“… Dia tunjukkan dengan tulus cintanya, terasa berbeda saat bersamanya. Aku jatuh cinta. Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta. Hingga dia disini memberi cintaku harapan…”
Lagu ini,
pertama kali saya dengar dari Lucky. Dia mengenalkannya ketika lagu itu benar-benar
baru keluar. “Lagu ini aku banget,” katanya. Saya lalu mendengarkan. Karena saya
tidak begitu suka Maliq, apresiasi saya hanya karena lagu itu diminta Lucky
untuk di dengar. “Bagus, bagian mana dari liriknya yang kamu banget?” Lalu saya
bertanya, dan tidak berapa lama saya mendengar Lucky menjawab, semuanya.
Satu tahun, dua
tahun, lima tahun, dari pertama kali saya mendengar lagu itu, itulah lagu
pertama Maliq yang saya hapal. Dan selamanya akan saya hapal. Hari ini, 17
Maret, tepat empat tahun dari saya pertama kali mendengar lagu itu, saya baru
membaca benar-benar liriknya. Rasanya berbeda dengan pertama kali saya
mendengarnya. Kali ini, saya menyelami kata demi kata justeru ketika Lucky
sudah tidak ada. Ketika Lucky sudah bersama dengan yang lain. Menyesal? Tentu
tidak. Saya hanya merasa, dahulu saya memiliki seorang yang benar-benar merasa
sempurna karena saya berada di sampingnya.
Tanggal ini,
seharusnya kita berulang tahun. Merayakan perjalanan yang tidak mudah.
Menundukan ego masing-masing dan menyelamatkan hubungan. Tetapi sebaliknya,
hari ini, kita sudah terlanjur memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Kamu
dengan hidupmu. Saya dengan hidup saya. Tetapi masih lekat dalam ingatan,
betapa dulu, sepanjang saya denganmu, saya tidak pernah peduli dengan hari dan
tanggal ini. Lucky, maafkan atas hal itu, tetapi saya bahagia. Saya dan kamu
sempat menjadi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar