Sungguh, kita
tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi di depan sana. Dua tahun
sudah berlalu, tetapi, sepertinya kamu tetap ada di sini. Di relung yang
dalamnya tidak pernah terukur. Sejak saya memutuskan berlalu, dan memilih
mencari penggantimu, sebenarnya, saat itu saya sedang menipu diri saya sendiri.
Waktu itu, saya
sangat terpaksa memalingkan wajah karena saya tahu, di matamu, saya sudah tidak
ada. Waktu itu juga, dengan sangat tidak rela, saya tetap menutup pintu untuk
kamu, padahal saya tahu, hati saya masih berharap suatu saat kamu akan melewati
pintu itu lagi. Kamu memang melewatinya, dan saya yang dengan kasar, mengusirmu
agar segera berlalu dari sana.
Lucky, kita
berdua tahu, betapa sulitnya berjalan berdua dengan banyak rasa curiga, tidak percaya. Terutama kamu, kamu sangat insecure. Bukan sebentar kita menjual kebahagiaan untuk hanya
sekedar meyakinkan kita berdua, bahwa di tangan kita berdua akan baik-baik
saja.
Melewati semua
yang tidak mudah denganmu adalah bangku sekolah yang sangat mahal. Dengan
tingkat yang kita ciptakan sendiri tahun demi tahun. Empat tahun bersama, kita
berubah dari yang tadinya masih anak-anak menjadi dua orang yang sedang belajar
dewasa. Sifat dan sikapmu yang bening membuatku berkaca, bahwa sabar itu tidak
pernah berbatas. Kasih sayang dan caramu melayani serupa daun yang lembut jatuh
tepat di tubuhku. Melihatkan pada dahan-dahan, bahwa daun yang jatuh, mampu
membuat angin merasa sempurna.
Namun pada
akhirnya, kita berdua menyerah pada keadaan yang sama-sama kita takutkan. Kita berdua kehausan karena lelah. Lalu, kita harus
menyerah untuk sekedar melepaskan dahaga yang panjang. Saya dan kamu tahu,
dahaga itu hanya butuh dibasuh oleh kepercayaan kita sendiri. Lucky, sampai
hari ini saya masih membayangkan. Seandainya saja, kejadian-kejadian bodoh masa
lalu itu tidak pernah terjadi, mungkin kita sudah sampai pada tujuan kita
berdua. Seandainya saya dan kamu tidak teranjur membenci, seandainya kita tidak terlanjur saling menyerang.
Di bulan yang
seharusnya menjadi milik kita berdua, saya berharap, semoga kita bisa saling
melepaskan diri dan menerima. Saya mendoakanmu selalu dilimpahkan kebaikan,
usia yang panjang, dan kehidupan yang berbahagia. Saya berjanji, jika nanti
kita bertemu lagi, saya tidak akan pernah mengingat-ingat doa-doa lain sebelum
hari ini. Dan jika waktu yang tidak sengaja nanti mempertemukan kita, akan saya
kenalkan kepadamu, pendamping hidup saya yang begitu saya cintai.
Selamat jalan Lucky. Bahagia hidup kita ternyata milik semua orang. Bukan
milik kita berdua. Baik-baik menjalani semuanya ya. Ini bagian paling terakhir dari saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar