Minggu, 10 Juni 2012

Selamat Tinggal


Sungguh, kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi di depan sana. Dua tahun sudah berlalu, tetapi, sepertinya kamu tetap ada di sini. Di relung yang dalamnya tidak pernah terukur. Sejak saya memutuskan berlalu, dan memilih mencari penggantimu, sebenarnya, saat itu saya sedang menipu diri saya sendiri.

Waktu itu, saya sangat terpaksa memalingkan wajah karena saya tahu, di matamu, saya sudah tidak ada. Waktu itu juga, dengan sangat tidak rela, saya tetap menutup pintu untuk kamu, padahal saya tahu, hati saya masih berharap suatu saat kamu akan melewati pintu itu lagi. Kamu memang melewatinya, dan saya yang dengan kasar, mengusirmu agar segera berlalu dari sana.

Lucky, kita berdua tahu, betapa sulitnya berjalan berdua dengan banyak rasa curiga, tidak percaya. Terutama kamu, kamu sangat insecure. Bukan sebentar kita menjual kebahagiaan untuk hanya sekedar meyakinkan kita berdua, bahwa di tangan kita berdua akan baik-baik saja.

Melewati semua yang tidak mudah denganmu adalah bangku sekolah yang sangat mahal. Dengan tingkat yang kita ciptakan sendiri tahun demi tahun. Empat tahun bersama, kita berubah dari yang tadinya masih anak-anak menjadi dua orang yang sedang belajar dewasa. Sifat dan sikapmu yang bening membuatku berkaca, bahwa sabar itu tidak pernah berbatas. Kasih sayang dan caramu melayani serupa daun yang lembut jatuh tepat di tubuhku. Melihatkan pada dahan-dahan, bahwa daun yang jatuh, mampu membuat angin merasa sempurna.

Namun pada akhirnya, kita berdua menyerah pada keadaan yang sama-sama kita takutkan. Kita berdua kehausan karena lelah. Lalu, kita harus menyerah untuk sekedar melepaskan dahaga yang panjang. Saya dan kamu tahu, dahaga itu hanya butuh dibasuh oleh kepercayaan kita sendiri. Lucky, sampai hari ini saya masih membayangkan. Seandainya saja, kejadian-kejadian bodoh masa lalu itu tidak pernah terjadi, mungkin kita sudah sampai pada tujuan kita berdua. Seandainya saya dan kamu tidak teranjur membenci, seandainya kita tidak terlanjur saling menyerang.

Di bulan yang seharusnya menjadi milik kita berdua, saya berharap, semoga kita bisa saling melepaskan diri dan menerima. Saya mendoakanmu selalu dilimpahkan kebaikan, usia yang panjang, dan kehidupan yang berbahagia. Saya berjanji, jika nanti kita bertemu lagi, saya tidak akan pernah mengingat-ingat doa-doa lain sebelum hari ini. Dan jika waktu yang tidak sengaja nanti mempertemukan kita, akan saya kenalkan kepadamu, pendamping hidup saya yang begitu saya cintai. Selamat jalan Lucky. Bahagia hidup kita ternyata milik semua orang. Bukan milik kita berdua. Baik-baik menjalani semuanya ya. Ini bagian paling terakhir dari saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar