"Sebuah cangkir tidak selalu bisa memilih tatakan terbaiknya."
Andaikan saya
adalah sebuah cangkir tanpa tatakan, yang lusuh dan hampir saja retak, dia telah
datang menjadi yang terbaik bagi cangkir sejati. Saya memang tidak pernah berdoa
pada Tuhan untuk menurunkan sosok yang sempurna. Saya hanya minta, “datangkan
yang terbaik untuk saya, Ya Tuhan.”
Dan Tuhan Maha Baik menurunkannya dalam raga
seorang pria. Yang saat ini menjadi teman, sahabat, juga lawan yang seimbang. Entah
iya atau bukan, tetapi, dia adalah tatakan cangkir terbaik yang gelas saya
miliki. Yang menuangkan air hangat di kala saya kedinginan. Juga menghapus haus
dahaga saat saya berjalan di padang pasir yang begitu tandus. Maka kepadanya,
semua tetes air ini akan mengalir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar