Pagi yang hampir
habis itu saya buka dengan membaca pesan pendek dari Lucky. Kebetulan saya baru
bangun tidur, tetapi saya tahu, pesan itu dikirim pukul 7:49 pagi. Kebetulan juga
saya ingat, detik-detik itu, di rumah Lucky adalah detik-detik kekosongan bagi
seisi rumah. Mama-Papa pergi kerja, Dilla dan Alya pergi sekolah. Tinggal Lucky
di rumah, sendiri. Jadi, mungkin ia kesepian atau sekedar sedang mengingat.
Juga tentang
hari ini yang menjadi hari kesekian kami saling membeku, tidak menyapa, dan
mencoba untuk saling melupakan. Sebenarnya, jika perpisahan yang lalu adalah
luka, saya tidak ingin lagi mengingat bagaimana lukanya. Tidak ingin mencari
tahu, apakah rasa sakitnya masih ada atau sudah berlalu. Makanya saya masih
bisa tersenyum pagi ini tanpa berharap bahwa ia akan tetap sama seperti ia yang
dulu. Seperti saat kami masih bisa saling merindu.
Saat sedang
menunggu, saya sempat bertelepon dalam jeda, dengan sahabat yang begitu
mengenal saya. Saya menceritakan keterkejutan saya pagi tadi, lalu sahabat saya
bilang, suara saya seperti suara orang yang sedang berbahagia. “Oh ya? :’)”
Tiba waktunya,
kami bertemu. Setelah berapa lama kami tidak saling menyapa, mengirim kabar, bercerita,
lalu tiba-tiba harus bertemu lagi, di ruang sempit dan hanya berdua itu rasanya
amburadul. Kadang beberapa detik saya dibawa lari ke masa-masa yang sudah
menjadi kenangan. Kadang detik berikutnya saya ingin waktu berhenti di sini
saja. Tidak perlu berjalan. Tetapi saya coba untuk menikmati semuanya. Saya
coba mengerti, memang begitulah hati. Tidak ada yang bisa memprediksi sama
sekali. Saya juga sambil komat-kamit dalam hati, “nggak boleh lagi tahu hal-hal
pribadinya. Nggak boleh.”
Duh, kalau aja
siang itu saya bisa teriak sekencang-kencangnya di dalam mobil, saya akan
lakukan. Mood saya mulai kacau. Naik turun seperti roller coaster. Kencang! Dan
aneh. Tapi saya tetap diam. Saya diam, ia lebih diam lagi. Sampai di suatu
tempat, yang menjadi tujuan kami.
Sampai detik
itu, ia tidak memuntahkan satu patah kata pun dari bibirnya yang tipis itu.
Bibir yang pernah menjadi favorite saya bertahun-tahun. “Kenapa? Kamu nggak suka makan di sini? Kita
pindah aja kalau kamu nggak suka,” saya mencoba mencari tahu, ada apa dengan
suasana hatinya yang tiba-tiba menjadi datar. Saya mengamatinya dengan baik.
Dia hanya menunduk tanpa suara. Pandangannya jatuh tepat di atas wajah meja
kami. “Kamu kenapa? Ada masalah? Kita bisa pulang kalau kamu lagi ada masalah,”
saya mengulangi.
Lalu tiba-tiba emosinya
meledak. Persis sama seperti Lucky yang saya kenal. Yang akhirnya saya
tinggalkan karena alasan selalu banyak marah. Bayangkan, bagaimana rasanya jadi
saya? Benar. Tidak ada satu pun yang berubah darinya. Tidak ada. Dan saya
semakin membenci hari ini karena jauh sebelum hari ini, saya mengira, ada yang
lebih baik dari dalam diri Lucky setelah saya tiada.
Saya, yang
sekarang hanya seorang kawannya, kembali harus berusaha menjadi air bagi api.
Harus mengalah. Sabar. Walaupun hati saya rasanya panas sekali mendengar
komentar seperti itu, tapi ini bukan waktu yang tepat jika harus berdebat
dengan nada yang sama tinggi. “Ada yang salah dengan pergaulan aku sekarang?”
Kemudian saya memperkarakan apa yang menjadi alasannya marah meledak-ledak.
Lucky bilang, ia membenci cara saya bergaul. Saya bingung.
Pertemuan yang
awalnya baik-baik saja, diniatkan untuk hal yang juga baik malah jadi
berantakan hanya karena tubuh yang emosi. Masih temperament dan berapi-api.
Masih sama persis. Seperti bertahun-tahun lalu, ketika saya selalu mengambil
peran sebagai pengalah dan peredam emosi. Bertahun-tahun. Bayangkan bagaimana
lelahnya saya kemarin. Dan bagaimana sulitnya jadi diri saya yang harus
pontang-panting menahan marah di depan orang yang sedang memarahi saya sesuka
hatinya.
Bolak balik saya
memperhatikan matanya dan masih belum menemukan ada ketenangan di dalamnya. Dia
seolah masih ingin mencari pembenaran atas pendapatnya tadi. Saya tidak melihat
sikap itu semakin parah, tapi juga tidak hilang. Hari ini saya masih menemukannya.
Dan jujur, saya kembali pada kekecewaan saya dulu. Saya akhirnya kembali
kecewa.
“Cukupkanlah
orang lain mendapati kamu dengan kata-kata yang baik-baik saja, dengan sikap
yang baik-baik saja. Aku sedang susah payah membuat pertemuan ini menjadi
pertemuan yang berharga lagi. Jadi, kalaupun ini menjadi pertemuan yang paling
terakhir bagi kita, aku akan memastikan sekarang, bahwa kali ini semua yang
tertinggal benar-benar sudah selesai,” saya memulainya.
Saya tetap
memperhatikannya, gerak-geriknya, matanya, pandangannya ke arah mana ia
jatuhkan. Dulu, di matanya ada cinta untuk saya. Pandangannya memiliki makna
yang berat setiap melihat saya. Sekarang semuanya kosong. Mungkin begitu juga
dengan saya. Kadang saya tersenyum dalam hati. Sesekali menyesali mengapa kami
harus berpisah dan tidak kembali lagi. Tetapi kadang saya bersyukur, sangat
berterima kasih kepada Tuhan yang mampu memisahkan kami bukan dengan hal-hal
yang buruk seperti hadirnya orang ketiga, perselingkuhan, atau hancurnya
kepercayaan.
Terlebih karena
saya adalah seorang yang rumit, penuh pertimbangan, dan terpaku pada
aturan-aturan logis, walaupun kadang saya emosional dan mengikuti perasaan,
tapi saya seorang yang sangat lambat ketika harus mengambil keputusan. Saya
lebih senang dibilang menggantungkan masalah padahal sebenernya saya
mempertimbangkan masalah itu dengan waktu lama. Begitulah yang terjadi dengan
saya dan dia.
Ketika saya
merasa, hubungan yang saya miliki dengannya sudah tidak bisa berjalan dengan
baik, saya tidak langsung memutuskan ini. Ada waktu sekitar hampir satu tahun
untuk menimbang keputusan ini. Saya pertimbangkan betul baik buruknya jika kami
bersama, dan jika kami berpisah. Saya perhitungkan seberapa sakitnya dan tidak
mampunya saya lepas dari orang yang berarti bagi saya. Juga saya harus
menegarkan hati, jika suatu hari nanti saya atau dia bertemu dengan orang yang
baru yang menjadi teman hidup masing-masing. Pertimbangan-pertimbangan seperti
itu yang membuat keputusan ini adalah keputusan yang sudah dipikirkan
baik-buruknya.
Kami berdua
berbincang penuh arti. Sampai malam datang, seolah waktu tidak pernah cukup
untuk mengendalikan keinginan kami untuk tetap bersama-sama. Hingga selesai
semua, hingga kami merasa cukup waktu untuk meninggalkan semua. Kami berdua
berjalan meninggalkan tempat yang menjadi tempat terakhir kami bertemu. Mungkin
untuk selamanya. Ya, setelah hari ini, kami sepakat untuk tidak lagi berjanji
membuat pertemuan. Sepakat untuk tidak perlu lagi bersilaturrahmi seperti
sebelumnya. Bukan karena penuh benci, tetapi karena khawatir, kami berdua akan
segampang itu untuk luluh kembali.
Hari ini adalah
pertempuran hati yang hebat. Kami berdua harus membangkitkan lagi
ingatan-ingatan tentang perjalanan kami dulu pada saat kami bertemu lagi,
kemudian harus membunuhnya kembali ketika kami bersiap untuk pulang ke rumah
kami masing-masing. Sebenarnya kami berdua masih tidak ingin lepas. Rasanya
ingin selalu seperti ini. Tetapi tidak bisa. Di jalan menuju arah pulang saya
merasa menjadi mantan yang paling beruntung memiliki pernah memilikinya.
“Buat kamu,
pintu itu emang harus ditutup ekstra kencang. Karena kalau nggak kencang, bakal
kebuka lagi-kebuka lagi. Tapi kamu tidak perlu khawatir, walaupun kita bukan
siapa-siapa, aku akan menjadi orang pertama yang bergetar kalau harus denger
suara kamu lagi. Aku orang pertama yang berkaca-kaca kalau harus lihat senyum
kamu lagi, dan aku akan jadi orang pertama yang menangis kalau aku tahu kamu
terluka. Aku adalah orang pertama yang mengagumimu, aku adalah orang pertama
yang jatuh cinta sama kamu, dan aku, adalah orang pertama yang akan selalu
sayang sama kamu. Tidak ada yang berkurang dari aku.”
Obrolan terakhir
saya berhenti pada jawabannya. Sepanjang jalan kami berdua seperti lilin yang
habis dimakan panasnya api. Kami tidak berdaya. Sampai akhir, sebelum kami
benar-benar berpisah, ia mengatakan hal yang ingin sekali saya dengar selama
ini. Lalu seterusnya saya akan percaya, bahwa ia akan selalu menjadi orang yang
pertama bagi segalanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar