Hai, laki-laki penikmat kopi hitam. Terima kasih untuk sajak pada halaman ‘Sajak Sepeda Malam’ yang kamu tujukan pada saya. Saya kutip seluruh kata-kata, kemudian hening karena tidak tahu harus bicara apa. Dan inilah, dari Mas Ipang, begitu saya biasa memanggilnya.
aku menyukai
kebersamaan-kebersamaan kita
aku menyukai
lampu-lampu jalan
juga suara gaduh
yang datang dari pengendara motor yang kebut-kebutan
aku menyukai
saat tukang sate padang datang menghatarkan pesananku
waktu itu kamu
duduk di sampingku.
aku menyukai
banyak hal
apa-apa yang
kita obrolkan
perkara-perkara
yang membuat dahimu berkerut
kadang aku ingin
memintamu untuk tidak banyak berfikir, tapi aku urung.
bila aku bisa
mendengar detak langkahmu
sedang detak
langkahku sendiri tidak mampu aku dengar
percayalah aku
sedang melebur dalam lamunan
melamunkan kamu
yang terlalu cerewet dan tiada henti bertanya. rupa-rupa.
aku menyukai
saat kita diam
saat kamu sibuk
mematut-matutkan wajahmu ke layar ponsel
dan aku
pura-pura serius menghitung jumlah puntung rokok yang tersebar
aku menyukai
saat itu. saat aku bisa diam-diam mencuri pandang pada ujung rambutmu yang
ikal.
aku menyukai
saat kamu panik ketika ada segerombolan pengamen waria yang datang
lekas-lekas kamu
memintaku mengeluarkan berapapun uang yang aku punya supaya mereka lekas pergi
ketika kita
diam, aku diam-diam mendoakan waria-waria itu datang lagi
saat itu aku
akan pura-pura tak melihat, tak menggubris sampai kamu gemas dan menarik ujung
kemejaku. saat itu aku pasti tertawa–memasktikan kamu bingung dan tertawa
kemudian. kita.
Mas Ipang, saya
hampir larut membaca puasimu. Berkaca-kaca karena kamu banyak berdoa diam-diam.
Terlebih karena kamu menyukai tiap-tipa kebersamaan kita. Maaf, hari itu aku
datang terlambat dan membuatmu menunggu terlalu lama. Oh iya, jika setelah
membaca ini, kamu menganggap bahwa ini merupakan balasan, saya saya tidak
setuju. Sebab tidak akan ada balasan yang pantas dari seorang saya yang tidak
jago membuat puisi untuk membalas kata-katamu.
Malam itu,
sebenarnya, waktu sudah berteriak-teriak meminta saya berhenti menghadap layar
sekian belas inchi. Bagian dari tubuh saya juga begitu. Meminta saya merebahkan
seluruh badan. Pinggang malam itu rasanya sudah panas, seperti disiram air yang
baru saja mendidih. Jari-jari tangan apalagi, rasanya sudah tidak karuan.
Jangankan untuk mengetik beberapa bait kata, untuk say hello di linimasa pun
rasanya sudah tak bisa. Apalagi? Mata? Hati? Sudah-sudah. Semuanya sudah pada
puncak kelelahannya.
Saya matikan
kotak hitam yang menjadi jendela dunia di kamar saya. Saya gerakkan pointer
menuju start-shut down lalu melipatnya. Rapi, di tempatnya. Benda ini sudah
mati, sekarang, saatnya saya yang mematikan sementara proses kehidupan ini.
Merebahkan badan. Harapannya, bisa langsung tidur pas tengah malam itu juga.
Tidak lagi tergoda bunyi kentrang-kentring Backberry, atau bunyi cetak-cetuk
mention yang masuk.
Tetapi, kamu
meminta lain. Saya yang sudah siap tidur, diminta untuk kembali menyalakan
laptop yang sudah mati dari tadi. “Coba dilihat, barusan aku share link sesuatu
di twitter.” Pertanyaan pertama yang muncul adalah, apakah ini perintah, atau …
“Laptop baru
saja mati, Mas. Aku sudah mau tidur,” saya membalas dalam pesan blackberry
malam itu. Kamu, lagi-lagi mengeluarkan khasmu yang hanya sepatah-patah kata.
Hah-hih! Hah-hih! di blackberry messenger.
Kali ini sudah
tanpa terpaksa, tetapi penasaran. Kamu, yang seisi kepalamu penuh dengan
hal-hal yang tidak banyak saya tahu, biasanya memberikan kejutan-kejutan
informasi yang membuat saya berusaha menghabiskan satu buku-minimal untuk
sekedar menyamai pengetahuanku denganmu. Walaupun selalu gagal, malam itu saya
penasaran. Link tentang novel yang bagus atau KUHAP dan KUHP, dalam hati saya.
Ternyata bukan.
Sesuatu yang manisdari Mas Ipang itu sedang saya baca, ternyata. Butuh waktu
beberapa menit untuk menyadari bahwa ‘kamu’ yang ada di dalam tulisan itu
adalah saya. Saya membacanya sekali lagi. Berusaha menyelami kata demi kata
yang tampaknya cetek, tapi ternyata dalam.
Mas Ipang, malam
itu, saya menikmati, apa-apa yang kamu sajikan. Cerita yang hangat, lengkap dan
penuh teka-teki. Yang membuat saya bolak-balik mencari kebenaran atas apa-apa
yang kamu ceritakan. Isi kepalamu, serupa buku tanpa sampul dan tanpa halaman.
Hanya berisi kata-kata yang begitu ingin saya baca.
Saya juga
menikmati minuman-minuman yang kamu pesan malam itu, yang pada akhirnya saya
minum juga. Dua minum yang berbeda untuk menemanimu bercerita. Dan buku-buku
yang kamu bawa. Yang kamu bacakan, yang kamu rekomendasikan. Seperti biasa.
Saya juga menikmati saat-saat di mana asap rokok yang saya benci menjadi teman
karena kamu yang membakarnya.
Ceritamu yang
tidak habis-habis, dan pertanyaan saya yang beruntun terus menerus, membuat
satu jam-dua jam tidak pernah cukup untuk kita. Saya membenci waktu ketika saya
mulai gelisah memperhatikan jarum jam di tangan saya sendiri. Saya benci ketika
saya tahu, saya harus pulang. Saya benci, ketika saya harus menghentikan
percakapan yang dibuka oleh sate padang itu. Saya juga (sebenarnya) benci,
ketika harus berjalan sampai di depan rumah sendiri.
Jika kamu
menyukai kebersamaan-kebersamaan kita, maka saya sangat menyukai ketika kamu
meleburkan diri dalam lamunan untuk sekedar melamunkan diri saya yang terlalu
banyak bicara dan tidak henti bertanya. Dan jika kamu, sekali lagi, jika kamu
menyukai kebersamaan-kebersamaan kita, maka saya membenci perpisahan yang kita
buat sendiri dari pertemuan-pertemuan lagi.
Tertanda, aku.
Seseorang yang terus penasaran, bagaimana sih sebenarnya kamu kepada saya? Selalu menyenangkan, selalu membawakan apa yang saya suka. Pernah datang pukul empat pagi hanya untuk menemui saya. Tetapi, kamu tidak pernah mengatakan apa-apa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar