seorang yang rumit, penuh pertimbangan, dan terpaku pada aturan-aturan
logis, walaupun kadang saya emosional dan mengikuti perasaan banget, tapi saya
seorang yang sangat lambat ketika harus mengambil keputusan. Saya lebih senang
dibilang menggantungkan masalah padahal sebenernya saya mempertimbangkan
masalah itu dengan waktu lama. Begitulah yang terjadi dengan saya dan dia.
Ketika
saya merasa, hubungan yang saya miliki dengannya sudah tidak bisa berjalan
dengan baik, saya tidak langsung memutuskan ini. Ada waktu sekitar hampir satu
tahun untuk menimbang keputusan ini. Saya pertimbangkan betul baik buruknya
jika kami bersama, dan jika kami berpisah. Saya perhitungkan seberapa sakitnya
dan tidak mampunya saya lepas dari orang yang berarti bagi saya. Juga saya
harus menegarkan hati, jika suatu hari nanti saya atau dia bertemu dengan orang
yang baru yang menjadi teman hidup masing-masing. Pertimbangan-pertimbangan
seperti itu yang membuat keputusan ini adalah keputusan yang sudah dipikirkan
baik-buruknya.
Kami
berdua berbincang penuh arti. Sampai malam datang, seolah waktu tidak pernah
cukup untuk mengendalikan keinginan kami untuk tetap bersama-sama.
“Kamu
lama deh minta maafnya, nanti-nanti di mobil malah lupa, udah mendingan aku aja
yang minta maaf, kamu bagian maafinnya aja,” kata saya ketika melihat jam
digital di handphone telah menunjukan pukul 19:00. “Intinya, maafin aku ya Mas,
buat semuanya, semuuuaaaaanyaaaa… Aku banyak salah sama kamu. Salam buat
orang-orang rumah ya, bilangin aku kangen sebenernya, tapi belum bisa main
dulu, mungkin nanti,” pesanku.
“Aku
juga, maafin aku banget-banget ya. Aku yang sebenernya banyak salah. Maaf ya,
aku suka nggak control emosiku kaya tadi sore, pas di sini. Buat semua salah
aku.”
“Iya
sama-sama ya, udah ah, jadi mellow, nanti kita bayar makanan ini bukan pake
uang tapi pake air mata lagi, hehehe. Udah-udah.”
Lalu
kami meninggalkan tempat ini dengan bergandengan tangan. Masih ada yang belum
hilang dari saya dan dia. Keinginan untuk terus berjalan bersama walaupun waktu
sudah memisahkan kita berdua. Dia pernah bertanya pada saya beberapa hari yang
lalu ketika kita tidak sengaja chatting tengah malam. Dia bertanya, mengapa saya
seberani itu menginggalkannya, mengapa saya tidak membiarkan waktu saja yang
memisahkan saya dengannya. Tetapi saya hanya tersenyum belum sempat menjawab, karena
pada saat itu saya memang tidak
mempunyai jawaban apa-apa. Dan kali ini, ketika tangannya kembali menyatu
dengan tangan saya, saya ingin menjelaskan sedikit hal yang baru saya ketahui;
ternyata saya dan dia memang dipisahkan oleh waktu. Benar-benar oleh waktu.
Kita berpisah justru disaat kita masih sama-sama ingin berjalan bersama. :”)
Hari
ini adalah pertempuran hati yang hebat. Kami berdua harus membangkitkan lagi
ingatan-ingatan tentang perjalanan kami dulu pada saat kami bertemu lagi,
kemudian harus membunuhnya kembali ketika kami bersiap untuk pulang ke rumah
kami masing-masing. Aku masih bergandengan dengannya, rasanya tidak ingin
lepas. Ingin selalu begini. Tetapi tidak bisa. Di jalan menuju arah parkiran
saya merasa menjadi mantan yang paling beruntung memiliki mantan seperti dia.
Mantan luar biasa. Sampai tiba di depan mobilnya, “biarin aku aja yang tutup
pintu mobilnya, kamu masuk duluan aja,” kata saya padanya.
Ada
kebiasaan indah yang tidak pernah saya lupakan darinya, saya hampir tidak
diizinkan untuk menutup atau membuka pintu mobil sendiri. Ketika saya harus
turun, saya dibiarkannya duduk manis di bangku kiri dan menyaksikannya tergesa-gesa
keluar dari bangku kanannya untuk membukakan pintu mobilnya buat saya. Dengan
sedikit tersenyum, “silakan, Nyah.” Kata-kata yang paling manis yang pernah
saya dengar langsung dari bibirnya dan senada dengan perlakuannya. Sama-sama
manis. Bukan atas permintaan saya, tapi ini hadiah bagi saya karena
keinginannya. Begitu pun ketika saya harus masuk ke dalam mobil, dia akan
mempersilakan saya masuk ke dalam tanpa membuka dan menutup pintu itu sendiri. Sungguh
Tuhan Maha Baik dengan saya, selama empat tahun, saya pernah dikirimkan
malaikat penjaga yang begitu menyenangkan. Begitu membanggakan dan baik hatinya.
Tetapi
bayangan-bayangan kenangan itu harus rusak karena kesalahan saya sendiri.
Ketika saya sedang berselancar dengan kenangan, tiba-tiba, “BRAAAAKKK!!”. Saya
nutup pintu mobil terlalu kencang. Tetapi bukan itu yang membuyarkan alam
pikiran saya, melainkan komentar darinya ketika mendengar pintu itu tertutup
dengan kencang. “Ya ampun, Nyah, kenceng banget sih nutup pintu mobilnya? Kaya
nutup pintu hati aja,” komentarnya. Lalu saya tersipu, malu.
“Buat
kamu, pintu itu emang harus ditutup ekstra kencang. Karena kalau nggak kencang,
bakal kebuka lagi-kebuka lagi,” jawab saya. Lalu kami berdua tertawa
terbahak-bahak. Malam ini adalah malam yang harus saya syukuri kehadirannya.
“Aku
boleh jujur?” tiba-tiba dia bertanya dalam perjalanan ketika mobil itu sudah
melaju beberapa kilometer dari pintu keluar Plasa Senayan.
“Silakan,”
jawabku, singkat.
“Aku
masih sayang kamu, walaupun aku lihat udah nggak ada lagi sayang buat aku dari
kamu.”
“Aduh…
Udah deh, nggak usah kamu mulai lagi apa yang udah susah payah kita tutup
kemarin. Aku nggak mau ngulang sakitnya dari awal lagi.”
“Iya
kita emang udah nggak bisa banget, aku tau. Tapi…”
Saya
kemudian buru-buru memotong bicaranya, “ya emang udah nggak bisa Mas, abis
gimana dong? Aku nggak kebayang aja kalau harus bertahun-tahun lagi sama kamu,
kecewanya bakal sebanyak apa. Ini aja aku baru ketemu lagi sama kamu berapa
jam, kamu udah ngecewain aku kan tadi? Makanya, udah yah, gak usah coba
bahas-bahas itu lagi.”
“Iya,
aku juga gak minta apa-apa. Aku Cuma mau bilang, aku masih sayang sama kamu.”
“Udah
ya sayang, udah. Lagian kamu nggak usah khawatir, walaupun kamu bukan pacar
aku, tapi aku adalah orang pertama yang bakal bergetar kalau harus denger suara
kamu lagi. Aku orang pertama yang bakal berkaca-kaca kalau harus lihat senyum
kamu lagi, dan aku akan jadi orang pertama yang nangis waktu aku tau kamu terluka. Aku adalah orang pertama yang kagum dengan hari ini, sebelum
kamu. Aku adalah orang pertama yang
jatuh cinta sama kamu malam ini. Dan aku, adalah teman pertama yang akan selalu
sayang sama kamu. Masih ada yang kurang dari aku, Mas?”
“No,
I just fell in love with our friendship, Love. I love you, more.”
…
…
Dan
peluk cium malam itu, menjadi peluk cium terakhir bagi cerita kami kali ini.
:”) :”) :”)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar