Rabu, 01 Januari 2014

Resolusi, Yay or Nay?

Nay! Kenapa? Setelah hari-hari yang dilewati semakin berarna, cerah, kelabu, shocking, soft, dan berbagai kelompok warna lainnya, akhirnya saya mengerti, hidup takkan lagi semudah ekspektasi dan resolusi. Makanya semakin tua, semakin saya mendengar, “sudah lah, nggak usah berharap banyak.” Yang terkadang bikin kita jadi jalan di tempat. Tetapi, beban rasanya hilang. Terutama karena tidak berekspektasi tinggi terhadap apapun dari siapapun.

Sebelumnya, saya dalah orang yang selalu rumit dengan target. Short term maupun long term. Setting short term target, lalu temple di dinding. Fokus, tandai. Kalau tidak tercapai? Nyaris down. Nyaris. Atau perihal long term target, belum sampai waktunya jatuh tempo, saya sudah stress, “akan tercapai nggak ya?” Selalu begitu. Makanya hampir tidak ada waktu memikirkan pasangan karena hal itu tidak termasuk dalam short target, dan kalau bisa memang jangan dulu. Saya masih mau kerja gila-gilaan. Begitu alibinya setiap kali ditanya kenapa saya masih sendiri.

Rasanya, mulai hari ini saya ingin menjalani hidup lebih apa adanya. Alasannya karena beberapa sudah tercapai, beberapa mundur, dan beberapa mengalami perubahan prioritas seiring berubhnya waktu dan usia. Tahun ini, mudah-mudahan tidak sekedar wacana, saya ingin menjadikan tahun yang sangat fleksibel. Dinamis, tidak lagi statis seperti tahun sebelumnya.

Bahasa yang sangat klasik memang, kalau tidak mau kecewa, jangan pernah berharap apa-apa. Ada benarnya, berharaplah pada hal-hal yang sudah pasti saja. Tetapi, di waktu yang lain, bahasa klasik itu di bantah oleh seorang Bong Chandra. “Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah kita menangkan,” katanya. Jadi, bagaimana? Harus kembali bahwa kita harus membuat list pertaruhan hidup seperti saya kemarin? Atau memegang teguh bercandaan seorang teman yang hampir basi. “Kamu jangan lupa bahagia ya, nanti matik.”

Toh hidup ujung-ujungnya apa sih, kalau bukan untuk bahagia? Lahir dan batin. In sha Allah kalau bisa malah di dunia dan akhirat. Yang jadi pertanyaan, mungkin nggak, kebahagiaan yang akan menjadi milik kita, bisa kita raih tanpa target? Jadi, resolusi bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar