Sabtu, 17 Maret 2012

Untuk Wika Ayu Lestari

Diantara sunyi pagi ini, saya coba menyatukan kata-kata yang mungkin tidak akan saya sampaikan langsung ke hadapanmu. Mungkin bagi kamu, menulis surat untukmu sangat aneh. Tapi, inilah cara saya mengirimkan sebentuk doa. Dari kejauhan, dan dengan sembunyi-sembunyi di balik rasa angkuh, saya ucapkan selamat berulang tahun.

Hari ini adalah hari jadimu, hari kelahiranmu dan tentunya, kamu pasti sangat bahagia tiap kali mengulang hari ini. Tetapi hari ini pun, hari milik saya dan kebahagiaanmu, yang kali ini mendampingimu setulus-tulusnya. Kamu sendiri pasti tahu, seorang yang ikut berbahagia denganmu, dahulu menjadi satu-satunya tempat saya mencurahkan segala rasa. Di bahunya dulu saya pernah bersandar. Lalu kita rebah bersama membangun mimpi-mimpi yang nyaris sempurna. Melipat kejauhan menjadi sejengkal jarak. Menari-nari di atas ombak yang kala itu perahunya sedang kita dayung bersama. Saya pernah jatuh bersama dengannya. Saya juga pernah jatuh sedang dia tetap di perah kita. Pun sebaliknya. Dia pernah jatuh, lalu saya membantunya untuk kembali ketempatnya semula. Tempat yang menjadi kerajaannya.

Demi seorang yang sedang berbahagia di hari jadimu. Saya menggantungkan baju pelindung serupa akhiran nama untukmu. Apa yang dulu saya kenakan, kini kamu kenakan juga. Apa yang dulu saya miliki, sekarang kamu miliki juga. Dihari ulang tahunmu, semua yang pernah berada ditempat saya, saya pindahkan.  Apa-apa yang dulu sulit saya lepaskan, hari ini saya tinggalkan. Bukan semata untukmu, tetapi untuknya.

Yang saya panjatkan pagi ini adalah doa semoga kamu tidak pernah menyakitinya. Saya memilih hari ini menjadi hari saya mengikhlaskannya sebab di hari yang sama, saya dan seorang yang kini disampingmu pernah sama-sama berbahagia untuk untuk saya, tetapi saya menyakitinya. Tolong jangan pernah mengulangi itu. Dan bahagiakannya.

Sebab dahulu, saya tidak sempat melakukan untuknya. Mungkin dulu saya lupa, atau malah saya tidak tahu. Dulu saya menyakitinya hingga dia meregang. Dan maaf, sekarang itu menjadi tugasmu; untuk mengobati lukanya sekaligus menghilangkan bekas-bekasnya. Kepada, wanita yang tidak saya ketahui isi hatinya, saya titipkan doa, bahagia, sekaligus cinta yang selamanya. Saya berikan seluruhnya, seutuhnya.

1 komentar: