Kamis, 05 Juli 2012

Waktu Melepaskan


Pagi yang hampir habis itu saya buka dengan membaca pesan pendek dari Lucky. Kebetulan saya baru bangun tidur, tetapi saya tahu, pesan itu dikirim pukul 7:49 pagi. Kebetulan juga saya ingat, detik-detik itu, di rumah Lucky adalah detik-detik kekosongan bagi seisi rumah. Mama-Papa pergi kerja, Dilla dan Alya pergi sekolah. Tinggal Lucky di rumah, sendiri. Jadi, mungkin ia kesepian atau sekedar sedang mengingat.

Juga tentang hari ini yang menjadi hari kesekian kami saling membeku, tidak menyapa, dan mencoba untuk saling melupakan. Sebenarnya, jika perpisahan yang lalu adalah luka, saya tidak ingin lagi mengingat bagaimana lukanya. Tidak ingin mencari tahu, apakah rasa sakitnya masih ada atau sudah berlalu. Makanya saya masih bisa tersenyum pagi ini tanpa berharap bahwa ia akan tetap sama seperti ia yang dulu. Seperti saat kami masih bisa saling merindu.

Saat sedang menunggu, saya sempat bertelepon dalam jeda, dengan sahabat yang begitu mengenal saya. Saya menceritakan keterkejutan saya pagi tadi, lalu sahabat saya bilang, suara saya seperti suara orang yang sedang berbahagia. “Oh ya? :’)”

Tiba waktunya, kami bertemu. Setelah berapa lama kami tidak saling menyapa, mengirim kabar, bercerita, lalu tiba-tiba harus bertemu lagi, di ruang sempit dan hanya berdua itu rasanya amburadul. Kadang beberapa detik saya dibawa lari ke masa-masa yang sudah menjadi kenangan. Kadang detik berikutnya saya ingin waktu berhenti di sini saja. Tidak perlu berjalan. Tetapi saya coba untuk menikmati semuanya. Saya coba mengerti, memang begitulah hati. Tidak ada yang bisa memprediksi sama sekali. Saya juga sambil komat-kamit dalam hati, “nggak boleh lagi tahu hal-hal pribadinya. Nggak boleh.”

Duh, kalau aja siang itu saya bisa teriak sekencang-kencangnya di dalam mobil, saya akan lakukan. Mood saya mulai kacau. Naik turun seperti roller coaster. Kencang! Dan aneh. Tapi saya tetap diam. Saya diam, ia lebih diam lagi. Sampai di suatu tempat, yang menjadi tujuan kami.

Sampai detik itu, ia tidak memuntahkan satu patah kata pun dari bibirnya yang tipis itu. Bibir yang pernah menjadi favorite saya bertahun-tahun.  “Kenapa? Kamu nggak suka makan di sini? Kita pindah aja kalau kamu nggak suka,” saya mencoba mencari tahu, ada apa dengan suasana hatinya yang tiba-tiba menjadi datar. Saya mengamatinya dengan baik. Dia hanya menunduk tanpa suara. Pandangannya jatuh tepat di atas wajah meja kami. “Kamu kenapa? Ada masalah? Kita bisa pulang kalau kamu lagi ada masalah,” saya mengulangi.

Lalu tiba-tiba emosinya meledak. Persis sama seperti Lucky yang saya kenal. Yang akhirnya saya tinggalkan karena alasan selalu banyak marah. Bayangkan, bagaimana rasanya jadi saya? Benar. Tidak ada satu pun yang berubah darinya. Tidak ada. Dan saya semakin membenci hari ini karena jauh sebelum hari ini, saya mengira, ada yang lebih baik dari dalam diri Lucky setelah saya tiada.

Saya, yang sekarang hanya seorang kawannya, kembali harus berusaha menjadi air bagi api. Harus mengalah. Sabar. Walaupun hati saya rasanya panas sekali mendengar komentar seperti itu, tapi ini bukan waktu yang tepat jika harus berdebat dengan nada yang sama tinggi. “Ada yang salah dengan pergaulan aku sekarang?” Kemudian saya memperkarakan apa yang menjadi alasannya marah meledak-ledak. Lucky bilang, ia membenci cara saya bergaul. Saya bingung.

Pertemuan yang awalnya baik-baik saja, diniatkan untuk hal yang juga baik malah jadi berantakan hanya karena tubuh yang emosi. Masih temperament dan berapi-api. Masih sama persis. Seperti bertahun-tahun lalu, ketika saya selalu mengambil peran sebagai pengalah dan peredam emosi. Bertahun-tahun. Bayangkan bagaimana lelahnya saya kemarin. Dan bagaimana sulitnya jadi diri saya yang harus pontang-panting menahan marah di depan orang yang sedang memarahi saya sesuka hatinya.

Bolak balik saya memperhatikan matanya dan masih belum menemukan ada ketenangan di dalamnya. Dia seolah masih ingin mencari pembenaran atas pendapatnya tadi. Saya tidak melihat sikap itu semakin parah, tapi juga tidak hilang. Hari ini saya masih menemukannya. Dan jujur, saya kembali pada kekecewaan saya dulu. Saya akhirnya kembali kecewa.

“Cukupkanlah orang lain mendapati kamu dengan kata-kata yang baik-baik saja, dengan sikap yang baik-baik saja. Aku sedang susah payah membuat pertemuan ini menjadi pertemuan yang berharga lagi. Jadi, kalaupun ini menjadi pertemuan yang paling terakhir bagi kita, aku akan memastikan sekarang, bahwa kali ini semua yang tertinggal benar-benar sudah selesai,” saya memulainya.

Saya tetap memperhatikannya, gerak-geriknya, matanya, pandangannya ke arah mana ia jatuhkan. Dulu, di matanya ada cinta untuk saya. Pandangannya memiliki makna yang berat setiap melihat saya. Sekarang semuanya kosong. Mungkin begitu juga dengan saya. Kadang saya tersenyum dalam hati. Sesekali menyesali mengapa kami harus berpisah dan tidak kembali lagi. Tetapi kadang saya bersyukur, sangat berterima kasih kepada Tuhan yang mampu memisahkan kami bukan dengan hal-hal yang buruk seperti hadirnya orang ketiga, perselingkuhan, atau hancurnya kepercayaan.

Terlebih karena saya adalah seorang yang rumit, penuh pertimbangan, dan terpaku pada aturan-aturan logis, walaupun kadang saya emosional dan mengikuti perasaan, tapi saya seorang yang sangat lambat ketika harus mengambil keputusan. Saya lebih senang dibilang menggantungkan masalah padahal sebenernya saya mempertimbangkan masalah itu dengan waktu lama. Begitulah yang terjadi dengan saya dan dia.

Ketika saya merasa, hubungan yang saya miliki dengannya sudah tidak bisa berjalan dengan baik, saya tidak langsung memutuskan ini. Ada waktu sekitar hampir satu tahun untuk menimbang keputusan ini. Saya pertimbangkan betul baik buruknya jika kami bersama, dan jika kami berpisah. Saya perhitungkan seberapa sakitnya dan tidak mampunya saya lepas dari orang yang berarti bagi saya. Juga saya harus menegarkan hati, jika suatu hari nanti saya atau dia bertemu dengan orang yang baru yang menjadi teman hidup masing-masing. Pertimbangan-pertimbangan seperti itu yang membuat keputusan ini adalah keputusan yang sudah dipikirkan baik-buruknya.

Kami berdua berbincang penuh arti. Sampai malam datang, seolah waktu tidak pernah cukup untuk mengendalikan keinginan kami untuk tetap bersama-sama. Hingga selesai semua, hingga kami merasa cukup waktu untuk meninggalkan semua. Kami berdua berjalan meninggalkan tempat yang menjadi tempat terakhir kami bertemu. Mungkin untuk selamanya. Ya, setelah hari ini, kami sepakat untuk tidak lagi berjanji membuat pertemuan. Sepakat untuk tidak perlu lagi bersilaturrahmi seperti sebelumnya. Bukan karena penuh benci, tetapi karena khawatir, kami berdua akan segampang itu untuk luluh kembali.

Hari ini adalah pertempuran hati yang hebat. Kami berdua harus membangkitkan lagi ingatan-ingatan tentang perjalanan kami dulu pada saat kami bertemu lagi, kemudian harus membunuhnya kembali ketika kami bersiap untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Sebenarnya kami berdua masih tidak ingin lepas. Rasanya ingin selalu seperti ini. Tetapi tidak bisa. Di jalan menuju arah pulang saya merasa menjadi mantan yang paling beruntung memiliki pernah memilikinya.

“Buat kamu, pintu itu emang harus ditutup ekstra kencang. Karena kalau nggak kencang, bakal kebuka lagi-kebuka lagi. Tapi kamu tidak perlu khawatir, walaupun kita bukan siapa-siapa, aku akan menjadi orang pertama yang bergetar kalau harus denger suara kamu lagi. Aku orang pertama yang berkaca-kaca kalau harus lihat senyum kamu lagi, dan aku akan jadi orang pertama yang menangis kalau aku tahu kamu terluka. Aku adalah orang pertama yang mengagumimu, aku adalah orang pertama yang jatuh cinta sama kamu, dan aku, adalah orang pertama yang akan selalu sayang sama kamu. Tidak ada yang berkurang dari aku.”

Obrolan terakhir saya berhenti pada jawabannya. Sepanjang jalan kami berdua seperti lilin yang habis dimakan panasnya api. Kami tidak berdaya. Sampai akhir, sebelum kami benar-benar berpisah, ia mengatakan hal yang ingin sekali saya dengar selama ini. Lalu seterusnya saya akan percaya, bahwa ia akan selalu menjadi orang yang pertama bagi segalanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar