Senin, 21 Desember 2009

Lukman Adhi Nugroho



"Sebuah cangkir tidak selalu bisa memilih tatakan terbaiknya."

Andaikan saya adalah sebuah cangkir tanpa tatakan, yang lusuh dan hampir saja retak, dia telah datang menjadi yang terbaik bagi cangkir sejati. Saya memang tidak pernah berdoa pada Tuhan untuk menurunkan sosok yang sempurna. Saya hanya minta, “datangkan yang terbaik untuk saya, Ya Tuhan.”

 Dan Tuhan Maha Baik menurunkannya dalam raga seorang pria. Yang saat ini menjadi teman, sahabat, juga lawan yang seimbang. Entah iya atau bukan, tetapi, dia adalah tatakan cangkir terbaik yang gelas saya miliki. Yang menuangkan air hangat di kala saya kedinginan. Juga menghapus haus dahaga saat saya berjalan di padang pasir yang begitu tandus. Maka kepadanya, semua tetes air ini akan mengalir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar