Jam
satu dini hari, lebih tiga puluh enam menit. Sudah tengah malam, tiba-tiba, pikiran
saya terbang bebas. Membayangkan malaikat tak bersayap. Sama dengan kalian,
saya pun (pernah) memilikinya. Ia menjadi takdir yang tidak bisa saya hindari. Dan kali
ini, saya merindukannya, dalam.
Ia
hadir di setiap pagi dan malam yang saya lewati. Pagi hari, ia datang dengan
ucapan sapaan hangat, ala matahari. “Selamat pagi, kesayanganku. Bangun. :)
Jam berapa aku jemput?” sapanya. Setiap pagi. Ia membuktikan kesetiaannya
selama bertahun-tahun untuk menemani hari-hari saya sepagi mungkin. Sampai saya
yakin, setiap pagi ia membuka mata, ia pasti mengingat saya dan ingin segera menyapa.
Kecuali ketika ia sedang marah. Saya memakluminya, ia bukan makhluk yang tidak
bisa marah.
“Jangan
tidur malam-malam, kesayanganku. I love you.” Sebelum melepaskan malam ia
selalu memberikan salam yang menyenangkan. Saya seperti tuan putri yang selalu
ada dalam perlindungannya. Selalu merasa aman di dalam kasihnya. Sampai suatu
hari nanti, jika saya harus menyebutkan satu sifat malaikat, saya akan katakan,
malaikat itu penyayang. Dari mana saya tahu? Darinya.
Ia
selalu membawa saya terbang bersama mimpi-mimpinya. “Kamu adalah mimpi dalam
masa depanku,” ucapan yang menjadi janji yang selalu saya tunggu untuk
ditepatinya. Itu mimpinya, juga mimpi saya. Itu adalah mimpi kita berdua. Mimpi
itu menerbangkan saya jauh ke awan. Tinggi hingga beribu-ribu hasta, dan tidak
satupun dapat menghitungnya lagi. Ketika saya berada di tengah mimpi itu, malah
saya tidak ingin bangun lagi. Saya takut, ketika nanti saya bangun, kenyataan saya
tidak seindah mimpi-mimpi kita selama ini.
“Kamu
jangan capek-capek. Aku nggak suka liat kamu cemberut. Kamu kan gitu, kalau
capek, pasti marah terus cemberut.” Duh, ia selalu membuat saya tersipu. Pandai
membuat saya malu karena kesalahan saya sendiri. Tetapi ia istimewa, tidak
pernah balik memarahi saya dalam keadaan saya lelah. Ia selalu mengerti, saya
adalah seseorang yang ingin selalu ia pahami. Ia pembasuh lelah ketika saya
harus bergulat dengan rumitnya hari.
Ia
memiliki cinta yang tak ada habisnya. Saya selalu dibuat kenyang menikmati
cintanya. Berkelanjutan, dan ternyata, saya membutuhkannya. Cintanya,
menghabiskan semua kehampaan yang ada di dunia ini. Satu hal yang pasti
darinya, ia tidak pernah membiarkan saya sendirian. Sejauh apapun saya
melangkah, ia akan memastikan, di sampingmu adalah tempat yang selalu menjadi
tujuanku. Persis seperti kata-katanya dulu. Saya sendiri bingung, bagaimana
bisa saya menggantikan lelahnya karena ia selalu menjaga saya, menyenangkan,
dan memuji saya. Dari mana lagi saya harus mencari cara untuk membuatnya tetap
ada di sini. Ya, dialah impian saya, malaikat sempurna yang tidak bersayap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar