Sabtu, 17 Maret 2012

DIA – Maliq & D’Essentials


“… Dia tunjukkan dengan tulus cintanya, terasa berbeda saat bersamanya. Aku jatuh cinta. Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta. Hingga dia disini memberi cintaku harapan…”

Lagu ini, pertama kali saya dengar dari Lucky. Dia mengenalkannya ketika lagu itu benar-benar baru keluar. “Lagu ini aku banget,” katanya. Saya lalu mendengarkan. Karena saya tidak begitu suka Maliq, apresiasi saya hanya karena lagu itu diminta Lucky untuk di dengar. “Bagus, bagian mana dari liriknya yang kamu banget?” Lalu saya bertanya, dan tidak berapa lama saya mendengar Lucky menjawab, semuanya.

Satu tahun, dua tahun, lima tahun, dari pertama kali saya mendengar lagu itu, itulah lagu pertama Maliq yang saya hapal. Dan selamanya akan saya hapal. Hari ini, 17 Maret, tepat empat tahun dari saya pertama kali mendengar lagu itu, saya baru membaca benar-benar liriknya. Rasanya berbeda dengan pertama kali saya mendengarnya. Kali ini, saya menyelami kata demi kata justeru ketika Lucky sudah tidak ada. Ketika Lucky sudah bersama dengan yang lain. Menyesal? Tentu tidak. Saya hanya merasa, dahulu saya memiliki seorang yang benar-benar merasa sempurna karena saya berada di sampingnya.

Tanggal ini, seharusnya kita berulang tahun. Merayakan perjalanan yang tidak mudah. Menundukan ego masing-masing dan menyelamatkan hubungan. Tetapi sebaliknya, hari ini, kita sudah terlanjur memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Kamu dengan hidupmu. Saya dengan hidup saya. Tetapi masih lekat dalam ingatan, betapa dulu, sepanjang saya denganmu, saya tidak pernah peduli dengan hari dan tanggal ini. Lucky, maafkan atas hal itu, tetapi saya bahagia. Saya dan kamu sempat menjadi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar